Jumat, 15 Mei 2026
  • Home
  • Nasional
  • Setuju The Economist, Tim Prabowo: Jokowi Fokus Subsidi Demi 2019

Nasional

Setuju The Economist, Tim Prabowo: Jokowi Fokus Subsidi Demi 2019

Sabtu, 26 Jan 2019 09:44
Detik.com
JAKARTA - Media yang berbasis di London, The Economist, memuat kritikan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi), salah satunya soal perubahan fokus kebijakan dari infrastruktur ke subsidi. Kubu rival Jokowi di Pilpres 2019 setuju dengan kritik The Economist, sembari menilai perubahan kebijakan itu dipengaruhi tujuan politik jangka pendek Jokowi.

"Kebijakan berpaling dari infrastruktur ke subsidi karena mau Pemilu, makanya dana bantuan sosial naik, dana PKH naik," kata juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Prabowo Subianto, Andre Rosiade, kepada wartawan, Jumat (25/1/2019).

PKH yang Andre sebut adalah Program Keluarga Harapan (PKH). Alokasi anggaran PKH naik hampir dua kali lipat dari Rp 19,3 triliun di tahun 2018 menjadi Rp 34,4 triliun di tahun 2019.

"Itu diindikasikan untuk kepentingan politik praktis Pak Jokowi dalam rangka kepentingan Pemilu beliau," kata Andre.

Politikus Partai Gerindra ini menyebut kebijakan subsidi sebagai kebijakan populis yang mudah menarik simpati warga. Bila simpati didapat, maka elektabilitas Jokowi di Pilpres 2019 bisa terkerek.

"Apa saja dilakukan, yang penting jabatannya bertahan, termasuk melalui kebijakan populisnya," kata Andre.

Namun demikian Andre percaya masyarakat sudah cerdas dan tak akan terkecoh. Dia optimis masyarakat akan memilih Prabowo di billik suara Pilpres 2019. "Masyarakat tak akan terbui janji-janji manis seperti 2014 lalu," kata dia.

The Economist, dilansir CNBC Indonesia, telah mengkritik habis-habisan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Soal pembangunan infrastruktur, Jokowi bisa menyelesaikan pembangunan yang tertunda bertahun lamanya, dan membangun apa yang belum ada. Dalam anggaran tahun lalu The Economist menilai, Jokowi telah "berubah arah". Fokusnya kini telah terbagi dengan anggaran pembelanjaan subsidi, sehingga membuat anggaran belanja modal untuk infrastruktur justru menurun.

The Economist menyatakan pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang dicapai pemerintahan Jokowi sebesar 5%, tak sesuai target sebesar 7%. Kemudahan perizinan investasi juga dinilai setengah hati. Tenaga kerja Indonesia dinilai belum terampil, namun menuntut upah tinggi.

"Intinya, wajar The Economist mengkritik pemerintahan Jokowi. Memang ekonomi Indonesia menurun," ujar Andre.

Juru Bicara Tim Pemenangan Nasional Jokowi-Ma'ruf, Irma Suryani Chaniago, menyatakan pertumbuhan ekonomi sebenarnya sudah baik. Jokowi juga diapresiasi publik internasional karena mampu menjaga nilai tukar Rupiah tanpa harus ada kenaikan harga pokok.

"Artinya di era perang dagang AS dan China, Indonesia tetap mampu mengontrol harga-harga pokok meski Rupiah terkoreksi! Gimana nggak hebat Jokowi?" ujar Irma menanggapi kritikan The Economist yang dikomentari pihak Prabowo-Sandi.



(Detik.com)
nasional
Berita Terkait
  • Jumat, 15 Mei 2026 16:53

    TNI AL Gagalkan Penyelundupan Ratusan Bal Rokok Ilegal di Madura

    TNI AL kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penegakan hukum serta menjaga stabilitas keamanan wilayah maritim dan jalur distribusi strategis nasional. Tim Second Fleet Quick Response (SFQR)

  • Jumat, 15 Mei 2026 16:16

    Hantavirus Belum Ditemukan di Riau, Masyarakat Diimbau Jaga Kebersihan

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di seluruh wilayah Riau. Meski begitu, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewa

  • Jumat, 15 Mei 2026 16:14

    267 Pedagang Pasar Subuh Dukung Relokasi Penataan Pasar Induk Tembilahan

    TEMBILAHAN-Sebanyak 267 pedagang pasar subuh menyatakan dukungan terhadap kebijakan relokasi sementara yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dalam rangka penataan Pasar Induk Jalan Yos S

  • Jumat, 15 Mei 2026 14:47

    2 Hari Tak Terlihat, Wanita Ini Ditemukan Meninggal Membusuk di Kursi Plastik

    Jakarta-Warga Huta IV Marihat Lela Nagori Lingga, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun mendadak geger. Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) bernama Sarpina Sinaga (44) ditemukan meninggal dunia di

  • Jumat, 15 Mei 2026 14:41

    Pasar Murah Bengkalis Diserbu Warga, Minyakita dan Beras SPHP Cepat Habis

    BENGKALIS-Ratusan warga Kota Bengkalis memadati Gerakan Pasar Murah (GPM) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan (DKP) di depan kantor DKP Jalan Antara, Bengkalis, Rabu (13/5). Tingginya antusias masyara

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.