- Home
- Internasional
- Pengamat Politik Internasional Tanggapi soal Penangkapan WNI di Turki
Internasional
Pengamat Politik Internasional Tanggapi soal Penangkapan WNI di Turki
Senin, 13 Jun 2016 12:30
JAKARTA – Seorang pengamat politik internasional dan pemerhati politik Turki, Arya Sandiyudha Ph.D membuka suara terkait penangkapan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga terlibat dalam organisasi terlarang di Turki.
Arya yang pada 2014 menjabat sebagai Ketua PPI Turki itu mengatakan bahwa memang benar ada mahasiswa asal Indonesia yang ditangkap di Turki. Namun, ia menegaskan bahwa kita (warga Indonesia) harus mengerti mengenai situasi politik yang ada di Turki.
"Ini ada situasi politik khusus di Turki. Kita tahu Maret 2016 ada 35 korban jiwa akibat bom di Ankara, lima korban jiwa di Istanbul. Februari 2016 ada 28 korban jiwa di Ankara. Januari 2016 ada 12 WN Jerman korban jiwa di Istanbul," kata Arya kepada Okezone, Senin (13/6/2016)
"Oktober 2015 lebih 100 korban jiwa di Ankara. Jadi Pemerintah Turki sangat sensitif dengan instabilitas politik dan keamanan. Jadi, WNI kita ditangkap dalam konteks situasi itu dan masih pendalaman, belum terbukti ia adalah bagian dari ancaman," papar Arya.
Arya juga menjelaskan bagaimana situasi politik di internal Turki yang menempatkan beberapa kelompok kritis (terhadap pemerintahan Erdogan) sebagai oposisi. Sesuai dengan penjelasan Arya, banyak kasus jurnalis, netizen hingga politikus yang ditangkap oleh pihak berwajib Turki karena dianggap meledek Presiden Erdogan.
Namun, terkait penangkapan HL yang diduga terlibat dalam kelompok Hizmet atau yang dikenal dengan istilah 'Gulen Movement', Arya menuturkan bahwa HL tampaknya berada dalam kegiatan kelompok tersebut hanya untuk kajian Islam Sufi tradisionalnya.
"Stabilitas dalam situasi politik khusus di Turki ini menempatkan beberapa kelompok kritis sebagai oposisi. Termasuk gerakan yang disebut diikuti oleh mahasiswa kita. Gerakan ini punya dua aspek menonjol: kajian Islam Sufi tradisionalis dan kegiatan pendidikan sosial, dan yang ketiga aspek aktivitas para elitnya," ujar Arya.
"Konflik di Turki antara mereka dengan pemerintah sebenarnya ada di wilayah isu politiknya yang melibatkan elit dan aktivis utama gerakan ini di Turki. Sepemahaman Saya, sangat mungkin mahasiswa kita hanya terlibat di satu atau dua aspek pertamanya (kajian Sufi dan kegiatan pendidikan sosial)," tambah Arya. (okezone.com)
Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses
Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v
Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm
Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat
Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah
Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga
Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito
Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me
Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener