Selasa, 05 Mei 2026
Cakap Sehat Sempena Hari Asma Se Dunia 2026
Oleh : dr. Yessy Susanty Sabri, SpP(K), FISR, FAPSR
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 05 Mei 2026 10:27
Akses ke Obat Anti Inflamasi Inhalasi Bagi Penderita Asma, masih Kebutuhan Mendesak
Hari Asma Sedunia, yang kita peringati diperingati pada tanggal 5 Mei tahun ini merupakan peringatan hari asma yang ke-28 sejak pertama kali dicanangkan pada tahun 1998 lalu.
Peringatan ini, dicanangkan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit asma, pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat bagi semua penderita asma.
Kesadaran dini tentang asma, baik bagi pasien, keluarga maupun tenaga kesehatan, akan menyebabkan asma dapat dideteksi dengan cepat dan pengobatan yang tepat segera dilakukan. Kolaborasi antara pasien, keluarga, tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan sangat dibutuhkan agar penyakit ini dapat terkontrol dengan baik.
Kerja sama yang baik ini tentu akan dapat menekan angka kesakitan serta kematian akibat asma.
Asma adalah penyakit dengan angka kejadian antara 1�"29% di seluruh dunia. Kisaran ini sangat lebar sehingga posisi penyakit ini di setiap negara juga berbeda.
Persentase penderita asma di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 adalah 1,6%. Berdasarkan data WHO, Indonesia merupakan negara ke-47 dalam jumlah penderita asma. Jumlah total penderita sebanyak 877.531 orang.
Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi dengan angka kejadian asma tertinggi, yaitu 3,5%, diikuti Jawa Barat dan Kalimantan Timur masing-masing 2,4%. Angka kematian akibat penyakit ini adalah 27,635 orang. Tingkat kematian berkisar antara 13,37 per 100.000 penduduk.
Angka-angka di atas memberikan peringatan kepada kita semua bahwa asma masih menjadi permasalahan di Indonesia. Berdasarkan definisinya asma adalah suatu penyakit yang heterogen yang disebabkan oleh inflamasi/peradangan kronis pada saluran napas.
Gejala respirasi yang timbul berupa sesak napas dengan bunyi menciut, dada terasa berat dan batuk. Gejala ini bervariasi berdasarkan waktu dan intensitas serta adanya variabel hambatan aliran udara ekspirasi. Dasar utama yang menimbulkan penyakit asma adalah inflamasi/peradangan pada saluran napas dan alergen yang akan mencetuskan gejala.
Gejala asma dapat membaik dengan atau tanpa pengobatan, dapat menghilang dalam hitungan bulan atau tahun, tapi sebaliknya dapat menjadi berat sehingga membutuhkan rawatan, bahkan kematian bila tidak cepat diatasi.
Kurangnya pemahaman terhadap penyakit ini dapat menyebabkan pasien berpikir tidak perlu lagi pengontrolan penyakit saat gejala sudah tidak dirasakan.
Tujuan pengobatan jangka panjang asma berdasarkan Global Initiative for Asthma (GINA) tahun 2025, adalah pengontrolan jangka panjang terhadap gejala (gejala tidak ada/jarang, tidak ada gangguan tidur karena asma serta gangguan aktivitas fisik) dan meminimalisasi risiko jangka panjang asma terkait kematian, eksaserbasi, hambatan aliran udara yang menetap serta efek samping obat. Harapan pasien terhadap penyakitnya juga merupakan hal yang harus diakomodasi dalam tujuan pengobatan jangka panjang asma.
Pencapaian terhadap target pengobatan asma ini merupakan upaya berkelanjutan antara pasien, keluarga agar mematuhi rencana pengobatan yang tetah ditetapkan.
Pilihan utama pengobatan penyakit asma adalah dengan menggunakan terapi inhalasi atau di kalangan umum dikenal dengan obat hisap. Obat hisap yang digunakan untuk pasien asma biasanya terdiri dari dua kategori obat.
Obat pertama adalah obat kontroler yang digunakan untuk mengontrol gejala jangka Panjang. Obat ini biasanya terdiri dari obat untuk membuka sumbatan saluran napas dan obat antiinflamasi untuk menekan peradangan kronis yang merupakan dasar dari terjadinya gangguan pada saluran napas pasien asma. Obat kedua adalah obat reliever yang berfungsi untuk mengatasi segera gejala penyempitan saluran napas yang terjadi secara tiba-tiba.
Kedua jenis obat diresepkan oleh dokter berdasarkan keadaan pasien dan dapat diturunkan atau ditingkatkan dosis dan jumlah obatnya berdasarkan tingkat kontrol asma pasien. Penggunaan obat oral tidak direkomendasikan lagi, kecuali ada indikasi khusus pada pasien.
Tema peringatan asma tahun ini menekankan pentingnya penggunaan obat antiinflamasi inhalasi bagi pasien asma.
Pemberian obat pelega saluran napas saja tidak cukup untuk mengatasi permasalahan yang dialami pasien. Inflamasi atau peradangan pada saluran napas penderita asma adalah mekanisme utama yang menimbulkan gejala asma pada pasien, yaitu sesak napas, mengi, batuk, atau dada yang terasa berat.
Keadaan inilah yang coba disampaikan oleh GINA pada peringatan tahun ini, agar pasien dan dokter memahami pentingnya penggunaan obat antiinflamasi inhalasi sebagai dasar pengobatan pasien asma.
Tujuan akhir dari pemberian obat yang tepat pada pasien asma agar pasien dapat hidup normal tanpa gangguan dari asma dapat tercapai. Semoga (*)
komentar Pembaca