Berita satu.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu di pangkalan udara AS di Alaska pada Jumat (15/8/2025) untuk membahas perang Ukraina.
Pertemuan puncak ini menjadi yang pertama antara presiden AS dan Rusia yang sedang menjabat dalam lebih dari empat tahun. Harapan tinggi menyertai agenda tersebut, namun perbedaan pandangan Moskow dan Kyiv soal jalan keluar konflik masih sangat lebar.
Kunjungan ini juga menandai kehadiran pertama Putin ke negara Barat sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022, sekaligus kunjungan perdananya ke AS dalam satu dekade.
Bagi Putin, pertemuan ini adalah peluang untuk menegaskan tuntutan garis keras Rusia. Dalam rencana perdamaian yang dipublikasikan Juni lalu, Moskow menuntut Ukraina menarik pasukan dari Kherson, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Donetskā"wilayah yang diklaim dianeksasi pada 2022. Ukraina telah menolak tuntutan ini.
Rusia juga ingin Ukraina menghentikan mobilisasi militer, meninggalkan rencana bergabung dengan NATO, serta mendesak negara Barat menghentikan pasokan senjata. Selain itu, Moskow meminta pencabutan sanksi dan jaminan hak penduduk berbahasa Rusia, termasuk larangan yang mereka sebut sebagai āglorifikasi Nazismeā.
Ukraina menolak tuduhan soal Nazisme dan menegaskan telah menjamin hak warga berbahasa Rusia.
Sikap Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak dijadwalkan hadir, namun menegaskan tidak akan ada kesepakatan damai tanpa keterlibatan Kyiv. Ia menyebut KTT tersebut sebagai ākemenangan pribadiā Putin.
Ukraina menginginkan gencatan senjata tanpa syarat di darat, laut, dan udara sebelum memulai perundingan. Kyiv juga menuntut pembebasan seluruh tawanan perang dan pemulangan anak-anak yang diduga diculik Rusia. Ukraina menuduh Moskow memindahkan ribuan anak secara paksa, mengadopsi mereka ke keluarga Rusia, dan memberi kewarganegaraan Rusia.
Bagi Ukraina, setiap kesepakatan harus disertai jaminan keamanan untuk mencegah agresi ulang, tanpa pembatasan jumlah pasukan. Sanksi terhadap Rusia, kata Kyiv, hanya dapat dicabut secara bertahap dengan mekanisme pemberlakuan kembali jika diperlukan.
Posisi AS
Trump pernah berjanji mengakhiri perang dalam ā24 jamā setelah menjabat Januari lalu. Namun, delapan bulan kemudian, upaya diplomasi termasuk kunjungan utusan AS Steve Witkoff ke Moskow belum membuahkan konsesi berarti dari Kremlin.
Pertemuan di Alaska menjadi kesempatan pertama Trump menengahi langsung. Meski sempat menyebut kemungkinan āpertukaran lahanā sebagai bagian kesepakatan, ia tampaknya mundur setelah berdiskusi dengan para pemimpin Eropa. Trump kini menegaskan keinginannya untuk melihat gencatan senjata ādengan sangat cepatā.
Gedung Putih meredam ekspektasi terobosan, menyebut pertemuan ini sebagai ālatihan mendengarkanā. Trump juga membuka kemungkinan Zelenskyy akan diundang pada pertemuan puncak berikutnya jika pertemuan awal berjalan baik.
Kekhawatiran Eropa
Para pemimpin Eropa, meski memberikan dukungan militer dan menampung jutaan pengungsi Ukraina, dikesampingkan dari pembicaraan yang bisa memengaruhi keamanan kawasan. Mereka tidak diundang dalam tiga pertemuan terakhir Rusia-Ukraina di Istanbul, maupun pembicaraan Rusia-AS di Riyadh, Februari lalu.
Dalam pernyataan bersama pekan lalu, para pemimpin Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Polandia, Finlandia, dan Komisi Uni Eropa menegaskan tidak akan ada perdamaian berarti tanpa partisipasi Ukraina.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa isu teritorial Ukraina hanya dapat dinegosiasikan oleh presiden Ukraina. Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan menyatakan kesiapan mengerahkan pasukan penjaga perdamaian pascaperangā"a wacana yang ditolak tegas oleh Rusia.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Internasional