Minggu, 12 Jul 2026
8 Ribu Kg Garam Sudah Ditebar di Langit Riau Dalam Operasi TMC Hujan Buatan
admin
Jumat, 20 Mar 2020 09:06
PEKANBARU - Sejak dilaksanakan untuk pertama kali pada Rabu (11/3/2020) lalu, ribuan kilogram garam sudah ditebar, terkait dengan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hujan buatan di Riau.
TMC hujan buatan menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Bumi Lancang Kuning.
Disebutkan Dwipa Wirawan, selaku Koordinator Lapangan (Korlap) TMC menuturkan, dari 20 ton garam yang tersedia, sebanyak 8 ribu kg sudah disemai.
"Sudah 8 ribu garam yang disemai, dibagi menjadi 10 sortie atau sudah 10 kali," katanya, Kamis (19/3/2020).
8 ribu garam itu dipaparkan Dwipa, disebar ke Pulau Rangsang, Siak, Pulau Rupat dan Dumai.
Disinggung soal efisiensi penerapan skema TMC hujan buatan ini, Dwipa menyatakan hasilnya cukup memuaskan.
"Karena memang massa udaranya masih basah. Jadi masih bisa kita harapkan turun hujan yang banyak. Kita picu supaya bisa cepat juga turunnya," ucapnya.
Dikatakan Dwipa, sejauh ini belum ada rencana untuk penambahan jumlah garam yang akan disemai.
Karena menurutnya, stok garam yang tersisa saat ini masih memadai hingga sampai minggu depan.
"Nanti kalau sekiranya sudah memasuki 10 sortie lagi, baru kita minta kirimkan (garam)," paparnya.
Sementara itu, untuk unit yang digunakan dalam penyemaian garam kata Dwipa, masih menggunakan pesawat Cassa 212 milik TNI AU.
Pesawat tersebut kini posisinya berada di Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru, dan siap digunakan kapan saja.
"Untuk unit masih Cassa, belum ada penambahan," sebutnya.
Dwipa membeberkan, sampai sejauh ini pelaksanaan operasi TMC hujan buatan, berjalan lancar tanpa kendala berarti.
"TMC masih akan terus dilakukan, masih kontiniu," tutupnya.
Operasi TMC dilaksanakan guna mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan, yang berfungsi untuk pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air.
Cadangan air ini tentunya sangat dibutuhkan, jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran lebih luas dan tidak terkendali.
“Pelaksanaan operasional TMC tahun ini merupakan salah satu tindakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Berdasarkan historis fluktuatif jumlah titik hotspot meningkat pada Maret dan periode puncak pada Agustus hingga September," ujar Tri Handoko Seto, Kepala BBTMC-BPPT saat berada di Pekanbaru, Rabu (11/3/2020) lalu.
Dia memaparkan, operasi TMC di Provinsi Riau bertujuan tidak hanya untuk mematikan titik api Karhutla saja.
Melainkan juga untuk menjaga kelembaban tanah gambut agar tidak sampai menjadi kering.
Faktor kelembaban tanah gambut menjadi hal yang penting untuk terus dipantau secara kontinyu, guna mengetahui tingkat kekeringan yang dapat menjadi sinyal kerawanan bencana Karhutla di suatu wilayah.
Menurutnya, strategi pelaksanaan TMC dapat lebih difokuskan untuk rewetting atau membasahi kembali area gambut yang dinilai mempunyai tingkat kekeringan yang perlu diwaspadai.
Dengan tetap terjaganya kelembaban tanah pada area lahan gambut, maka potensi terjadinya kebakaran di area lahan gambut akan semakin berkurang.
Sumber: Tribunpekanbaru.com
komentar Pembaca