Opini
Aksi Ibadah Gelar Sajadah
Oleh: Nevatuhella
Minggu, 04 Des 2016 10:08
Aksi unjuk rasa 2 Desember hari ini sudah dipersiapkan, baik oleh yang punya hajat, yakni Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPFMUI), maupun kepolisian yang tidak saja mengawal aksi nantinya, tetapi juga akan mengikuti beberapa sesi dari unjuk rasa yang bertema "Aksi Ibadah Gelar Sajadah" ini. Polri yang muslim akan ambil bagian dalam pelaksanaan salat Jumat, pembacaan zikir dan doa bersama, serta mendengarkan tausiah dari para ulama.
Berbeda dengan aksi unjuk rasa dua Jumat sebelumnya, (27/9 dan 4/11), aksi kali ini disepakati hanya berdurasi setengah hari, dari jam delapan pagi sampai jam satu siang. Unjuk rasa bubar setelah salat Jumat. Dengan semboyan "Unjuk Rasa Super Damai", diupayakan peserta benar-benar dapat berlaku santun dan sesuai dengan keinginan masyarakat, serta keinginan pihak keamanan yang akan mengawal jalannya aksi.
Agaknya belajar dari aksi unjuk rasa 4/11 yang lalu, dimana waktu yang terlalu panjang, unjuk rasa berakhir rusuh. Terjadi insiden yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan membakar beberapa mobil dan sepeda motor. Jatuh korban luka-luka, yang tentunya hal ini sangat disayangkan.
Oleh karena itu, Ketua GNPFMUI, Habib Rizieq mengingatkan bahwa, jika terjadi hal-hal negatif seperti yang terjadi rusuh pada aksi 4/11 yang lalu, itu bukan bagian dari unjuk rasa yang dikomandoinya. Polisi diharapkan melakukan antisipasi dan langkah-langkah untuk menghindari kejadian seperti ini.
Pada hari Senin (28/11), Polri bersama GNPFMUI, dan Majelis Ulama Indonesia mengadakan konferensi pers. Tujuannya agar masyarakat mengetahui apa dan bagaimana kesepakatan antara Polri dan GNPFMUI mengenai pelaksanaan unjuk rasa 2 Desember. Beberapa kesepakatan telah dibuat oleh kedua belah pihak. Poin terpenting ialh unjuk rasa disepakati tidak anarkis. Dan ini sudah teruji pada unjuk rasa-unjuk rasa sebelumnya. Dan polisi lebih pro-aktif.
Lapangan Monas dijadikan tempat unjuk rasa, mengakomodir permintaan GNPFMUI sebelumnya yakni di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, Monas sudah cukup untuk menampung 600–700 ribu pengunjuk rasa. Kalaupun lebih, Polri akan membuka akses Jalan Medan Merdeka Selatan untuk tempat para pengunjuk rasa. Sebab, bila unjuk rasa jika dilakukan di Bundaran HI dikhawatirkan akan sangat mengganggu kepentingan umum. Pintu Masuk Lapangan Monas akan dibuka semuanya, ujar Kapolri.
Pihak GNPFMUI meminta, agar difasilitasi tempat-tempat untuk wudhu, keluar masuk mobil logistik, ambulance, serta toilet. "Jangan terjadi seperti 4 November yang lalu, dimana untuk kelaur dari dalam Masjid Istiqlal saja, saya memerlukan waktu dua jam! Jadi jangan dikatakan saya keras kepala memilih Bundaran HI yang aksesnya banyak kemana-mana." ujar Rizieq.
Bahwa masyarakat telah mengetahui pelaksanaan unjuk rasa sejuta umat, Aksi Bela Islam Jilid 3 ini, digelar dalam rangka mengawal proses hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang sudah menjadi tersangka. Tidak ada motif-motif politik dibelakangnya.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian, menyetujui permintaan Habib Rizieq untuk mencabut larangan umat Islam yang ingin datang ke Jakarta yang terjadi di beberapa provinsi. Kebijakan ini memang melanggar hak azasi kaum muslimin yang sesuai dengan keimanannya untuk ikut serta menyatakan dukungannya mengawal kasus Ahok.
Pelarangan ini sebelumnya memunculkan reaksi dari beberapa kalangan. Bahkan kalau memang angkutan umum pun dilarang membawa para calon pengunjuk rasa di luar Jakarta. Meski, ada kelompok masyarakat yang sudah siap jalan kaki menuju Jakarta. Dari Ciamis, ratusan kaum Muslimin sudah melakukannya untuk menuju Jakarta. Senin (28/11) siang, mereka telah sampai di Tasikmalaya. Mereka rencanakan akan tiba di Jakarta pada Kamis malam (1/12).
Dalam suasana konferensi pers yang dilakukan oleh Kapolri, GNPFMUI dan MUI, Maa'ruf Amin selaku Ketua MUI menyebut kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan antara Polri dan GNPFMUI jelang unjuk rasa merupakan pertemuan yang baik dan mengandung berbagai hikmah. Menghilangkan sakwasangka yang selama ini menyelimuti hubungan Polri, MUI, dan umat Islam. Beliau juga mengusulkan usai unjuk rasa, hubungan yang sudah harmonis ini, bisa dilanjutkan menjadi Rujuk Nasional.
Cendikiawan muslim, Profesor Azyumardi Azra, dalam talkshow di sebuah tv swasta, Senin malam (28/11), mengatakan, dialog yang dilakukan Polri dan MUI adalah hal yang sungguh menggembirakan. Hal yang selama ini menjadi ciri khas ke Indonesia, yaitu kompromi. Dimana hal seperti ini jauh dari yang terjadi di negeri-negeri dengan mayoritas penganut Islam.
Hikmahnya bagi umat dan hubungannya dengan umat beragama lain, menghilangkan berbagai sinisme dan berbagai isu negatif, seolah-olah umat Islam selama ini ngotot memperkarakan Ahok untuk kepentingan politik. Bahwa pihak-pihak yang mengatakan selama ini, kasus Ahok sebagai memetingkan kulit dari isinya, terjauhkan. Siapapun tahu kredibilitas Ahok sebagai gubernur yang memang belum terbukti melakukan korupsi. Ahok juga selama ini telah membangun birokrasi yang diusahan bersih dari koruptor dan para PNS di DKI Jakarta yang tidak profesional. Semua orang tahu itu sampai ke pelosok seluruh negeri. Hanya Ahok terpeleset dengan kata-katanya sendiri. Ibarat sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali akan terjatuh juga. Atau mulut kamu harimau kamu, menjadi takdir Ahok saat ini.
Saat ini kasus penghinaan agama yang disangkakan kepada Ahok sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. GNPFMUI juga sudah datang ke kejaksaan sebagai bagian dari pengawalan kasus ini. Meminta agar kejaksaan bekerja sesuai dengan koridor hukum.
Memang seandainya tidak dalam suasana Pilkada, terlebih masa kampanye saat ini, Ahok diproses hukum, keadaannya tidak seluas saat ini. Yang dituduhkan adanya banyak kepentingan bermain dibelakang kasus Ahok. Sampai-sampai Presiden RI Joko Widodo melakukan berbagai safari ke elemen-elemen strategis bangsa. Termasuk dua kali bertemu dengan Prabowo Subianto, rivalnya dalam Pilpres 2014 yang lalu. Jokowi juga menemui para Ketua Parpol pengusung pemerintahannya, termasuk mantan presiden ke RI ke-5 Megawati Sukarnoputri.
Sementara Ahok tidak kelihatan berkampanye di wilayah Jakarta. Ia hanya melakukan pertemuan dengan para simpatisannya di rumah Lembang, Menteng Jakarta Pusat. Bisa saja Ahok menghindari berbagai penolakan masyarakat. Banyak penolakan yang sudah dialami Ahok di berbagai tempat. Termasuk juga penolakan terhadap wakilnya, Djarot Saiful Hidayat.
Soal menang pada Pilkada 2 Pebruari 2017 mendatang siapa tahu ia bernasib sama dengan Mr. Donald Trump di Negeri Bapak Demokrasi itu! Bukankah begitu tingginya poluralitas rivalnya, Hillary Clinton di cetak para lembaga survey. Semuanya tinggal hati nurani warga Jakarta yang punya hak pilih. Mau tetap pilih Ahok, mpok Silvi, atau mas Anies?***
Penulis adalah esais, pemerhati sosial-politik.
sumber:analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke