Liputan6.com
Sejumlah gadis sekolah Chibok menunggu untuk bertemu Presiden Muhammadu Buhari di Abuja, Nigeria (7/5). 82 gadis yang dibebaskan itu ditemukan dekat kota Banki di Negara Bagian Borno, dekat perbatasan dengan Kamerun. (AP Photo/Olamikan Gbemiga)
Abuja - Nigeria
memiliki jumlah perkawinan anak terbesar di Afrika. Praktik ini paling
lazim terjadi di bagian utara, di mana kelompok-kelompok
ekstremis-konservatif dengan kukuh menentang upaya menjadikan perkawinan
anak sebagai tindakan kriminal.
Sampel kasus tercermin pada kedua anak perempuan Nigeria berikut ini.
Beberapa bulan lalu Rahmatu dan Naja'atu tidak saling mengenal.
Tetapi persamaan kondisi yang mereka hadapi, menyatukan keduanya. Kedua
gadis itu berusia 14 tahun.
"Saya dipaksa kawin. Itulah sebabnya saya melarikan diri. Saya tidak
mencintainya dan saya tidak mengenalnya. Saya belum pernah bertemu
dengannya. Tanggal perkawinan ditetapkan dan pada malam sebelum
perkawinan dilangsungkan, saya melarikan diri," tutur Rahmatu seperti
dikutip dari VOA Indonesia (23/3/2018).
Rahmatu dan Naja'atu tinggal di rumah anak-anak itu di Kaduna. Mereka
tidak mau kembali ke desa mereka yang terletak jauh di utara.
Di desa-desa seperti itu, di bagian utara Kaduna, anak-anak perempuan
umumnya dikawinkan pada usia sangat remaja, tidak peduli mereka
bersedia atau tidak.
Padahal, Rahmatu dan Naja'atu, mereka ingin tetap berada di Kaduna
supaya bisa bersekolah. Mereka berharap keluarga mereka akhirnya akan
memaafkan mereka karena melarikan diri dari jerat pernikahan dini di Nigeria.
Ada Hukum yang Melarang, Namun Tak Diratifikasi
Di tingkat pemerintah federal, Nigeria telah melarang perkawinan anak, seperti yang diatur dalam UU Hak-Hak Anak Tahun 2003.
Undang-undang itu mewajibkan agar kedua pihak – laki-laki dan perempuan – setidaknya berusia 18 tahun sebelum boleh menikah.
Tetapi, sebagian besar negara bagian di utara tidak meratifikasinya
-- mengingat prinsip otonomi daerah yang begitu independen bagi negara
bagian di Nigeria.
(Liputan6.com)
Internasional