Rabu, 03 Jun 2026

Food

Menelusuri Jejak Sejarah Kuliner di Indonesia

Jumat, 28 Okt 2016 09:34
Thesmartlocal
Kuliner Indonesia

INDONESIA memang negara yang kaya raya. Selain memiliki kekayaan alam dan potensi pariwisata, Indonesia juga terkenal dengan kekayaan kulinernya. Tak heran bila Indonesia memiliki sajian dengan cita rasa terbanyak dari seluruh negara di dunia. Perpaduan lima rasa, asam, asin, manis, pedas, dan gurih terasa begitu nikmat dan menggoda lidah dalam sajian kuliner Indonesia. Kuliner yang dimiliki Indonesia juga muncul karena faktor sejarah latar belakang di baliknya.

Asal muasal jejak kuliner di Tanah Air memang sangat menarik dan unik. Beragam kekayaan kuliner yang ada di Tanah Air mulai dari makanan pembuka, makanan berat, minuman hingga makanan penutup pun memiliki ragam yang luar biasa baik dari segi bentuk, rasa hingga teksturnya.

Beberapa negara yang pernah hinggap di Indonesia inilah yang memegang andil perpaduan cita rasa kuliner di Tanah Air. Sebut saja Portugis, Belanda, Jepang, Pakistan, Iran, China, hingga daratan Eropa kala itu terus berburu ke Indonesia yang kaya akan rempah-rempah hingga hasil lautnya.

Idealnya, sejarah kekayaan kuliner di Indonesia ini ditelusuri, diabadikan, dan dipelihara. Setidaknya dengan memiliki catatan biografi soal kehadiran kuliner di Indonesia kian menguatkan identitas kuliner Indonesia, bahkan meminimalisir adanya klaim dari negara lain khususnya Malaysia.

Kuliner Betawi

Betawi atau Jakarta ini memiliki segudang kuliner yang terkenal lezat. Tapi, dengan dibombardir kehadiran masakan internasional membuat kuliner Betawi seakan terlupakan. Padahal, dari sisi cita rasa jauh lezat ketimbang kuliner Internasional.

Sejarawan Betawi, JJ Rizal, menuturkan kuliner memiliki nilai sama dengan produk kebudayaan lain. Di dalam kuliner ada kearifan lokal, artefak budaya yang menyimpan sejarah. Diakuinya, kecap, misalnya, kental diadaptasi dan dimodifikasi dari budaya Tiongkok.

"Dalam perkembangannya, kecap digunakan sebagai bumbu semur daging kerbau yang disajikan warga Betawi saat Lebaran," jelasnya.

Menurutnya, jika Sumatera Barat menggunakan daging sapi untuk asupan proteinnya, lain halnya dengan Betawi yang lebih memilih daging kerbau.

Menurutnya, daging kerbau diambil dari tradisi Islam. "Kuliner Betawi ada unsur China yakni penggunaan kecap pada masakan semur betawi. Biasanya, semur kerbau dibagikan kepada tetangga saat Lebaran," paparnya.

Kemudian sentuhan China juga ada pada nasi ulam, olahan nasi ini tidak dimasak dengan santan. Ciri khasnya taburan serundeng kelapa. Kemudian diberi tempe goreng, irisan dadar telur, ketimun iris dan daun kemangi. Tidak lupa kerupuk serta bawang goreng.

"Nasi Ulam adalah bukti hadirnya pengaruh dari berbagai budaya kuliner yang pernah singgah ke Jakarta. Dendeng dan Bihun Goreng merupakan pengaruh budaya Tionghoa. Perkedel merupakan "sumbangan" Belanda," bebernya.

Selain China, ada unsur lain yang mengental pada masakan Betawi yakni dari unsur Belanda. Wajar saja bila Negeri Kincir Angin ini sangat kental pada masakan Betawi. Terlebih, Belanda sangat lama menjajah Indonesia. Salah satu kulinernya adalah kerak telor, Soto Betawi hingga Bir Pletok.

"Saat itu Jakarta banyak tumbuh pohon kelapa, dahulu kelapa melimpah. Buah kelapa sangat di manfaatkan oleh masyarakat Jakarta untuk membuat aneka masakan," bebernya lagi.

Diakuinya, bir pletok tercipta karena masyarakat etnis Betawi kerap melihat orang Belanda suka minum bir. Sedangkan bagi masyarakat Betawi yang notabene mayoritas muslim, minuman beralkohol haram dikonsumsi. Alhasil terciptalah bir versi orang Betawi yang sama sekali tidak bikin mabuk dan tentunya bebas alkohol.

Ya, meski menggunakan kata 'bir', namun minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Justru termasuk dalam minuman sehat karena terbuat dari bermacam rempah berkhasiat. Seperti jahe, kayumanis, cengkeh, biji pala, kayu secang dan bahan lainnya.

Kemudian direbus dalam panci hingga sari dari rempah keluar sempurna dan berpadu dengan rebusan air. "Bir pletok bisa diminum siapa saja dan kapan saja. Paling enak dinikmati dalam keadaan dingin," tuturnya.

Bengkulu

Wilayah yang masuk dalam area Sumatera ini memiliki keragaman rasa yang luar biasa, terlebih dengan berada di dekat tiga wilayah di Sumatera yakni Palembang, Jambi dan Padang menjadikan Bengkulu kaya akan kulinernya.

Pemerhati pariwisata Bengkulu, Maya Miranda Ambasari mengatakan bila kuliner Bengkulu diadaptasi dari beberapa negara yang pernah singgah sebut saja Pakistan, Iran, Jepang, Inggris, Belanda.

Kebanyakan kehadiran di Bengkulu sebatas mengincar lada dan kopi untuk diambil maupun dibeli dengan sistem barter pada kala itu. Salah satu kuliner yang dimiliki memiliki kesamaan dengan wilayah lain di Sumatera adalah tempoyak.

Menurutnya, tempoyak sudah menjadi salah satu makanan khas seluruh etnis masyarakat Bengkulu. Hanya saja tempoyak yang terbuat dari fermentasi durian yang memiliki keasaman dan aroma yang tidak terlalui disukai pengkonsumsinya.

Menurut sejarah, tempoyak diriwayatkan dalam Hikayat Abdullah sebagai makanan sehari-hari penduduk Terengganu. Kala itu, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi berkunjung ke Terengganu (sekitar 1836), ia mengatakan bahwa salah satu makanan kegemaran penduduk setempat adalah tempoyak.

"Berdasarkan sejarah yang ada dalam Hikayat Abdullah, tempoyak merupakan makanan khas dari Malaysia," bebernya lagi.

Lalu ada pula Bagar Hiu, makanan ini memang berbahan ikan Hiu, biasanya masyarakat menggunakan Hiu jenis punai ataupun Hiu tanduk karena aroma dari ikan Hiu jenis tersebut tidak terlalu amis dan kulitnya terbilang lembut ketimbang Hiu jenis lainnya.

Bagar Hiu terbuat dari bahan daging ikan Hiu, ketumbar bulat, pala, cengkeh, lada, kayu manis, asam jawa, lengkuas, cabai, bawang putih dan merah serta kelapa goreng yang berfungsi untuk mengentalkan masakan Bagar Hiu.

"Makanan ini dahulu teradopsi dari kebiasaan bangsa Eropa yang datang ke Bengkulu dengan memanfaatkan ikan hiu sebagai pengganti ikan laut lainnya. Dahulunya, bumbu yang dipakai yakni rempah-rempah karena memang Bengkulu kaya rempah-rempah khususnya lada," paparnya.

Sumatera Barat

Kuliner yang ada di wilayah Indonesia bagian Barat ini memang sudah dikenal mendunia. Tilik saja rendang yang diakui kelezatannya oleh CNN pada 2011. Bahkan, negara tetangga Indonesia yakni Malaysia pernah mengklaim bila rendang adalah makanan asli negaranya. Dengan diakui kelezatan di dunia oleh CNN maka secara resmi pun bila dunia tahu jika rendang milik Indonesia.

Lalu, pertanyaannya dari manakah asal muasal rendang? Ini jawabannya. Jaman dahulu, belum ada transportasi yang mudah seperti jaman sekarang ini. Di mana, masyarakat Minang harus berjalan kaki untuk bepergian jauh menuju Selat Malaka hingga ke negeri tetangga. Perjalanan tersebut harus dilalui dengan jalur darat dan jalur air.

"Rendang itu dibuat karena dahulunya masyarakat Minang khususnya harus membawa makanan yang bisa bertahan lama, apalagi dalam melakukan perjalanan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Oleh karena itulah rendang itu tercipta," jelas pemerhati kuliner Indonesia, William Wongso kepada Okezone.

Dengan memiliki beragam bumbu rempah, maka rendang pun muncul tak terlepas dari adopsi kehadiran bangsa Arab dan India di kala itu. Terlebih, hingga kini pun banyak masyarakat Arab dan India tinggal menetap di Sumatera Barat. Selain itu, banyak pula yang menganggap bila rendang Indonesia dengan Malaysia memiliki kemiripan padahal proses pemasakannya berbeda.

"Rendang Indonesia memiliki kekentalan pada bumbu yang dimasak dengan proses perlahan dalam waktu lama. Alhasil, rendang Indonesia tak memiliki kuah pada rendangnya. Sedangkan rendang Malaysia tak dimasak terlalu lama, terdapat kuah di dalam rendangnya. Masakan ini kerap disebut kalio," paparnya.

Selain rendang, makanan Padang dikenal dengan kepedasannya. Padahal, karakter masakan Padang yang pedas ini memiliki arti tersendiri.

Diakuinya, kebanyakan di Sumatera Barat dipenuhi dengan area dataran tinggi. Udara dingin sangat kental di Sumatera Barat khususnya di Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Singgalang serta beberapa wilayah lainnya di Sumatera Barat.

"Karena di Sumatera Barat didominasi udara dingin maka buat menghangatkan badan dibutuhkan sesuatu yang menimbulkan rasa hangat untuk mengeluarkan keringat. Cara alami yang harus dilakukan adalah menggunakan cabai. Jangan heran, bila di Sumatera Barat memiliki beragam jenis olahan cabai," tukasnya. (Okezone.com)
Lifestyle
Berita Terkait
  • Selasa, 17 Mar 2026 14:58

    Lagi Tren, Ini 5 Tips Membuat Hampers Lebaran yang Menarik dan Berkesan

    JAKARTA - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi berbagi hampers Lebaran semakin populer. Hampers sering dijadikan bentuk perhatian kepada keluarga, sahabat, hingga rekan kerja. Selain bisa dibe

  • Senin, 16 Mar 2026 15:21

    Anak Tantrum akibat Pembatasan HP, Ini 4 Cara Menghadapinya

    JAKARTA - Menghadapi anak yang sedang tantrum akibat pembatasan penggunaan handphone sering kali menjadi tantangan bagi banyak orangtua. Terdapat 4 cara agar hubungan tetap hangat dan anak merasa dipa

  • Senin, 16 Mar 2026 15:17

    Viral Gadis 22 Tahun Dijodohkan dengan Pria 65 Tahun, Komentar Nitizen Jadi Sorotan

    JAKARTA - Viral seorang gadis berusia 22 tahun dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria yang terpaut usia 43 tahun karena dinilai mapan dan berstatus juragan di kampung halamannya. Kisah ini pun menja

  • Sabtu, 14 Mar 2026 14:18

    Mengenal Fenomena Fake Rich yang Viral di Media Sosial

    JAKARTA  - Fenomena fake rich belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang menampilkan gaya hidup mewah di internet meskipun kondisi keuangannya

  • Sabtu, 07 Mar 2026 14:31

    Literasi Digital dan Peran Keluarga Dinilai Penting untuk Lindungi Anak di Ruang Digital

    JAKARTA - Pemerintah berencana memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital atau PP Tunas pada akhir Maret 2026. Regulasi ini dinilai sebagai langka

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.