Senin, 29 Jun 2026
  • Home
  • Nusantara
  • Tokoh Adat Lampung Tegaskan Prosesi Injak Kepala Kerbau Bermakna Penyucian Diri

Nusantara

Tokoh Adat Lampung Tegaskan Prosesi Injak Kepala Kerbau Bermakna Penyucian Diri

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 29 Jun 2026 13:42
Tokoh adat Lampung Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Drs. H. Mawardi Harirama menegaskan prosesi menginjak kepala kerbau yang dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri kegiatan adat di Lampung merupakan bagian dari tradisi Lampung Pepadun yang sarat makna filosofis. Menurutnya, ritual tersebut tidak dapat dimaknai sebagai tindakan penghinaan atau perendahan terhadap hewan.

Mawardi menjelaskan, kerbau memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Lampung sejak dahulu. Selain menjadi penopang kegiatan ekonomi, kerbau juga dipandang sebagai simbol kesejahteraan keluarga dan aset berharga yang digunakan dalam berbagai pelaksanaan upacara adat.

"Kerbau adalah hewan peliharaan masyarakat Lampung pada masa lalu yang menjadi tabungan untuk kegiatan ekonomi maupun pelaksanaan pesta adat," ujar Mawardi dikutip Senin (29/6).

Ia mengatakan, penyembelihan kerbau menjadi simbol tingginya status sosial dalam masyarakat adat Lampung Pepadun. Karena itu, keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lazim menyembelih kerbau pada berbagai tahapan penting kehidupan, mulai dari selamatan kelahiran anak, prosesi perkawinan adat melalui rangkaian Turun Mandi dan Temu Dilunjuk, hingga upacara Cakak Pepadun atau Munggah Bumi.

Dalam prosesi Temu Dilunjuk, lanjut Mawardi, kedua mempelai dipertemukan dengan meletakkan kedua ibu jari kaki di atas kepala kerbau yang berada di atas Lunjuk Balagh. Sementara dalam upacara Cakak Pepadun, penyembelihan kerbau merupakan bagian yang wajib dilaksanakan.

Karena itu, ia menegaskan bahwa meletakkan jari kaki di atas kepala kerbau merupakan tata cara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi Lampung Pepadun.

"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau memang dilakukan dalam pesta adat Lampung Pepadun," tegasnya.

Menurut Mawardi, ritual tersebut memiliki makna lahiriah dan batiniah. Dari sisi lahiriah, prosesi itu melambangkan kedudukan atau status sosial seseorang yang menjalankan upacara adat. Sementara secara filosofis, ritual tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian diri.

"Makna batinnya adalah menghilangkan hawa binatang dalam jiwa kita agar hati menjadi bersih dalam menjalani setiap langkah kehidupan, sehingga karya-karya yang dihasilkan menjadi baik dan berhasil," jelasnya.

Penjelasan tersebut disampaikan menyusul polemik yang muncul di ruang publik terkait prosesi adat yang diikuti Jokowi. Sebelumnya, Juru Bicara PDI Perjuangan (PDIP) Guntur Romli mempertanyakan apakah ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi adat, ekspresi kesombongan, atau simbolisasi perendahan politik.

Mawardi menegaskan, prosesi tersebut harus dipahami dalam konteks tradisi Lampung Pepadun yang telah berlangsung secara turun-temurun, sehingga tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai budaya dan filosofi yang melatarbelakanginya.(merdeka.com)

Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/tokoh-adat-lampung-tegaskan-prosesi-injak-kepala-kerbau-bermakna-penyucian-diri-587009-mvk.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.