Nasional
Kekuatan Lobi Lebih Menentukan Pemilihan Pimpinan BPK
Laporan : Bambang Subagio
Sabtu, 13 Jul 2019 08:58
"Bukanlah hal aneh di DPR, kekuatan lobi akan mendominasi kekuatan lobi dibanding kompetensi yang dimiliki para calon pimpinan BPK, " ujar Uchok dalam diskusi publik bertema 'BPK dalam Pusaran Kepentingan Politik dan Profesionalisme' di media center Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (12/7/2019) kemarin.
Pernyataan Uchok tersebut menyusul adanya ketidaktransparanan oleh tim seleksi (Timsel) dalam seleksi calon pimpinan (capim) anggota lembaga auditor negara tersebut. Salah satu indikasinya yakni keanehan atas lolosnya 10 dari 32 calon capim BPK, merupakan politisi calon legislatif (caleg) yang gagal lolos ke DPR di Pemilu 2019.
"Dikhawatirkan para caleg gagal ini akan menggunakan kekuatan partainya dan relasi politiknya untuk meraih jabatan di BPK, " ujarnya.
Uchok meyakini tiga dari 10 politisi yang mengikuti seleksi akan diloloskan dalam fit and proper test di Komisi XI DPR. Karena alat uji dari Timsel kelihatannya, bukan untuk menguji kemampuan atau mencari anggota BPK sesuai dengan kemampuan.
"Apabila dugaan itu benar terjadi, mau dibawa kemana BPK nantinya kalau kekuatan lobi politik lebih menonjol ketimbang profesionalisme, " katanya.
Namun kekhawatiran Uchok ditepis anggota Komisi XI DPR Johnny G. Plate. Menurutnya, seleksi yang akan dilakukan Komisi DPR yang membidangi Keuangan negara itu atas atas dasar dokumennya bukan atas dasar kepentingan politis.
Menurutnya, audit mandatory yang dilakukan oleh BPK adalah audit atas laporan keuangan. Setiap tahun BPK harus melakukan audit atas 542 laporan keuangan pemerintah daerah. Selain itu ada 86 laporan keuangan Kementerian/Lembaga ditambah satu laporan keuangan Pemerintah Pusat.
"Bicara soal audit laporan keuangan maka asosiasi profesi yang membidangi auditor laporan keuangan adalah IAPI, sehingga keterwakilan seorang auditor yang memegang sertifikasi CPA menjadi salah satu simbol komitmen bagi para pimpinan BPK dalam menerapkan profesionalisme dan menjamin kualitas pemeriksaan," ujarnya.
Sejak tahun 2009 menurut Tarko, dua orang pemegang CPA menjadi bagian dari kepemimpianan di BPK. Mereka adalah Sapto Amal Damandari dan Moermahadi Soerja Djanegara yang kini memimpin BPK.
"Dengan berakhirnya masa tugas Pak Moermahadi pada bulan Oktober 2019, praktis tidak satupun pemegang CPA dalam kepemimpinan di BPK," sebutnya.(bsg)
Purbaya Tegaskan Skema Pajak DSI Berlaku Normal
JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan skema pajak PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan berlaku normal seperti biasa. Menurutnya, tidak ada perubahan ketentuan perpajakan
Danantara Ajak Diskusi Pengusaha Tentukan Acuan Harga Komoditas yang Dibeli PT DSI
JAKARTA - Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyatakan, pihaknya akan melakukan diskusi terlebih dahulu dengan para pelaku usaha untuk menentukan patokan harga komoditas yang akan d
Dolar Terus Menanjak Ini Saran Ekonom Riau untuk Masyarakat
PEKANBARU - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika semakin menanjak, nyaris mendekati Rp18 ribu. Masyarakat diminta tetap tenang, tak perlu gegabah apalagi panik.Demikian dikatakan Ekonom Riau Dahl
Terbongkarnya Perselingkuhan Istri dengan Sahabat Sendiri: Idham Melakukan Hal Nekad
Idham Dermawan (35), warga Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, diduga nekat mengakhiri nyawa rekannya sendiri, Agmi (35).Idham meradang setelah mengetahui adanya hubungan terlarang antara korban
Hasil Lawatan ke Prancis, Prabowo Bawa Pulang Capaian Kerja Sama Rp 61,25 T .
Jakarta - Presiden Prabowo Subianto tiba di Tanah Air setelah kunjungan kenegaraan ke Prancis. Prabowo membawa pulang capaian kerja sama bernilai Rp 61,25 triliun.Dikutip dari keterangan Badan Komunik