Senin, 15 Jun 2026

Opini

Aksi Ibadah Gelar Sajadah

Oleh: Nevatuhella
Minggu, 04 Des 2016 10:08
viva.co.id
Ilustrasi

Aksi unjuk rasa 2 Desember hari ini su­dah dipersiapkan, baik oleh yang punya hajat, yakni Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNP­FMUI), maupun kepolisian ya­ng tidak saja mengawal aksi nantinya, te­tapi juga akan mengikuti beberapa sesi dari unjuk rasa yang bertema "Aksi Iba­dah Gelar Sa­jadah" ini. Polri yang muslim akan am­bil bagian dalam pelaksanaan sa­lat Ju­mat, pembacaan zikir dan doa bersama, ser­ta mendengarkan tausiah dari para ula­ma.

Berbeda dengan aksi unjuk rasa dua Ju­mat sebelumnya, (27/9 dan 4/11), aksi kali ini disepakati hanya berdurasi se­tengah hari, dari jam delapan pagi sampai jam satu siang. Unjuk rasa bubar se­telah salat Jumat. Dengan semboyan "Unjuk Rasa Super Damai", diupayakan peserta benar-benar dapat berlaku santun dan se­suai dengan keinginan masyarakat, serta keinginan pihak keamanan yang akan mengawal jalannya aksi.

Agaknya belajar dari aksi unjuk rasa 4/11 yang lalu, dimana waktu yang terlalu pan­jang, unjuk rasa berakhir rusuh. Terjadi insiden yang dilakukan  oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan membakar beberapa mobil dan sepeda motor. Jatuh korban luka-luka, yang tentunya hal ini sangat disayangkan.

Oleh karena itu, Ketua GNPFMUI, Habib Rizieq meng­ingatkan bahwa, jika terjadi hal-hal negatif seperti yang terjadi rusuh pada  aksi 4/11 yang lalu, itu bukan bagian dari unjuk rasa yang dikoman­doi­nya. Polisi diharapkan melakukan an­tisipasi dan langkah-langkah untuk menghindari kejadian seperti ini.

Pada hari Senin (28/11), Polri bersama GNPFMUI, dan Majelis Ulama Indonesia mengadakan konferensi pers. Tujuan­nya agar masyarakat mengetahui apa dan ba­gaimana kesepakatan antara Polri dan GNPFMUI mengenai pelak­sanaan unjuk rasa 2 Desember. Beberapa kesepakatan telah dibuat oleh kedua belah pihak. Poin terpenting ialh unjuk rasa disepakati tidak anarkis. Dan ini sudah teruji pada unjuk rasa-unjuk rasa sebelumnya. Dan polisi lebih pro-aktif.

Lapangan Monas dijadikan tempat unjuk rasa, mengakomodir permintaan GNPFMUI sebelum­nya yakni di Bunda­ran Hotel Indonesia (HI). Kapolri Jen­de­ral Tito Karnavian mengatakan, Monas su­dah cukup untuk menampung 600–700 ribu pengunjuk rasa. Kalaupun lebih, Polri akan membuka akses Jalan Medan Mer­deka Selatan untuk tempat para pen­gunjuk rasa. Sebab, bila unjuk rasa jika di­lakukan di Bundaran HI dikhawatir­kan akan sangat mengganggu kepenti­ngan umum. Pintu Masuk Lapangan Mo­nas akan dibuka semuanya, ujar Kapolri.

Pihak GNPFMUI meminta, agar di­fasilitasi tempat-tempat untuk wudhu, ke­luar masuk mobil logistik, ambulance, ser­ta toilet. "Jangan terjadi seperti 4 No­vem­­ber yang lalu, dimana untuk kelaur dari dalam Masjid Istiqlal saja, saya me­merlukan waktu dua jam! Jadi jangan di­katakan saya keras kepala memilih Bun­daran HI yang aksesnya banyak kemana-mana." ujar Rizieq.

Bahwa masyarakat telah mengetahui pelaksanaan unjuk rasa sejuta umat, Aksi Bela Islam Jilid 3 ini, digelar dalam rangka mengawal proses hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang sudah menjadi tersangka. Tidak ada motif-motif politik dibela­kangnya.

Kapolri Jenderal Tito Karna­vian, me­nyetujui permin­taan Habib Rizieq untuk men­cabut larangan umat Islam yang ingin da­tang ke Jakarta yang terjadi di beberapa pro­vinsi.  Kebijakan ini memang me­lang­gar hak azasi kaum muslimin yang se­suai dengan keimanan­nya untuk ikut serta menyatakan dukungannya menga­wal kasus Ahok.

Pelarangan ini sebelumnya memun­cul­kan reaksi dari beberapa kalangan. Bah­kan kalau memang angkutan umum pun dilarang membawa para calon pe­ngun­juk rasa di luar Jakarta. Meski, ada kelompok masyarakat yang sudah siap jalan kaki menuju Jakarta. Dari Ciamis, ratusan kaum Muslimin sudah melaku­kan­nya untuk menuju Jakarta. Senin (28/11) siang, mereka telah sampai di Tasik­ma­laya. Mereka rencanakan akan tiba di Ja­karta pada Kamis malam (1/12).

Dalam suasana konferensi pers yang dilakukan oleh Kapolri, GNPFMUI dan MUI, Maa'ruf Amin selaku Ketua MUI menye­but kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan antara Polri dan GNPF­MUI jelang unjuk rasa merupa­kan per­temuan yang baik dan mengandung ber­ba­gai hikmah. Menghilangkan sak­wasang­ka yang selama ini menyeli­muti hubungan Polri,  MUI, dan umat Is­lam. Beliau juga mengusulkan usai un­juk rasa, hubungan yang sudah harmonis ini, bisa dilanjutkan menjadi Rujuk Na­sional.

Cendikiawan muslim, Profesor Azyu­mardi Azra, dalam talkshow di sebuah tv swasta, Senin malam (28/11), mengata­kan, dialog yang dilakukan Polri dan MUI adalah hal yang sungguh menggem­birakan. Hal yang selama ini menjadi ciri khas ke Indonesia, yaitu kompromi. Di­mana hal seperti ini jauh dari yang ter­jadi di negeri-negeri dengan mayoritas pe­nganut Islam.

Hikmahnya bagi umat dan hubungan­nya dengan umat beragama lain, meng­hilangkan berbagai sinisme dan berbagai isu negatif, seolah-olah umat Islam se­lama ini ngotot memperkarakan Ahok untuk kepentingan politik. Bahwa pihak-pihak yang menga­takan selama ini, kasus Ahok sebagai memetingkan kulit dari isi­nya, terjauhkan. Siapapun tahu kre­dibilitas Ahok sebagai gubernur yang me­mang belum terbukti melakukan ko­rupsi. Ahok juga selama ini telah mem­bangun birokrasi yang diusahan bersih dari koruptor dan para PNS di DKI Jakarta yang tidak profesional. Semua orang tahu itu sampai ke pelosok seluruh negeri. Ha­nya Ahok terpeleset dengan kata-ka­tanya sendiri. Ibarat sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali akan terjatuh juga. Atau mulut kamu harimau kamu, menjadi takdir Ahok saat ini.

Saat ini kasus penghinaan agama yang disangkakan kepada Ahok sudah dilim­pah­kan ke Kejaksaan. GNPFMUI juga sudah datang ke kejaksaan sebagai bagian dari pengawalan kasus ini. Meminta agar kejaksaan bekerja sesuai dengan koridor hukum.

Memang seandainya tidak dalam sua­sana Pilkada, terlebih masa kampanye saat ini, Ahok diproses hukum, keadaan­nya tidak seluas saat ini. Yang dituduhkan ada­nya banyak kepentingan bermain di­belakang kasus Ahok.  Sampai-sampai Pre­­siden RI Joko Widodo melakukan ber­ba­gai safari ke elemen-elemen stra­tegis bangsa. Termasuk dua kali bertemu de­­ngan Prabowo Subianto, rivalnya dalam Pil­pres 2014 yang lalu. Jokowi juga me­nemui para Ketua Parpol pe­ngusung pe­merintahannya, termasuk man­tan presiden ke  RI ke-5 Megawati Su­karnoputri.

Sementara Ahok tidak kelihatan ber­kampanye di wilayah Jakarta. Ia hanya me­lakukan pertemuan dengan para sim­patisannya di rumah Lembang, Menteng Jakarta Pusat. Bisa saja Ahok menghin­dari berbagai penolakan masyarakat. Banyak penolakan yang sudah dialami Ahok di berbagai tempat. Termasuk juga penolakan terhadap wakilnya, Djarot Saiful Hidayat.

Soal menang pada Pilkada 2 Pebruari 2017 mendatang siapa tahu ia bernasib sama dengan Mr. Donald Trump di Negeri Ba­pak Demokrasi itu! Bukankah begitu ting­ginya poluralitas rivalnya, Hillary Clin­ton di cetak para lembaga survey. Se­muanya tinggal hati nurani warga Ja­karta yang punya hak pilih. Mau tetap pilih Ahok, mpok Silvi, atau mas Anies?***

Penulis adalah esais, pemerhati sosial-politik.


sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Senin, 15 Jun 2026 11:55

    Warga Minas Rajut Kemandirian Ekonomi Lewat Budidaya Lele

    Minas Jaya-Memasuki masa pensiun sering kali mendatangkan kecemasan tersendiri bagi sebagian orang. Terutama terkait kepastian sumber pendapatan untuk menopang kebutuhan keluarga setelah tidak lagi me

  • Senin, 15 Jun 2026 11:53

    3 Sekolah Rakyat Berhasil Raih Penghargaan Top 100 Excellence Award 2026

    Jakarta - Tiga Sekolah Rakyat berhasil meraih penghargaan pada ajang TOP 100 BUMD, Education, Leader, BPR Excellence Award 2026 yang digelar di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). 3 sekolah itu di antaranya

  • Senin, 15 Jun 2026 11:35

    Sosok Eddy Tansil: Dicari Sejak 1996, Aset Miliaran Disita Negara

    Eddy Tansil, buron legendaris sejak 1996 yang sampai detik ini belum diketahui rimbanya. Namun aset-asetnya sudah ditelusuri dan diserahkan ke negara.Dirangkum detikcom, Senin (15/6/2026), Eddy Tansil

  • Senin, 15 Jun 2026 11:25

    Purbaya Bakal Temui Bos BGN Minggu Ini, Bahas Efisiensi Anggaran MBG?

    Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku akan berkoordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang terkait efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pertemu

  • Senin, 15 Jun 2026 11:22

    Viral ART Asal Indonesia Dianiaya Majikan di Malaysia, Empat Pelaku Ditangkap

    penganiayaan dialami seorang perempuan dinarasikan sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) asal Indonesia bekerja di Malaysia oleh empat orang. Video penganiayaan itu viral di media sosial Threads maupun F

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.