- Home
- Lingkungan
- BKSDA Riau Temukan Jejak Baru di Lokasi Serangan Harimau Menewaskan Pekerja HTI di Pelalawan
BKSDA Riau Temukan Jejak Baru di Lokasi Serangan Harimau Menewaskan Pekerja HTI di Pelalawan
Admin
Rabu, 24 Agu 2022 13:38
PELALAWAN - Tim dari BKSDA Riau memasang lima kamera trap dan menemukan jejak baru di lokasi serangan harimau yang menewaskan wanita pekerja HTI di Pelalawan Jumat (19/8/2022) malam pekan lalu.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau sampai saat ini masih berada di lokasi serangan harimau sumatera kepada pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan tersebut.
Sebanyak enam orang tim yang diturunkan ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) tepatnya di perbatasan antara Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti dengan Desa Serapung Kecamatan Kuala Kampar, Pelalawan.
Tim terus menggali informasi terkait konflik binatang buas itu yang menewaskan korban bernama Seha Sopiana Manik (44) di areal PT Peranap Timber.
Termasuk melakukan mitigasi, sosialisasi, hingga pemasangan kamera jebak di sekitar TKP.
"Kawan-kawan tim masih di lapangan dalam rangka sosialisasi dan pemasangan kamera trap. Ada 5 kamera yang sudah terpasang," ungkap Kepala BKSDA Riau, Genman S Hasibuan melalui Kabid Wilayah l Andri Hansen Siregar kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (24/8/2022).
Andri Hansen menerangkan, lima kamera trap itu dipasang di beberapa titik yang diperkirakan sebagai perlintasan satwa langka itu.
Mulai dari lokasi korban diserang Si Belang, di sekitar barak pekerja yang tak jauh dari tempat korban Seha diterkam, dan beberapa titik lainnya.
Kamera tersembunyi itu akan merekam aktivitas satwa yang melintas termasuk harimau sumatera yang diduga menyerang perempuan pekerja HTI PT Peranap Timber.
Hasil bidikan kamera jebak, lanjut Andri Hansen, akan dilihat setelah satu pekan lamanya.
Tim akan memeriksa jenis binatang yang termonitor dan untuk memastikan keberadaan individu Kucing Oren tersebut.
Pihaknya juga ingin melihat jumlah harimau yang ada di sekitar lokasi yang bisa dibedakan dari ciri fisik hingga belang yang dimilikinya.
Apabila lebih dari satu individu harus dipastikan harimau yang menjadi pelaku utama penyerangan.
"Kita ingin lihat apakah satwanya hanya satu individu atau lebih. Karena tim menemukan jejak baru di lapangan," papar Hansen.
Jejak baru yang diduga milik binatang bernama latin Panthera Tigris Sumatrae itu didapati di beberapa lokasi termasuk di dekat tempat korban di terkam serta di dekat barak pekerja.
Jejak baru itu cukup besar dan ada setelah serangan mematikan pada Jumat malam pekan lalu. Kamera trap juga telah dipasang di dekat jejak kaki yang baru muncul itu.
BKSDA memang memiliki rencana untuk memasang kandang jebak dalam rangka menangkap harimau yang berkonflik dengan manusia itu.
Namun pihaknya terlebih dahulu menunggu hasil rekaman dari kamera jebak yang sudah dipasang. Apabila hasil bidikan telah memastikan adanya individu harimau di areal HTI PT Peranap Timber, barulah kandang jebak diturunkan.
"Kalau individunya lebih dari satu, harus dipastikan juga yang mana pelaku utamanya. Jadi kita tidak salah tangkap nantinya," bebernya.
BKSDA memastikan jika lokasi barak pekerja dan HTI perusahaan merupakan daerah perlintasan binatang karnivora itu.
Bahkan menjadi habitatnya selama ini yang termasuk dalam landscape Semenanjung Kampar.
Pihaknya juga memastikan jika individu harimau yang hidup dan berkembang di Semenanjung Kampar lebih dari satu.
Tim BKSDA melakukan koordinasi dengan aparat pemerintah daerah, kepolisian, dan pihak terkait setempat.
Agar bersama-sama menghimbau dan memberi pemahaman kepada masyarakat untuk tidak beraktivitas sementara waktu di sekitar lokasi serangan binatang buas tersebut.
Jika memang terpaksa beraktivitas, diminta selalu waspada serta tidak bekerja sendirian atau dengan jumlah kelompok yang sedikit.
Begitupun para pekerja diminta untuk tidak beraktifitas saat petang maupun sebelum pagi. Sebab di waktu tersebut harimau sumatera sedang melakukan aktifitasnya, termasuk mencari makanan.