Lifestyle
Terungkap Efek Mengerikan dari Stres Akibat Terlalu Lama Kerja
Kamis, 24 Mei 2018 09:23
Seorang wanita mengungkap efek mengerikan yang diduga akibat stres setelah terlalu banyak bekerja. Bukan hanya sakit biasa, wanita itu bahkan mengalami kelumpuhan.
Paula, nama wanita tersebut, mengungkap kisah tak menyenangkan yang terjadi padanya karena terlalu intens bekerja. Wanita berusia 30 tahunan itu bekerja untuk sebuah konsultan strategi di London, Inggris. Paula pun mengakui jika pekerjaannya memang panjang dan berat. Selama enam bulan, wanita itu bahkan bisa bekerja hingga 80 jam per minggu tanpa libur akhir pekan.
Pada November 2016, ia mulai mendapati gejala aneh. Paula mengaku merasa pusing dan setengah wajahnya terasa kaku di satu sisi. Ia pun berencana untuk lanjut kerja seolah tidak terjadi apa-apa saja. kondisinya cukup parah hingga teman-teman Paula terkejut melihat keadaan wajahnya. Ia pun dilarikan ke rumah sakit.
"Aku keluar ruangan meeting dan beberapa kolega mendekatimu, wajah mereka benar-benar terkejut dan ketakutan," kata Paula kepada Cosmopolitan.
![]() Foto: Ilustrasi/thinkstock
|
"Walaupun episode itu sedikit menakutkan, aku tidak terlalu mempedulikan jadi keesokan paginya aku kembali bekerja. Saat itu adalah waktu tersibuk di kantor dan aku tidak ingin mengecewakan siapapun," tambahnya.
Ketika itu Paula tidak terlalu mengkhawatirkan gejala mirip stroke tersebut. Sebelumnya dokter memang memulangkan Paula dari rumah sakit karena tidak dianggap berbahaya. Tapi sebulan kemudian, ia tak lagi bisa tidak mempedulikan masalah kesehatanny akarena mulai dibarengi dengan migrain berat. Paula juga mendapati tangan dan kakinya terasa lumpuh.
Karena stres berat yang dibiarkan terlalu lama, Paula pun mulai kehilangan orientasi. "Aku mulai lupa tempat. Aku berjalan di jalanan sekitar rumahku dan aku tersesat. Itu karena stres terlalu lama. Aku bahkan mulai lupa nama beberapa teman baikku," tutur Paula.
Sejak saat itu, Paula mulai menerima perawatan, mengubah pola makan, olahraga, dan tidur cukup. Ia juga mengganti rutinitasnya menjadi tidak terlalu ekstrem. Paula pun menyesali gaya hidupnya dulu yang terlalu memikirkan pekerjaan. Ketika itu, selama tiga bulan ia memang selalu bekerja dan tidak menjaga kesehatan.
"Alasan aku tidak protes karena aku pikir aku akan terlihat lemah, bahwa aku menunjukkan kepada keluarga, teman, dan yang paling penting, bosku jika aku tidak bisa mengatasi tanggung jawab dan aku bukan pekerja top," ungkap Paula.
Kini kondisi Paula telah membaik walau ia harus membawa alat untuk menjaga agar kondisi otaknya stabil. Ia pun menyarankan agar para pekerja menyadari kebutuhan tubuh untuk istirahat. "Kita harus merasa nyaman dan aman dengan diri sendiri untuk mengangkat tangan kita dan berkata 'Aku butuh bantuan'" katanya lagi.
(detik.com)
Dandim 1710/Mimika Ajak Warga Jaga Persaudaraan dalam Prosesi Perdamaian Perang Suku di Kwamki Narama
Mimika-Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf Jozanda, hadir dan mengawal langsung prosesi perdamaian perang suku yang berlangsung di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Rabu (24/6/2026). Kehadiran Dandi
Kodim 1714/PJ dan Polri Berikan Dukungan Penuh Bersama Pemda Kab. Puncak Jaya Dalam Penyerahan SK Pengangkatan CPNS Formasi Tahun 2024
Puncak Jaya-Bertempat di Lapangan Alun-Alun Roh Kudus, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah, telah dilaksanakan kegiatan Pembagian dan Penyerahan Surat Keputusan (SK) Pengang
Berkacamata Hitam dan Masker, Aliansi Rakyat Sulsel Demo Dukung MBG Dilanjutkan
Sejumlah emak-emak yang masuk dalam pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut berpartisipasi dalam aksi demonstrasi yang dilakukan Aliansi Rakyat Sulsel untuk mendukung program Makanan Berg
Duduk Perkara Warga di Labuhanbatu Utara Tewas Dianiaya Usai Dituding Curi Sawit
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatra Utara mengungkap kronologi kematian Luis David Hutabarat (32), warga Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumut, yang diduga mengalami p
Kejagung Selamatkan Uang Negara Rp 131,5 Triliun
Jakarta - Kejaksaan Agung (Kejagung) mencatat telah menyelamatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 131,5 triliun melalui penanganan perkara tindak pidana khusus sepanjang periode 2020 hingga 2026.J
