Sabtu, 01 Agu 2026

Dampak Sosial Kekeringan Akut

Selasa, 04 Agu 2015 10:37
Ilustrasi

Seperti tahun sebelumnya dampak El Nino sangat dirasakan oleh bangsa ini/El Nino telah menyumbang kondisi kekeringan yang kronis dibanyak daerah yang akibatnya adalah terjadinya kekurangan air bagi sektor pertanian dan masyarakat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data mutakhir yang menyatakan sedikitnya 12 provinsi mengalami kekeringan serius. Di antaranya, 77 kabupaten kota dan 526 kecamatan di Jabar, Banten, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT, Lampung, Sumsel, dan Sulsel. Bahkan, cadangan air untuk wilayah Bali, Jawa dan Nusa Tenggara minim sekali. Secara kuantitatif, defisit air, terutama di Jawa dan Bali mencapai 18,79 miliar meter kubik.

Kekeringan serius berdampak terganggunya pasokan salah satu kebutuhan primer, yaitu air untuk konsumsi manusia, ternak dan pertanian. Dari tayangan televisi, warga di beberapa daerah berbondong menuju tepian sungai membawa jerigen untuk menimba air dari hanya satu sumber mata air di pinggir sungai.

Penyebab kekeringan, antara lain: 1) menipisnya vegetasi tanaman di perkotaan dan hinterland-nya. 2) Pertumbuhan industri amat pesat, diikuti peningkatan kadar CO2 di udara sehingga pada gilirannya menciptakan efek rumah kaca. 3) Penyusutan luas hutan, di mana luas Indonesia 190 juta hektar atau 1,9 juta kilometer, luas hutan saat ini 136.174.000 hektar, sedangkan hutan yang masih berfungsi dengan baik hanya tersisa 40% atau 54 juta hektar. 4) Kebakaran hutan, menjadi salah satu pemicu kenaikan suhu udara di dunia dan berimplikasi secara global dalam perubahan iklim global.

Kementerian Pertanian merilis data terbaru ancaman kekeringan terhadap pertanian sawah. Sawah yang mengalami kekeringan sampai Juli 2015 mencapai 189.000 hektar, yang mengalami puso 25.000 hektar. Ancaman gagal panen padi mencapai ratusan ribu hektar tersebut terdapat di 96 kabupaten. Dampak riil yang berada di depan mata adalah trend kemungkinan produksi beras tahun ini bisa sedikit terganggu. Dalam TA 2014 dan 2015, pemerintah menyiapkan sekitar 13 ribuan pompa air untuk membantu petani. Persoalannya, jika tak ada sumber air dari sungai maka pompa air tidak mungkin difungsikan atau berfungsi.

Jangan menyepelekan permasalahan kekurangan air, apalagi membiarkan atau sengaja tidak menanganinya secara komprehensif, tanpa solusi konkret dengan segera. Kekeringan berisiko memicu berbagai bentuk tindak kriminal atau kekerasan.

Ternyata iklim yang panas salah satu sumber tindakan kriminalitas atau aksi kekerasan bagi penduduk terdampak. Ilmuwan sosial (psikolog, kriminolog) mencoba mengaitkan pengaruh iklim yang panas dengan pembentukan watak dan perilaku manusia. Bisa jadi iklim yang panas dan kondisi kekeringan hingga orang sulit memperoleh air untuk berbagai keperluan, membuat orang cepat 'naik darah'. Bisa saja mereka makin beringas, mudah tersinggung, dan cenderung melakukan perbuatan kasar dan jahat.

Kekeringan sebagai pemicu persoalan serius berupa aneka tindak kriminal atau kekerasan di berbagai wilayah bukan hal baru di sini. Juga, hal sama berlangsung di banyak negara belahan dunia.

Negara Tidak Hadir

Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jateng, pada Maret 2015, sesama kaum tani bermusuhan karena rebutan air untuk tanaman tembakau, padi, dan jagung. Yang memprihatinkan, negara tidak hadir. Permasalahan air makin berat juga dipicu perusahaan air minum dalam kemasan yang menyedot air di desa ini dalam volume yang amat besar.

Tidak hanya di Klaten, privatisasi air menyuburkan kemunculan perusahaan air kemasan. Seiring itu, konflik air merebak hampir di seluruh Indonesia. Konflik warga dengan perusahaan air kemasan ada di Sukabumi, Karo, dan Bali.

Belakangan, konflik terkait air juga membenturkan rakyat dengan industri. Konflik di antara perusahaan semen dengan petani di Rembang dan Sukolilo-Pati (Jateng). Konflik juga terjadi antara industry perhotelan dengan warga Yogyakarta dan Malang (Jatim).

Pemerintah daerah yang wilayahnya mengalami kekeringan harus serius hadir dan mengantisipasi kemungkinan timbulnya kekerasan antarwarga melalui alternatif yang tepat. Tindakan pre-empetive atau pencegahan dari kemungkinan tindak kekerasan harus dihindari atau perlu diantisipasi.

Penelitian sudah dilakukan di beberapa negara tentang perubahan iklim/kekeringan yang memicu tindak kekerasan, mengharuskan pemerintah secara bijaksana perlu belajar untuk mengambil langkah antisipasi mencegah hal yang tidak diinginkan.

Perubahan iklim, ternyata tidak hanya memicu munculnya cuaca ekstrem, hujan badai, menyebabkan banjir dan bencana alam lainnya. Perubahan iklim diduga juga menjadi penyebab meningkatnya kejahatan kekerasan di berbagai belahan dunia.

Berbagai konflik kekerasan yang terjadi di dunia sangat erat terkait dengan konflik, orang mulai pindah dari daerah yang rawan ke wilayah lainnya dan memulai konflik dengan populasi yang sudah ada di sana. Pola ini sudah terbukti di seluruh dunia, dan para ahli bahkan cukup yakin bahwa konflik di Darfur, Sudan juga terkait dengan perubahan iklim.

Para ahli yang melakukan penelitian ini mengambil berbagai contoh dari berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di Brasil, Tiongkok, Jerman dan Amerika. Penelitian ini sudah diterbitkan di jurnal ilmiah Science.

Para peneliti berpendapat bahwa kenaikan kecil suhu udara atau pola cuaca yang tidak biasa, bisa memantik terjadinya pola perilaku kekerasan. Hal ini dijelaskan oleh para ahli lewat temuan kasus di

India dan Australia saat mengalami kekeringan; lalu kasus invasi lahan juga terkait dengan cuaca buruk di Brasil; dan berbagai kasus penyerangan dan pembunuhan di Amerika dan Tanzania.

Peneliti utama Solomon Hsiang, dari University of California, Berkeley menyimpulkan bahwa konflik, termasuk kekerasan domestik dan kekerasan etnik, semakin meningkat seiring dengan kenaikan temperatur udara. Para peneliti mengatakan bahwa dari seluruh 27 kasus di masyarakat moderen yang dipelajari menunjukkan bahwa suhu udara yang lebih tinggi berkorelasi dengan naiknya angka kejahatan kekerasan.

Namun, mereka tidak menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meyakinkan hasil penelitian ini dan menjelaskan mengapa hubungan antara cuaca dan kekerasan bisa terjadi. Berbagai alasan bisa menjadi sumber kekerasan ini, mulai dari kesulitan ekonomi akibat gagal panen atau keringnya udara akibat kemarau, hingga dampak fisiologis dari udara yang panas.

Sudah saatnya pemerintah mengubah mindset jangan melihat kekeringan atau kekurangan air sebagai bencana an sich. Pemerintah juga dituntut melakukan pembaruan demokrasi yang pro terhadap pemeliharaan lingkungan hidup yang menjamin kontinuitas pasokan air bagi kebutuhan warga.
(analisadaily.com)
Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 01 Agu 2026 16:50

    Polda Metro Siapkan Pengamanan 47 Kegiatan di Jakarta dan Sekitarnya

    Jakarta - Polda Metro Jaya mengamankan 47 kegiatan yang berlangsung di wilayah hukumnya hari ini. Kegiatan terdiri dari tiga penyampaian pendapat di muka umum dan 44 kegiatan masyarakat.Kabid Humas Po

  • Sabtu, 01 Agu 2026 16:20

    Purbaya Janji Nggak Ada Kenaikan Pajak, tapi Kejar Penunggak

    Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan menaikkan tarif pajak meski berupaya meningkatkan penerimaan negara. Langkah yang ditempuh adalah mengoptimalkan penagi

  • Sabtu, 01 Agu 2026 16:17

    AXIS Nation Cup 2026 Kembali Digelar, Perkuat Pembinaan Talenta Futsal Pelajar di 40 Kota

    JAKARTA-PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) melalui brand AXIS kembali menghadirkan AXIS Nation Cup (ANC) 2026, turnamen futsal antarpelajar jenjang SMA dan SMK yang memasuki tahun keempat peny

  • Sabtu, 01 Agu 2026 16:14

    Mulai 3 Agustus, Ribuan UMKM Bisa Urus NIB hingga Sertifikat Halal Gratis di DPMPTSP Riau

    PEKANBARU - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ingin mengurus legalitas usaha secara gratis diminta memastikan seluruh dokumen persyaratan telah lengkap sebelum mendatangi lokasi pela

  • Sabtu, 01 Agu 2026 16:12

    Jenguk Pasien RSUD Dorak, Bupati Asmar Pastikan Mutu Layanan Meranti

    MERANTI - Bupati Kepulauan Meranti Asmar mengunjungi tokoh masyarakat Katan beserta sejumlah warga yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dorak, Selatpanjang, Jumat (31/7/20

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki