Senin, 13 Jul 2026
  • Home
  • Nasional
  • Badai Finansial Perusahaan Udang Anak Eks Presiden Seret Banyak Bank

Badai Finansial Perusahaan Udang Anak Eks Presiden Seret Banyak Bank

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 07 Jul 2026 08:28
JAKARTA - Kredit macet yang menimpa PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) milik Kaesang Pangarep, putra bungsu eks Presiden Jokowi kini menjadi sorotan. Kondisi keuangan perusahaan udang olahan ini memburuk dan nilai asetnya tercatat lebih rendah dibandingkan kewajiban utangnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai situasi ini tidak berarti perbankan kurang pruden atau kecolongan dalam menyalurkan kredit.


"Kasus ini lebih mencerminkan realisasi risiko kredit (credit risk materialization), akibat memburuknya kondisi fundamental perusahaan (PMMP) dan industrinya," ujar Nafan di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Rincian Utang Jumbo PMMP di Berbagai Bank

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Senin (6/7/2027), total utang PMMP mencapai Rp2,8 triliun di luar beban bunga kredit. Berikut rincian utang perusahaan milik suami Erina Sofia Gudono tersebut:

* PT Bank Permata Tbk (BNLI): Kreditur terbesar dengan eksposur US$53,12 juta dan Rp5,49 miliar. Menggunakan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, total eksposur mencapai Rp929,6 miliar ditambah Rp5,49 miliar, atau hampir Rp1 triliun.
* PT Bank Central Asia Tbk (BCA): Utang menembus US$40,29 juta atau setara Rp705 miliar.
* Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI): Memiliki piutang sebesar US$30,71 juta atau sekitar Rp537,4 miliar.
* PT Bank SMBC Indonesia Tbk: Bank yang dikuasai Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) ini memberikan kredit US$22,80 juta, setara Rp400 miliar.
* PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS): Dikuasai Kasikornbank (Thailand), memberikan kredit US$7,21 juta atau setara Rp125,2 miliar.
* PT Bank Resona Perdania: Menyalurkan fasilitas kredit sebesar US$5,99 juta yang setara Rp105 miliar.
Menurut Nafan, keterlibatan beberapa bank sekaligus merupakan hal wajar untuk perusahaan besar yang membutuhkan pembiayaan sindikasi guna diversifikasi sumber pendanaan.

Evaluasi Bank dan Tekanan Operasional
Setiap penyaluran dana selalu melewati due diligence, analisis kelayakan usaha, penilaian agunan, dan stress test. Namun sektor perikanan dan budidaya udang belakangan mengalami tekanan berat, mulai dari penurunan harga global, lemahnya permintaan ekspor, hingga naiknya biaya operasional.

"Yang perlu dipahami, kualitas suatu kredit dapat berubah seiring perubahan fundamental perusahaan maupun kondisi industri," urai Nafan.

"Namun demikian, kasus ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi industri perbankan untuk terus memperkuat pemantauan pasca-kredit (post-disbursement monitoring), sistem peringatan dini (early warning system), serta pengujian sensitivitas terhadap sektor-sektor yang memiliki volatilitas tinggi," tambahnya.

Nafan menekankan perbankan kini harus berfokus memitigasi efek rambatan dari kredit bermasalah ini.

"Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana masing-masing bank mengelola risiko lanjutan, antara lain melalui restrukturisasi apabila masih layak, peningkatan pencadangan, optimalisasi pemulihan aset, serta memastikan eksposur terhadap debitur tersebut tetap berada dalam batas yang dapat ditoleransi sehingga tidak mengganggu kualitas aset maupun permodalan bank," paparnya.

Sementara itu, tekanan operasional PMMP makin berat. Saat ini hanya unit pabrik udang di Situbondo yang beroperasi. Perusahaan tersebut membutuhkan tambahan suntikan modal kerja minimal US$15 juta atau setara Rp262,5 miliar agar dapat kembali beroperasi normal(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/badai-finansial-perusahaan-udang-anak-eks-presiden-seret-banyak-bank.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki