Hujan Sudah Turun, tapi Kehidupan Belum Normal
Senin, 02 Nov 2015 11:43
Widarta Parama, seorang warga Pekanbaru misalnya. Dia mengatakan bahwa hujan yang melanda kotanya itu mampu mengurangi kabut asap yang terjadi hampir empat bulan di wilayahnya. Tapi kehidupan masih belum pulih karena ada beberapa daerah terdampak belum turun hujan. Penerbangan dan sekolah belum sepenuhnya normal dan beberapa orang juga masih mengidap Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA).
"Kemarin hujan, jadi agak lumayan. Tak seperti beberapa pekan lalu, dimana jarak pandang hanya sekitar 50 meter,' ujar lelaki asal Semarang, Jawa Tengah kepada media, Senin ( 2/11/2015). Menurutnya, meski hujan sudah turun tapi tidak di seluruh daerah terdampak, sehingga di beberapa daerah asap masih pekat.
Pesawat juga belum sering terbang ke daerah terdampak. Menurut alumni Universitas Diponegoro itu, dia tak bisa terbang ke Jakarta atau ke daerah lain, langsung dari Pekanbaru karena tak ada penerbangan selama kabut asap melanda wilayah tersebut.
"Teman yang dari Jakarta kalau mau ke sini, harus lewat bandara di Padang, dan dari Padang yang jaraknya ke sini 370 Km an harus ditempuh dengan jalan darat. Demikian sebaliknya, kalau mau naik pesawat harus dari Padang," paparnya. Dengan demikian, selain menambah ongkos, jarak tempuhnya juga memerlukan waktu yang lebih lama.
Karena menghirup udara dengan asap dalam waktu lama berpengaruh terhadap kesehatan, maka dia dan beberapa temannya memasang alat pembersih udara. Ini untuk menjaga sirkulasi udara khususnya di dalam rumah berlangsung dengan baik
"Sekolah juga selama kabut asap tak melakukan proses belajar mengajar normal, untuk tingkat sekolah dasar masuk hanya Senin dan Kamis, itupun hanya 2 jam," ujar dia. Jadi, selama kabut asap seluruh proses kehidupan menjadi terganggu. Banyak murid yang terkena ISPA dan dirawat di rumah sakit.
Warga Palangkaraya, Vintari, punya cerita lain. Selama kabut asap dia kemana-mana membawa obat tetes. "Saya tetap pakai masker dan tak lupa membawa obat tetes mata. Jika mata saya terasa pedih, saat itu juga langsung saya tetesi," ujarnya. Untuk masker menurutnya, tiap dua hari sekali ganti karena kotor dan berdebu.
Sementara untuk di dalam rumah, dia memasang kain basah di bawah daun pintu untuk meminimalisir masuknya asap. "Pintu jendela dan lubang angin saya tutup rapat rapat," jelas dia. Selain itu, selama musibah asap berlangsung dia jarang sekali melihat cerahnya sinar matahari pagi. "Sudah lama dan saya benar benar kangen suasana seperti itu," tandasnya.
Polisi Bongkar 3 Klaster Kejahatan Besar, Libatkan WNA hingga Korporasi
Jakarta - Polda Metro Jaya mengungkap tiga klaster tindak pidana yang menjadi fokus penindakan, yakni perjudian digital yang terafiliasi aplikasi HOT51, praktik perjudian berkedok arena permainan Time
Penampakan Mesin Judi Berkedok Timezone Disita Polisi di Jakarta, Puluhan Orang Ditangkap
Kepolisian menggerebek lokasi diduga sarang judi berkedok arena permainan anak di wilayah Jakarta Utara (Jakut) dan Jakarta Barat (Jakbar) pada Sabtu 13 Juni 2026. Barang bukti mesin Timezone disita d
Danlanud Sjamsudin Noor Sampaikan Kejuaraan IPAC Seri 2 dan Gantolle Seri 1 KTM Fly Kotabaru 2026 Menjadi Panggung Pembinaan Atlet Dirgantara Masa Depan
Banjarbaru - Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., selaku Ketua FASI Daerah Kalimantan Selatan (Fasida Kalsel) hadir secara langsung dalam acara Penutupan Kejuaraan N
Strategi Kemenkeu dan BGN Kawal Anggaran Makan Bergizi Gratis
JAKARTA - Sinergi pengawasan anggaran dibangun secara kuat oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang. Pertemuan kedua pimpinan ini berfokus memat
HUT Bhayangkara ke-80 Polda Riau Resmikan Rest Area Ojol dan Bagikan Sembako
PEKANBARU - Semangat berbagi dan memperkuat kedekatan dengan masyarakat terus ditunjukkan Kepolisian Daerah Riau dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Melalui Direktorat Pembinaan Masyarakat, instit