Sabtu, 16 Mei 2026
  • Home
  • Nasional
  • Konsorsium Pembaruan Agraria: Jokowi Abaikan Data di Debat, Prabowo Blunder

Nasional

Konsorsium Pembaruan Agraria: Jokowi Abaikan Data di Debat, Prabowo Blunder

Senin, 18 Feb 2019 13:27
Detik.com
JAKARTA - Konflik agraria menjadi salah satu pembahasan dalam debat antarcapres semalam. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) punya penilaian atas performa Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.

Sekjen Konsorsium Pengembangan Agraria (KPA), Dewi Kartika, juga merupakan salah satu panelis dalam debat kedua yang mengambil tema infrastruktur, energi, pangan, lingkungan hidup, dan sumber daya alam. Masalah konflik agraria sempat terbahas ketika topik infrastruktur. Sayangnya, menurut Dewi, respons Jokowi kurang tepat.

"Respons salah satu capres, capres 01 itu mengabaikan fakta dan data yang ada di lapangan. Ada banyak sekali konflik-konflik agraria yang diakibatkan pembangunan infrastruktur itu terjadi," kata Dewi saat berbincang, Senin (18/2/2019).

Saat debat semalam, Jokowi sempat menyatakan bahwa tidak ada konflik berarti dalam pembangunan infrastruktur selama 4 tahun terakhir. Padahal dalam catatan KPA, pembangunan infrastruktur dalam 10 tahun terakhir menempati peringkat kedua atau ketiga sebagai penyebab konflik agraria. Dewi mengambil contohnya yaitu pembangunan bandara Kertajati dan di Kulonprogo.

"Jadi seharusnya kedua capres meresponsnya to the point, langsung kepada isu yang ditanyakan. Karena saya tim panelis dan juga yang lainnya kami bertujuh sudah merumuskan seluruh pertanyaan berdasarkan fakta dan data yang ada di lapangan. Nah sayangnya, capres semalam bisa jadi karena tidak tahu, tidak paham, atau laporan yang masuk ke para capres ini tidak memadai sehingga dianggap baik-baik saja di lapangan. Padahal penggusuran, perampasan tanah, konflik agraria itu betul-betul terjadi," paparnya.

KPA juga menyoroti sesi tanya jawab antarcapres soal lubang bekas galian tambang. Prabowo sempat menduga adanya kolusi di balik lubang-lubang yang terabaikan kemudian Jokowi bicara tentang penanganan pencemaran lingkungan bekas tambang. Ujung-ujungnya, keduanya lalu sepakat untuk menyudahi debat terkait topik itu.

Menurut Dewi, Jokowi maupun Prabowo kurang menyentuh fakta yang terjadi di lapangan. Salah satunya adalah munculnya korban akibat lubang bekas galian tambang itu. "Ini kan harus menjadi concern bagi capres," tegasnya.

Dewi menilai munculnya pertanyaan tentang konflik agraria penting karena kedua capres sama-sama mencantumkannya di visi-misi. Tapi, ternyata Jokowi dan Prabowo sama-sama masih punya kekurangan dalam isu ini.

"Ada laporan yang tidak lengkap yang masuk ke capres 01 ini sehingga yang dia jelaskan hanya sertifikasi tanah. Padahal jika sertifikasi tanah saja, itu belum berarti itu reforma agraria karena tidak ada penataan ulang struktur agrarianya karena yang kecil ditambah, dan yang besar-besar apalagi melakukan monopoli skala besar, korporasi dan sebagainya tidak dipotong. Jadi tidak ada yang disebut reforma agraria yang sebenarnya, yaitu penataan struktur agraria yang timpang," papar Dewi terkait program sertifikasi tanah yang dipaparkan Jokowi.

Dia lalu mengomentari pernyataan Prabowo yang mengaku ratusan ribu tanah miliknya berstatus HGU. Masalah tanah ini sempat disinggung Jokowi di salah satu sesi debat.

"Kemudian yang lucu pernyataan yang kita dapat dari 02. Ternyata 02 juga sama, bahkan menurut saya blunder karena beliau menyebutkan punya HGU. Artinya dia bagian dari pengusaha yang punya HGU. Ini yang sekarang justru dianalisis orang-orang bahwa capres kita pemilik HGU kemudian dari statement alasannya 'daripada dimiliki asing, sebaiknya saya miliki'. Padahal beliau selalu bilang soal hak petani, petani kita rata-rata 68 persen kelompok petani gurem yang kepemilikan tanahnya di bawah 0,3 hektar," kata Dewi.



Sumber: detik.com
nasional
Berita Terkait
  • Jumat, 15 Mei 2026 16:53

    TNI AL Gagalkan Penyelundupan Ratusan Bal Rokok Ilegal di Madura

    TNI AL kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penegakan hukum serta menjaga stabilitas keamanan wilayah maritim dan jalur distribusi strategis nasional. Tim Second Fleet Quick Response (SFQR)

  • Jumat, 15 Mei 2026 16:16

    Hantavirus Belum Ditemukan di Riau, Masyarakat Diimbau Jaga Kebersihan

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di seluruh wilayah Riau. Meski begitu, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewa

  • Jumat, 15 Mei 2026 16:14

    267 Pedagang Pasar Subuh Dukung Relokasi Penataan Pasar Induk Tembilahan

    TEMBILAHAN-Sebanyak 267 pedagang pasar subuh menyatakan dukungan terhadap kebijakan relokasi sementara yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dalam rangka penataan Pasar Induk Jalan Yos S

  • Jumat, 15 Mei 2026 14:47

    2 Hari Tak Terlihat, Wanita Ini Ditemukan Meninggal Membusuk di Kursi Plastik

    Jakarta-Warga Huta IV Marihat Lela Nagori Lingga, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun mendadak geger. Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) bernama Sarpina Sinaga (44) ditemukan meninggal dunia di

  • Jumat, 15 Mei 2026 14:41

    Pasar Murah Bengkalis Diserbu Warga, Minyakita dan Beras SPHP Cepat Habis

    BENGKALIS-Ratusan warga Kota Bengkalis memadati Gerakan Pasar Murah (GPM) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan (DKP) di depan kantor DKP Jalan Antara, Bengkalis, Rabu (13/5). Tingginya antusias masyara

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.