Selasa, 26 Mei 2026
  • Home
  • Lifestyle
  • Literasi Digital dan Peran Keluarga Dinilai Penting untuk Lindungi Anak di Ruang Digital

Lifestyle

Literasi Digital dan Peran Keluarga Dinilai Penting untuk Lindungi Anak di Ruang Digital

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 07 Mar 2026 14:31
(FotoOkezone.com)
JAKARTA - Pemerintah berencana memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital atau PP Tunas pada akhir Maret 2026. Regulasi ini dinilai sebagai langkah penting untuk memperkuat perlindungan anak di dunia digital.

Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar penerapannya dilakukan secara matang. Tujuannya agar kebijakan tersebut benar-benar melindungi anak tanpa membatasi hak mereka dalam memanfaatkan ruang digital secara positif.

Kepala Divisi Kesetaraan dan Inklusi Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Aseanty Pahlevi menilai perumusan aturan pelaksana PP Tunas perlu dilakukan secara hati-hati.
Menurutnya, kebijakan tersebut harus disusun secara proporsional agar tidak menghambat hak anak untuk mengakses informasi, berekspresi, dan berinteraksi di ruang digital.

Ia juga mengingatkan bahwa pembatasan yang terlalu ketat justru berpotensi membuat anak-anak berpindah ke platform yang kurang aman dan tidak memiliki sistem pengawasan memadai.

“Pemerintah perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian serta melibatkan berbagai pihak agar perlindungan anak dapat dilakukan secara menyeluruh,” ujar Aseanty di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Literasi Digital dan Peran Keluarga
PP Tunas merupakan kebijakan yang digagas untuk memperkuat perlindungan anak saat beraktivitas di internet. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa aturan tersebut beserta regulasi turunannya akan mulai berlaku pada 28 Maret 2026.

Brand and Communication Manager Save the Children Dewi Sumanah menilai regulasi saja tidak cukup untuk memastikan keamanan anak di ruang digital. Ia menekankan pentingnya peningkatan literasi digital, khususnya bagi para orang tua.

Menurut Dewi, selama ini masih banyak orang tua yang belum terlibat aktif dalam mengawasi aktivitas digital anak. Karena itu, penguatan literasi digital bagi keluarga menjadi kunci penting dalam upaya perlindungan.

Selain keluarga, lingkungan pendidikan dan komunitas juga dinilai memiliki peran besar dalam membangun ekosistem digital yang aman bagi anak.

“Anak tetap membutuhkan akses digital untuk belajar dan berkembang. Karena itu, seluruh ekosistem di sekitarnya perlu dilibatkan dalam upaya perlindungan secara preventif,” ujarnya.

Pentingnya Sosialisasi Regulasi
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi juga menyoroti pentingnya sosialisasi yang luas sebelum PP Tunas diterapkan.

Ia menilai masyarakat perlu memahami secara jelas aturan yang akan berlaku, termasuk hal-hal yang diperbolehkan maupun yang dibatasi dalam penggunaan ruang digital oleh anak.

Heru bahkan mengusulkan adanya forum seperti seminar atau simposium nasional yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar implementasi kebijakan dapat dipahami secara bersama.

Sementara itu, kajian dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai indikator klasifikasi risiko dalam implementasi PP Tunas perlu disusun secara jelas dan terukur.

Tanpa parameter yang jelas, terdapat potensi penerapan aturan yang tidak konsisten antarplatform digital meskipun berada dalam ekosistem yang sama.

CIPS juga menilai pemerintah perlu melibatkan pelaku industri, akademisi, serta masyarakat sipil dalam menyusun indikator teknis agar regulasi dapat diterapkan secara proporsional dan berbasis bukti.

Dari sisi pelaku usaha, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menilai implementasi PP Tunas perlu mempertimbangkan kesiapan ekosistem digital.

Organisasi tersebut merekomendasikan adanya koordinasi lintas kementerian serta masa transisi yang cukup agar platform digital dapat menyesuaikan sistem operasional mereka sebelum aturan berlaku sepenuhnya.

Hal serupa juga disampaikan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Menurut Kadin, regulasi yang dirancang secara matang, jelas, dan adaptif tidak hanya melindungi anak, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional tanpa menghambat inovasi di sektor teknologi.
Sumber: (Okezone.com)

Lifestyle
Berita Terkait
  • Selasa, 17 Mar 2026 14:58

    Lagi Tren, Ini 5 Tips Membuat Hampers Lebaran yang Menarik dan Berkesan

    JAKARTA - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi berbagi hampers Lebaran semakin populer. Hampers sering dijadikan bentuk perhatian kepada keluarga, sahabat, hingga rekan kerja. Selain bisa dibe

  • Senin, 16 Mar 2026 15:21

    Anak Tantrum akibat Pembatasan HP, Ini 4 Cara Menghadapinya

    JAKARTA - Menghadapi anak yang sedang tantrum akibat pembatasan penggunaan handphone sering kali menjadi tantangan bagi banyak orangtua. Terdapat 4 cara agar hubungan tetap hangat dan anak merasa dipa

  • Senin, 16 Mar 2026 15:17

    Viral Gadis 22 Tahun Dijodohkan dengan Pria 65 Tahun, Komentar Nitizen Jadi Sorotan

    JAKARTA - Viral seorang gadis berusia 22 tahun dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria yang terpaut usia 43 tahun karena dinilai mapan dan berstatus juragan di kampung halamannya. Kisah ini pun menja

  • Sabtu, 14 Mar 2026 14:18

    Mengenal Fenomena Fake Rich yang Viral di Media Sosial

    JAKARTA  - Fenomena fake rich belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang menampilkan gaya hidup mewah di internet meskipun kondisi keuangannya

  • Sabtu, 07 Mar 2026 09:57

    Hari Perempuan Internasional, Ini Pentingnya Gizi untuk Wanita

    JAKARTA - Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 menjadi momentum untuk semakin peduli dan peka pada kondisi wanita, baik dari kesehatan mental hingga fisik. Salah satunya yang menjadi perhatian

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.