Anak dan Agresifitas
Sabtu, 03 Okt 2015 09:04
Keluarga adalah lingkungan pertama bagi kehidupan anak untuk belajar bersosialisasi dan berinteraksi, di sana mereka mendapatkan pembentukan dasar perilaku dan watak.Pengaruh keluarga dalam pembentukan perilaku sangat besar dalam perkembangan kepribadiannya. Oleh sebab itu orang tua berusaha melakukan yang terbaik bagi keluarganya, ada banyak cara yang dilakukan agar dapat membuat seisi rumahnya menjadi lebih nyaman, aman dan terproteksi dari berbagai hambatan.
Para orang tua memburu kebutuhan hidupnya dengan bekerja keras dengan segala upaya, namun kenyataanya di tengah kesulitan ekonomi yang saat ini sangat mengkhawatirkan, di mana tingkat kecemasan semakin meningkat, ketakutan akan kehilangan pekerjaan tentu berdampak pada kehidupan sosial terlebih dalam keluarga.
Banyak orang tua menjadi lebih sensitif, mudah marah dan ada yang bersikap skeptis. Lingkungan keluargapun mulai berubah dan kekerasan pada anakpun mulai terjadi di dukung oleh ketidak matangan orangtua/ immaturias, kurangnya pengetahuan menjadi orang tua serta pengaruh obat-obatan dan minuman keras.
Saat ini, akibat kekerasan pada anak ada banyak anak-anak kehilangan hati bapaknya sehinga sangat berdampak terhadap terbentuknya perilaku agresif dilingkungan sosial maupun sekolahnya. Fenomena yang baru saja kita dengar di media massa tentang kekerasan dilingkungan sekolah yang dilakukan seorang anak terhadap teman sekolahnya, ini merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak anak Indonesia.
Pertanyaannya dari mana sikap-sikap kekerasan itu terwariskan ? tentu jawaban yang sangat mudah dan sederhana sebahagian besar dipengaruhi dari lingkungannya. John Locke mengatakan "a sheet ot white paper avoid of all characters" artinya bahwa manusia yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi. Jadi, sejak lahir manusia itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, manusia dapat dibentuk oleh lingkungan sosialnya.
Lingkungan Membentuk Prilaku Anak
Di sini kekuatan ada pada lingkungan. Lingkungan berkuasa atas pembentukan perilaku bahkan kepribadian manusia. Untuk mensikapi fenomena tersebut ada beberapa tips yang dapat menjadi rujukan mengantisipasi agar potensi agresifitas pada anak terkontrol dan tidak menjadi perilaku yang menyimpang dilingkungannya.
Pertama, mengenali perkembangan anak. Orang tua harus perduli dan konsen disetiap fase perkembangan anak sejak dini, dimulai saat dia dalam kandungan. Banyak kasus yang menceritakan ada banyak anak-anak mengalami gangguan mental maupun perilaku akibat kekerasan fisik dan psikis yang dirasakan ibunya saat mengandung. Berikanlah asupan nutrisi yang seimbang bagi perkembangan anak, kita harus menghilangkan anggapan bahwa pengasuhan hanya di serahkan kepada ibunya.
Atau pengasuhan diserahkan sepenuhnya kepada pembantu atau sopir. Jika itu terjadi maka anak akan cenderung mengalami hambatan dalam perkembangannya prihal akan otoritas dan ketegasan, anak akan lebih sensitif dan cenderung emosional sehingga penyaluran agresifitas menjadi kurang bertanggung jawab.
Kedua, pendampingan. Tingginya jabatan serta meningkatnya kebutuhan hidup tidak menjadi alasan pembenaran tidak adanya waktu yang diberikan untuk mendampingi anak, untuk menuntut kuantitas saya setuju sulit sekali untuk diwujudkan namun kualitas pertemuan (quality time) yang harus benar-benar dapat terealisasikan. Berusahalah memprioritaskan waktu untu keluarga, tinggalkan sejenak sms, bbm,wa dan medsos lainnya saat bersama dengan mereka sehingga sentuhan itu akan jauh bermanfaat dalam pertumbuhan kejiwaan anak untuk menghindari perilaku yang kurang normatif.
Setiap pertemuan upayakan ada asupan nilai-nilai/value yang disepakati untuk kemajuan dan perkembangan pribadi anak, jangan ragu memberi dia hadiah saat kesepakatan itu terwujud, hal itu tentu berguna untuk meningkakan motivasi dan percayadirinya. Pendampingan dapat dilakukan saat dia sedang belajar, nonton atau bermain games. Pastikan anak untuk tidak main games yang berbau kekerasan karena akan mempengaruhi perkembangan jiwanya. Ada 4 waktu berharga yang dapat diberikan seperti dianjurkan oleh Dr Tim Elmore dalam bukunya Nurturing The Leader Within Your Child, yakni, saat makan (meal time), saat berpergian (travel time), saat menjelang tidur (bed time), pagi hari (morning time).
Ketiga, menjadi teladan. Tidak ada yang bisa menggantikan keteladanan. Orangtua yang menjadi pemimpin keluarga akan selalu menjadi role model atau acuan dalam segala hal, termasuk penerapan nilai yang ada. Sampaikan dan tunjukkan nilai-nilai keteladanan secara berkala, baik secara formla maupun informal dan jangan lupa selipkan pesan terhadap perilaku yang sesuai dengan norma/budaya dalam lingkungan sosial maupun keluarga.
Keempat, pemulihan (recovery). Saat terjadi ketidaksepahaman lakukan pemulihan secepatnya agar tidak meninggalkan trauma yang berkepanjanagan dan dapat mempengaruhi perkembangan kejiwanya. Bangun keterbukaan pada anak untuk membantunya dalam mengelola emosinya. Setiap hari tanyakan kondisi perasaannya dalam menghadapi berbagai kesulitan baik disekolah maupun lingkungannya.
Kelima, pendidikan dalam keluarga. Pendidikan adalah sesuatu yang penting untuk didapatkan dan yang lebih penting lagi adalah pendidikan dalam keluarga. Pendidikan ini merupakan tanggungjawab yang harus diberikan orang tua karena mampu membentuk karakter pada anak. Megawangi (2004), anak-anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter ketika tumbuh pada lingkungan yang berkarakter.
Pendidikan karakter dapat ditularkan melalui berbagai aktivitas yang tidak selalu didapatkan dari luar rumah seperti, memperlihatkan perilaku sopan santun, berkata-kata dengan sopan, mengerjakan pekerjaan sehari-hari.
Dan yang terpenting juga adalah melakukan aktivitas ibadah bersama dengan anak. Jika orang tua gagal dalam memberikan pendidikan karakter didalam rumah maka rentan bagi anak untuk kuat mempertahankan dan menghadapi tekanan atau situasi yang kurang normatif diluar rumah.(analisadaily.com)
Opini
Satgas Pamtas Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad Kembali Ukir Prestasi, Gagalkan Penyelundupan 21,4 Kg Sabu dan Amankan WNA di Entikong
Entikong - Satgas Pamtas RIâ€"Malaysia Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad kembali menorehkan prestasi gemilang dalam menjaga kedaulatan negara dan melindungi generasi bangsa dari ancaman narkotika. Personel P
Taekwondo Indonesia Loloskan 3 Atlet ke Asian Games Nagoya 2026, Siap Tantang Raksasa Asia
Jakarta - Tidak semua kemenangan diumumkan dari atas podium. Sebagian datang lebih dahulu melalui lembar hasil pertandingan, akumulasi poin, dan keputusan resmi yang memastikan sebuah negara berhak me
Liquid Narkoba Beredar di Pekanbaru, dr. Nining: Jangan Pernah Mencoba Kalau Tidak Mau Kecanduan
Jangan pernah mencoba, sebab isi pod getar bukan seperti vape yang isinya hanya sekadar nikotin.Tapi pod getar ini memang dikaitkan dengan zat yang isi di dalamnya itu adalah mengandung etomidat.Sekar
Antusias Warga dan Personel Polling Dukung Tim Jagoan,
PEKANBARU - Antuasias Piala Dunia 2026 tampak di seluruh Polsek Polres Dumai, Sabtu (13/6/2026).Bersama dengan warga, semangat perhelatan sepakbola dunia empat tahunan tersebut begitu terasa lewat keg
KPK Sita Dokumen Penting Terkait Kasus Suap Pengadaan di Muara Enim
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan penyitaan sejumlah dokumen penting terkait proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim. Tindakan ini merupakan bag