Minggu, 12 Jul 2026
KISAH Para Medis Tangani Pasien Suspect Virus Corona di RSUD Arifin Achmad Riau, 'Kita Mati Syahid'
admin
Kamis, 19 Mar 2020 14:20
PEKANBARU - "Pas pasien pertama itu, istri saya menangis pas saya mau berangkat menyambut pasien, saya pun sempat nggak kuat dan sempat berkaca-kaca juga," ujar seorang para medis yang bertugas menangani Pasien Suspect Virus Corona di RSUD Arifin Achmad Riau.
Ada tangisan, kekhawatiran dan rasa lelah pada wajah-wajah tim medis yang ditugaskan menangani pasien khusus Covid-19 di RSUD Arifin Achmad Riau setiap harinya.
Mereka setiap hari menghadapi pasien dengan resiko tingkat penularan virus corona atau Covid-19 yang sangat tinggi, salah sedikit saja resikonya mereka tertular.
Para medis yang menangani pasien suspect Covid-19 di RSUD Arifin Achmad ini sudah dibentuk sejak akhir Januari 2020, mereka berjumlah 11 tenaga perawat dan satu tenaga kebidanan, ditambah dua dokter spesialis.
Mereka ditempatkan di sebuah sudut gedung RSUD Arifin Achmad yang diberi nama ruang rawat Pinere, dimana di ruangan ini memiliki empat tempat tidur khusus pasien Covid-19 tersebut.
Firdaus Eko Saputra, dipercaya pihak RSUD Arifin Achmad sebagai kordinator tim tenaga medis ruangan khusus pasien Covid-19.
Ditunjuknya sebagai kordinator tentu menjadi pukulan berat pada diri, istri dan keluarganya.
Apalagi saat ini istrinya sedang dalam kondisi hamil dan sudah memiliki tiga orang anak, sehingga beban berat dan hatinya berkecamuk saat ditunjuk menjadi tenaga yang akan menangani pasien Covid-19 tersebut.
Bahkan saat menerima pasien pertama mereka 3 Maret 2020, saat pamit dari rumahnya untuk menangani pasien, istrinya sempat menangis karena khawatir dengan keselamatan Firdaus Eko Saputro.
Hal ini juga terjadi dengan teman se-profesinya yang lain ditugaskan sama menangani pasien Covid-19 tersebut.
"Pas pasien pertama itu, istri saya menangis pas saya mau berangkat menyambut pasien, saya pun sempat nggak kuat dan sempat berkaca-kaca juga, tapi sudah saya niatkan kerja saya membantu orang dan Allah pasti menolong," ujar Eko Saputra.
Eko Saputro pun hari itu sengaja membawa perlengkapan lengkap untuk sementara tidak pulang dulu ke rumah, tujuannya untuk menghindari kontak dengan keluarganya setelah menyentuh pasien.
"Jadi saya sudah siapkan semuanya tidak pulang ke rumah, saya kuatkan hati dalam hati saya serahkan semua pada Allah, karena saya yakin kalau niat kita baik Allah juga akan beri yang terbaik," ujarnya.
Sesampainya di rumah sakit untuk menyambut pasien pertama Covid-19, tim yang sudah ditunjuk pun dihadapkan dengan kondisi yang panik, semuanya pada menangis karena ketakutan.
Sebagai kordinator ruangan, Eko Saputro berusaha menghilangkan rasa kekhawatiran dan berupaya memompa semangat teman-temannya yang saat itu menangis di ruang briefing sebelum menerima pasien.
"Jadi semuanya menangis, karena pikirannya sudah kacau, ada yang masih punya anak kecil dan ada bahkan yang belum menikah, semua keluarga mereka mengkhawatirkan keselamatannya," ujar Eko.
Eko meyakinkan teman-teman tenaga medisnya jika tugas mereka tersebut sangat mulia dan bila pun mati dalam tugas membantu orang maka ganjarannya adalah mati syahid.
"Tugas kita ini mulia dan ini profesi mulia kita sebagai perawat membantu masyarakat, jadi saya yakin teman-teman juga punya semangat untuk membantu sesama," ujar Eko Saputro yang juga lulusan spesialis keperawatan medical bedah di UI tersebut.
Bahkan awalnya tenaga medis yang ditunjuk ini semuanya pada menolak untuk ditempatkan di ruangan tersebut, namun karena sudah tugas dan kewajiban mengabdi kepada masyarakat maka semuanya jadi kuat.
"Ada keluarga dari teman-teman bahkan bilang, lebih baik berhenti daripada ditugaskan di ruangan itu, tapi Alhamdulillah berkat dedikasi teman-teman ya mereka kuat dan bisa menjalankan tugasnya," ujar Eko Saputro.
Saat menyambut pasien pertama, mereka bersyukur pasiennya care dan bahkan mereka bisa bergurau dengan pasien dan bisa membuat pasien merasa nyaman.
Karena tugas mereka sebagai perawat yang ditunjuk rumah sakit harus merawat dan menjadikan pasien sebagai ibu sendiri, sehingga pasien merasa nyaman. Meskipun sempat menghadapi pasien yang penuh depresi karena diisolasi di dalam ruangan tersebut sampai 7 hari namun bisa mereka lewati dengan baik.
"Intinya saya ingin tenaga medis saya itu bisa selalu enjoy bekerja dan sehat dalam menangani pasien, kami juga bersyukur pihak RSUD melengkapi kebutuhan kami di ruangan untuk menjaga pasien selama 24 jam di sana," ujar Eko Saputro.
Menurutnya memang tidak mudah untuk menjalankan tugas ini, apalagi teman-temannya yang lain di RSUD Arifin Achmad bahkan menjauhi mereka karena tahu petugas medis yang menangani pasien Covid-19.
"Kami dijauhi karena dalam pikiran mereka takut tertular kami yang berhubungan langsung dengan pasien, beban mental yang kami hadapi setiap hari itu tidak ringan, belum lagi kekhawatiran kami bila tertular," ujar Eko Saputro.
Hanya saja itu semua menurut Eko Saputro tidak menjadi hambatan, karena semuanya sudah mereka serahkan pada yang maha kuasa, sehingga mereka bekerja dengan enjoy melayani pasien dan mengabdi untuk masyarakat.
"Kami juga yakin kalau memang sudah saatnya mati, akan mati juga, bahkan orang yang duduk - duduk santai saja bisa mati mendadak kalau sudah takdir," ujarnya selalu meyakinkan temannya.
Untuk pakaian pelindung diri sendiri menurut Eko Saputro menjadi pakaian yang wajib dan sudah menjadi standard penanganan pasien, sehingga ini menjadi alat mereka berlindung dari penyebaran virus.
Dengan pakaian topeng yang luar biasa panasnya tersebut menurut Eko Saputro jika lama dipakai bisa basah di dalam Alat Pelindung Diri. Setelah kontak dengan pasien diwajibkan mandi dan ganti pakaian.
"Kami pergi dan pulang itu diupayakan baju yang tidak ada kontak dengan pasien, Alhamdulillah kami juga selalu diberi vitamin," ujarnya.
Pasiennya juga kata Eko Saputro tertangani dengan baik dapat makan yang lengkap dan puding yang lengkap juga, "Alhamdulillah empat pasien pertama negatif dan hingga pulang masih komunikasi dengan keluarga pasien," ujarnya.
Rabu (18/3/2020) juga tangisan di ruang rawat inap Pinere tersebut sempat pecah karena adanya informasi dari pusat satu pasien Covid-19 di Riau positif, namun mereka terus saling menguatkan satu sama lain dan berupaya memberikan pengabdian terbaik untuk masyarakat.
"Saya selalu meyakinkan teman-teman kalaupun kita mati dalam membantu orang, ya kita mati syahid," ujar Eko Saputro.
Eko juga yakin dengan standard pelindung diri yang mereka terapkan maka lebih terjamin keamanannya. Bahkan menurut Eko lebih terlindung mereka dari pada masyarakat yang bebas di luar.
"Saya selalu mengingatkan kalau semuanya sesuai standard Insa Allah akan dilindungi Allah. Menurut kami lebih aman daripada yang di luar yang tidak safety," ujarnya.
Sementara itu Direktur Utama RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Nuzelly Husnedi menyampaikan apresiasi yang besar terhadap petugas medis khusus tersebut karena pekerjaan mereka merupakan orang terdepan membantu pasein Covid-19.
"Jadi disaat orang harus dikurangi aktivitas di luar rumah, mereka yang luar biasa berjibaku membantu sesama di Rumah Sakit, ini harus diapresiasi," ujar Nuzelly.
Terakhir informasinya Presiden meminta kepada Menteri Keuangan untuk menambah insentif bagi tenaga perawat khususnya yang menangani pasien Covid-19 di Indonesia.
Sumber: Tribunpekanbaru.com
komentar Pembaca