Rabu, 29 Apr 2026

Budaya Membaca

Selasa, 08 Sep 2015 10:18
Ilustrasi

Pada tahun 2008 UNESCO menetapkan Indonesia sebagai model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Suatu prestasi yang membanggakan karena negara kita dianggap bisa mengentaskan kegelapan aksara secara signifikan sebesar 90 persen, sedangkan negara berkembang lain hanya mencapai 69 persen saja. Tetapi di lain pihak International Educational Achievement mencatat minat baca para siswa dan mahasiswa di Indonesia paling besar nomornya di kawasan ASEAN. Dari 39 negara yang dijadikan sempel penelitian, Indonesia menempati urutan ke-38!

Tingkat melek huruf yang tinggi belum tentu menjadikan minat baca yang tinggi pula. Mengapa demikian?

Budaya membaca bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba tapi melalui faktor kebiasaan dan harus dengan lingkungan yang mau mendukung hal ini. Pada sektor intitusi pendidikan misalnya para guru hanya mewajibkan membaca bab atau buku yang akan dipelajari pada mata pelajaran itu. Ketika saya masih duduk di bangku sekolah tidak ada guru-guru seperti di Australia yang mengharuskan saya mempresentasikan buku yang saya baca setiap minggu. Setiap minggu, siswa-siswa di Australia diwajibkan membaca 1 buah buku yang berbeda.

Tak hanya di sektor pendidikan saja, kebiasaan baik yang dibangun di rumah harus mengena pula. Di Malaysia pemerintahnya menganggap orangtua adalah faktor vital dalam membangkitkan minat baca buku ini. Pustaka publik di negara itu meminjamkan buku pada orangtua dan menggantinya dengan buku yang baru beberapa minggu kemudian. Melalui program ini akses buku dipermudah. Kita sebenarnya juga mempunyai akses bebas ini mungkin tidak melalui buku yang dipinjamkan ke orangtua tetapi melalui satu ruangan yang di isi berak-rak buku, yaitu perpustakaan.

Akses ini memang gratis. Tapi dilihat dari segi kuantitas perpustakaan, tiap daerah belum tentu mempunyai satu perpustakaan daerah. Kalau pun punya, kelengkapan bukunya juga perlu dipertanyakan. Sewaktu saya kecil saya sangat suka membaca buku bergambar. Suatu hari kami melewati sebuah gedung di daerah Jakarta pusat dengan bacaan Perpustakaan Umum Daerah. Tetapi ketika saya masuk ke perpustakaan itu dan mencari buku bergambar yang saya inginkan, ternyata harapan saya tertiup angin.

Seorang pendidik pernah berkomentar, "Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah. Pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah perpustakaan, bukan guru. Guru hanya berperan mengarahkan". Di Indonesia, Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1 persen. Sedangkan SMP dan SMA kurang dari 54 persen. Sepengalaman saya bersekolah di sekolah negeri di Pematang Siantar, saya belum pernah menemukan perpustakaan yang mendukung saya untuk mengeksplorasi terus tempat bacaan tersebut. Malahan saya pernah bersekolah di sekolah tanpa perpustakaan. Toko buku kerap menjadi tempat bersinggah yang lebih menyenangkan.

Ketika duduk di bangku kuliah, perpustakaan universitas kami hanya didominasi oleh buku-buku skripsi. Jika membutuhkan buku-buku yang sangat berhubungan dengan jurusan kami, kami harus pergi ke perpustakaan pusat di daerah lain. Terkadang kami tidak bisa menemukan buku tersebut, jadilah harus melanglang buana ke toko-toko buku.

Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba Jakarta Pusat memang memiliki buku-buku lama yang sulit dicari lagi, tapi dari segi fasilitas masih jauh. Suatu keirian di hati saya ketika melihat perpustakaan di salah satu univesitas di Korea, disana mahasiswa tak hanya dimanjakan dengan kelengkapan buku, film, maupun cd musik tapi kenyamanan juga disajikan tempat itu. Para mahasiswa juga disediakan tempat belajar bahkan matras di ruang istirahat.

Bila pepustakaan tak bisa diadakan, harga buku yang jauh dari kantong juga menjadi faktor mengapa membaca buku belum menjadi makanan sehari-hari di negeri ini. Aktivitas mengulik buku belum dijadikan menu wajib di setiap subjek pembelajaran di sekolah. Kalau toh ada kegiatan membaca buku, itu bersifat seketika, tidak sengaja, mendadak, reaktif, bukan bagian dari sistem yang dirancang secara tetap, dan terukur.

Memakan gizi buku bisa menggantikan sekolah. Apa iya? Seorang sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi bisa menjadi salah satu guru besar tamu di Universitas di Jepang tanpa menamatkan SMA. Ia tak tiba-tiba mendapatkan wangsit. Ketika dahulu ia duduk di Taman Madya (SMA) dan hendak mengikuti ujian penghabisan ia memutuskan untuk tidak mengikutinya karena terpengaruh oleh berita di surat kabar yang berisi bahwa siswa menyogok para pejabat yang berwenang untuk mendapatkan soal ujian. Ia tidak ingin seperti orang-orang tersebut yang menggantungkan hidupnya dengan ijazah, jadilah ia berprestasi dalam membaca agar dapat menyaingi para empunya ijazah.

Saya pun pada akhirnya juga mencari jawaban di buku. Tak hanya masalah kuliah dan pengajaran saya sebagai seorang dosen, tapi hal pribadi yang mengusik bisa dicari jawabannya pada buku yang kita baca. Betapa buku tak hanya menjadi sudut pandang lain tapi juga menjadi teman, ijazah, dan pengisi kotak-kotak kosong dalam otak kita.

Menurut Brewer (1997) anak zaman sekarang adalah "print-society". Apa yang mereka lihat sehari-hari itulah yang akan mereka terapkan, para anak kecil merespon ke lingkungan print tadi tanpa dikenalkan pada instruksi formal membaca. Kita adalah generasi peng-copy bukan pembaca.

(harian analisa)
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.