Kamis, 25 Jun 2026
  • Home
  • Lingkungan
  • Dambakan Jalan, Warga Pedalaman Rohil tak Ingin Selamanya Bersampan

Dambakan Jalan, Warga Pedalaman Rohil tak Ingin Selamanya Bersampan

Admin
Selasa, 13 Okt 2020 08:50
Riauterkini.com
BAGANSIAPIAPI- berada pada salah satu dermaga sederhana di Rokan Hilir, sejumlah sampan tertambat, dari dermaga ini, sejauh 4 KM lagi masyarakat harus menempuh perjalanan ke arah hutan. Karena jalan rusak parah, mereka tidak bisa naik sepeda motor, lebih baik naik sampan.

Filna dan Rosyid, sepasang suami istri ini berjualan di dalam kebun, aneh memang, namun begitulah kenyataannya demi memperjuangkan hidup. Dalam satu minggu, mereka biasanya dua kali keluar dari hutan untuk berbelanja, pada hari Minggu dan Kamis, kadang ada tambahan, jika sedang panen sawit untuk mengantarkan hasil panen keluar.

Selain dari barang dagangan, telor, sprite, air mineral merk aqua, potato cup, gilus mix, top kopi gula aren, intermie, anti nyamuk merk kingkong, teh rio gula batu, sabun, shampo, susu bagus, roti, snack-snack, mereka juga membawa air galon untuk minum, sedangkan sepeda motor, dititip ditempat saudaranya.

Yang berbelanja, orang kerja kebun, dan mereka berjualan sudah empat tahun. “Sudah empat tahun. Alhamdulillah (cukup lumayan keuntungannya, red)”, kata Filna.

Berjualan di dalam kebun, tidak ada aliran listrik, mereka hanya pakai diesel, yang dinyalakan malam hari mulai pukul 18.30 sampai pukul 23.00 WIB, saat itulah mereka manfaatkan untuk mencas hp, senter dan memanfaatkan penerangan.

“Ngak (listrik, red), pakai dongfeng, malam, setengah tujuh, sampai jam sebelas, ya kawan-kawan numpang cas, tv tidak ada, tak ada (tak ada nonton tv, red), dari hp aja (dapat informasi, red), ada yang pakai facebook, ada yang pakai media sosial” tambahnya lagi.

Berjualan dan tinggal dalam kebun memiliki suka duka. Keluar memang sangat sulit, namun hidup didalam hutan kebun, sangat tenang dan memiliki rasa persaudaraan yang kental. “Suka dukanya, kalau keluar ini susah. Kalau senangnya di sana tenang hidupnya, ada burung bekicau, sama teman-teman enak, tak ada saling apa gitu (tak ada bertengkar, red), sama teman-teman saling tolong menolong, alhamdulillah (ramai, red),” kisahnya lagi.

Riauterkini mendapati teman Filna yang lain, mereka juga mau masuk kedalam kebun, sama menggunakan moda transportasi sampan. Di dalam sampan temannya, juga ada kebutuhan sehari-hari, mulai dari beras, rokok, buah-buahan dan yang lainnya.

Mereka berharap, semoga ada perbaikan jalan. “Semoga ada perbaikan jalan. Masak udah berapa tahun, gini aja jalan, udah mau jalan lima tahun, jalan gini aja,” keluhnya.

Perbaikan jalan itu kata mereka supaya senang mengeluarkan hasil pertanian. “Supaya mengeluarkan hasil petani gampang, pisang ada, sawit ada, ubi ada,” ujar mereka.

Saat ini mereka mengeluarkan hasil penen kelapa sawit menggunakan drum plastik yang dibelah dua, dimasukkan hasil panen kedalamnya, lalu ditarik menggunakan sampan.

“Untuk melangsir buah, dipotong jadi dua (drum biru, red), setiap drum sekitar 55 kilo, ditarik sampan, kalau banyak air ditarik, kalau surut, tarik manual lah, kandas sampan,” terang salah satu petani.demi keluhan terus disebut mereka, lampu tidak ada, jalannya rusak, emak-emak jadi susah. “Lampu tak ada, jalanya rusak, emak-emak ini yang susah. Yang paling penting jalan dululah,” ujar mereka saling menimpali.

Mereka terlihat sangat memelas, mengharapkan uluran tangan pemerintah. “Semoga didengar suara rakyat ini,” harap mereka memelas.

Memelas tersebut sangat beralasan, saat itu beruntung masih ada air sungai yang mereka lalui, kalau tidak ada air, atau musim kemarau, lebih teraniaya lagi, mereka harus berjalan kaki untuk pergi mencari kebutuhan sehari-hari, sejauh 5 KM.

“Pas ada air, kalau tak ada air, hajap lah, jalan lah, jalan kaki, lima kilo,” ujar mereka.

Menggunakan sampan memakai mesin, untuk bolak balik, saat air banyak, menghabiskan bensin 2 liter. Kalau air surut, tiga liter, kalau mengeluarkan sawit mencapai empat liter.

Mengeluarkan sawit, biasanya mereka lakukan dalam 10 sampai 15 hari sekali.

Tidak mudah, menggunakan moda transportasi sungai. Riauterkini menyaksikan pengikat kemudi sampan putus, sehingga mereka menambrak pohon sawit, beruntung, tidak karam.

Itu baru kendala sederhana yang mereka alami, ada yang lebih narsis lagi, terkadang mereka harus menahan nafas agar tidak digigit dan dililit ular yang besar.

“Kalau macet, mendayung, kalau jumpa (ular, red) ya biasa aja, kalau malam ngak usah hidup senter, bawak buah, kadang sampai masuk jam 12 malam, kadang jam sembilan malam. Sering sih (jumpa ular, red) cuman kan kita apa, tak usah pakai senter, jadi ndak dikejar sama dia, (kalau pakai senter, red) dikejar, (besar, red) ular tiung, kadang besar, kadang kecil. Belum pernah kami yang besar, teman-teman sering jumpa, katanya ada yang sebesar betis, ada yang sebesar lengan, (ular dalam air, red) iya, (ngak digigitnya) yang penting kita diam aja, ngak usah hidup senter. Kalau karam pun, kadang malam karam,” katanya mengakhiri.

Rekan mereka yang lain juga mengeluhkan. “Inilah sakitnya disini, pembangunan ngak ada, masih pakek sampan, banjir-banjir aja lahannya, jadi kayak ginilah,” keluhnya sambil membawa satu liter premium untuk bahan bakar sampan
Sumber: Riauterkini.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.