Lifestyle
Jelang Ramadan, Ini 4 Tradisi Unik yang Dilakukan Masyarakat Indonesia
Sabtu, 12 Mei 2018 14:30
TAK terasa bulan suci Ramadan sudah di depan mata. Untuk menyambut bulan yang penuh rahmat ini, masyarakat Indonesia kerap melakukan tradisi yang telah dilakukan turun temurun dengan keunikan dan ciri khas mereka masing-masing. Misalnya tradisi Balimau atau mandi dengan limau (jeruk nipis) yang dilakukan oleh masyarakat Minang di Sumatera barat.
Untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa saja tradisi-tradisi unik jelang Ramadan di Indonesia, berikut Okezone rangkumkan beberapa di antaranya, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (12/5/2018).
Nyadran, Jawa
Tradisi ini biasa juga disebut dengan istilah nyekar dan umumnya dilakukan oleh masyarakat di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun seiring berkembangnya zaman, hampir seluruh daerah di Indonesia melakukan tradisi nyekar menjelang bulan puasa. Ditilik dari asal usulnya, nama nyadran diambil dari bahasa sansekerta yang berarti sraddha atau keyakinan. Tradisi tersebut dilakukan dengan cara mengunjungi, membersihkan, serta berdoa di makan keluarga terdekat atau orang tua.
Balimau, Sumatera Barat
Balimau atau mandi dengan air limau ini merupakan tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat minang di Suamtera Barat. Tradisi tersebut biasanya dilakukan sehari sebelum masuknya Ramadhan. Selain jeruk nipis, ada beberapa bahan lain yang sering digunakan dalam prosesinya, yaitu daun pandan, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu. Seluruh bahan kemudian dimasukkan ke dalam air hangat hingga akhirnya dikenal dengan istilah balimau. Meski di warnai pro dan kontra, tradisi ini masih sering dilakukan setiap tahunnya.
Megibung, Bali
Meski Bali dihuni oleh mayoritas penduduk non Muslim, namun masyarakat yang tinggal di daerah Karangasem memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Mereka kerap melakukan sebuah tradisi turun temurun yang dikenal dengan sebutan megibung. Masyarakat biasanya akan berkumpul dan duduk bersila sambil membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran itulah tersaji nasi beserta lauk-pauk yang akan disantap bersama-sama.
Dugderan, Semarang
Selain nyekar, masyarakat Semarang ternyata memiliki tradisi unik untuk menyambut bulan Ramadhan yaitu, tradisi dugderan. Kabarnya, tradisi ini telah dilakukan sejak abad 19 dan ditandai dengan karnaval, arak-arakan, hingga tabuhan bedug yang akan menghiasi sepanjang jalan di kota Semarang. Kegiatan tersebut juga akan dimeriahkan oleh maskot dugderan yang dinamakan warak ngendog atau kambing berkepala naga dengan sisik berwarn-warni, lalu disisipi telur rebus. Kenapa telur rebus? Menurut sejarah, telur rebus merupakan penanda penyelenggaraan dugderan untuk pertama kalinya ketika Semarang tengah menghadapi krisis pangan. Pada saat itu telur termasuk dalam kategori makanan mewah.
(okezone.com)
Lifestyle
Dandim 1710/Mimika Ajak Warga Jaga Persaudaraan dalam Prosesi Perdamaian Perang Suku di Kwamki Narama
Mimika-Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf Jozanda, hadir dan mengawal langsung prosesi perdamaian perang suku yang berlangsung di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Rabu (24/6/2026). Kehadiran Dandi
Kodim 1714/PJ dan Polri Berikan Dukungan Penuh Bersama Pemda Kab. Puncak Jaya Dalam Penyerahan SK Pengangkatan CPNS Formasi Tahun 2024
Puncak Jaya-Bertempat di Lapangan Alun-Alun Roh Kudus, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah, telah dilaksanakan kegiatan Pembagian dan Penyerahan Surat Keputusan (SK) Pengang
Berkacamata Hitam dan Masker, Aliansi Rakyat Sulsel Demo Dukung MBG Dilanjutkan
Sejumlah emak-emak yang masuk dalam pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut berpartisipasi dalam aksi demonstrasi yang dilakukan Aliansi Rakyat Sulsel untuk mendukung program Makanan Berg
Duduk Perkara Warga di Labuhanbatu Utara Tewas Dianiaya Usai Dituding Curi Sawit
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatra Utara mengungkap kronologi kematian Luis David Hutabarat (32), warga Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumut, yang diduga mengalami p
Kejagung Selamatkan Uang Negara Rp 131,5 Triliun
Jakarta - Kejaksaan Agung (Kejagung) mencatat telah menyelamatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 131,5 triliun melalui penanganan perkara tindak pidana khusus sepanjang periode 2020 hingga 2026.J