Minggu, 14 Jun 2026
Belajar dari Superspreader Corona di Berbagai Negara Episentrum, Masih Berani Mudik?
admin
Selasa, 31 Mar 2020 13:10
Fenomena mudik lebih awal saat ini ramai menjadi pemberitaan. Ribuan orang dari Jabodetabek pulang ke kampung halaman setelah status Tanggap Darurat Jakarta.
Dalam rapat terbatas di Istana Bogor, Presiden Jokowi mengatakan, berdasarkan laporan dari Gubernur Jawa Tengah dan Gubernur DIY, sekira 14 ribu orang dari Jabodetabek mudik lebih awal dalam 8 hari terakhir menggunakan trasportasi bus.
Padahal, di tengah pandemi COVID-19 ada banyak superspreader atau orang yang bisa menularkan COVID-19 kepada lebih dari satu orang tanpa disadari.
Juru Bicara Penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto mengatakan, kelompok usia muda dengan imunitas bagus sering tidak sadar bisa jadi penyebar COVID-19 atau superspreader, bahkan seperti tanpa gejala minim.
“Data yang kita miliki dan data secara global, memang pada kelompok usia muda memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik. Namun harus dipastikan bahwa bukan berarti kelompok muda ini tidak bisa terkena. Mereka bisa terkena dan bahkan tanpa gejala,” kata Yuri dikutip dari laman resmi Kemenkes.
Tanpa gejala inilah yang menjadi salah satu faktor persebaran yang semakin cepat. Yang bersangkutan tidak menyadari telah terjangkit Covid-19 dan tidak melakukan isolasi mandiri dirumah.
“Inilah menjadi hal yang mendasar sehingga persebarannya semakin cepat. Apabila ini menular ke saudara-saudara kita yang usianya lebih tua dan rawan maka ini akan menjadi masalah yang serius untuk keluarga kita,” jelasnya.
Karenanya, Yuri meminta agar kelompok muda memahami benar risiko ini sehingga upaya pencegahan terhadap penularan dan persebaran bisa terus dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan. “Meskipun masih merasa muda masih merasa kuat, perhatikan betul bahwa kita menjadi salah satu sumber penularan bagi keluarga kita.”
Yuri mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama, berkomitmen penuh melaksanakan imbauan pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. “Oleh karena itu patuhi benar imbauan dari pemerintah untuk lebih banyak dirumah dan semaksimal mungkin tidak keluar rumah, ini yang menjadi penting untuk melakukan pencegahan,” imbuhnya.
Superspreader
Mungkin kalau dibaca superspreader terdengar keren, tetapi maknanya jelas berbeda dengan superhero. Superspreader bukanlah penolong, tetapi justru penyebar petaka dalam hal ini COVID-19. Ironisnya, sang superspreader tidak sadar sudah menjadi penyebar petaka tersebut.
Praktisi kesehatan dan peneliti MRI di salah satu rumah sakit umum di Singapura, Septian Hartono menjelaskan mengenai apa yang dimaksud superspreader.
“Superspreader adalah sebutan bagi orang yang menyebabkan orang lain sakit dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya Data [WHO] menyebutkan bahwa orang yang sakit Covid-19 dapat menyebabkan 2-3 orang lain sakit. Namun, seorang superspreader Covid-19 dapat menularkan kepada 10 orang sampai puluhan kali lipat dibanding orang biasa,” ujarnya
Contoh kasus dari superspreader pun sudah banyak di beberapa negara. Berikut yang dikutip dari berbagai sumber :
Pasien 1 di Lombardia Italia
Dia bertemu dengan temannya yang baru pulang dari Tiongkok pada 21 Januari 2020. Pada 14 Februari, dia mulai merasa sakit dan pergi ke dokter. Dua hari berselang kondisinya memburuk, sehingga memutuskan pergi ke rumah sakit. Sayangnya, dia dirawat layaknya pasien biasa.
Beberapa hari kemudian, pasien 1 di Lombardia ini dinyatakan positif COVID-19, tetapi sudah terlambat. Karena awalnya tidak diisolasi, pasien-pasien lain dan staf di rumah sakit juga akhirnya terinfeksi.
Kondisi memburuk setelah dilaporkan pasien 1 tersebut memiliki aktif secara sosial sebelum dirawat. Mudah ditebak, puluhan orang sakit karena berinteraksi dengannya, yang kemudian menularkan ke orang-orang lainnya.
Pasien 31 di Korea
Pasien 31 di Korea Selatan yang menjadi pembuka sarang penularan lokal di Daegu dan Cheongdo. Dia adalah salah satu orang pengikut sekte Shincheonji.
Pasien 31 menjadi penyebar secara langsung ke 43 orang pengikut sekte Shincheonji. Dia hadir empat kali dalam kebaktian saat kondisi tidak sehat. Sekali kebaktian, ada 1.000 orang yang hadir. Selama kebaktian para penganutnya duduk bersimpuh, berbagi makanan, dan yang sakit tidak menggunakan masker.
Segera sesudah Pasien 31 ini terkonfirmasi positif, otoritas Korsel langsung melakukan tes terhadap anggota-anggota gereja Shincheonji, dan langsung menemukan banyak kasus positif.
Otoritas Korsel kemudian memperluas kriteria testing dan melakukan testing secara agresif, bahkan membuka klinik drive-thru di mana seseorang bisa diambil spesimennya lalu langsung pergi lagi. Hasilnya bisa didapatkan dalam waktu satu hari. Per 9 Maret, Korsel sudah melakukan lebih dari 200.000 tes.
Hasilnya: Per 9 Maret, 75% dari jumlah kasus COVID-19 di Korsel berada di kota Daegu (5.663 dari 7.513 kasus) dan 15% di provinsi Gyeongsangbuk (1.117 kasus).
Pasien 94 di Singapura
Meski telah menunjukkan gejala COVID-19 sejak 11 Februari, pasien 94 masih menghadiri acara di SAFRA Jurong 15 Februari. Dampaknya, pasien 94 menjadi penyebar langsung ke beberapa orang di acara tersebut. Selain itu, dari acara tersebut sudah terjadi penularan sekunder ke orang-orang lain yang ditotal ada 36 otang di kluster ini per 10 Maret.
Pasien 26 di Malaysia
Selanjutnya ada pasien 26 Malaysia yang memiliki riwayat ke Tiongkok Januari, namun baru melaporkan gejala pada akhir Februari. Setelah dinyatakan positif COVID-19, otoritas Malaysia melakukan tracing sehingga menemukan banyak kasus lain. Hasilnya, per 8 Maret pasien 26 di Malaysia ini terkait dengan 70 kasus lain. Kluster ini sendiri mencakup lebih dari 70 persen kasus di Malaysia.
Kisah superspreader ini tentu bisa menjadi pelajaran semua negara, termasuk orang-orang di Indonesia. Taatilah protokol kesehatan dari pemerintah jika menunjukkan gejala.
Sumber: Okezone.com
komentar Pembaca