Rabu, 05 Agu 2026
  • Home
  • Opini
  • Generasi Muda dalam Lingkaran Terorisme

Opini

Generasi Muda dalam Lingkaran Terorisme

Oleh: M. Samsul Arifin
Minggu, 06 Nov 2016 10:00
Internet
Ilustrasi
SEDERET serangan teror di se­jum­­lah negara mem­perlihatkan peran ge­­nerasi muda. Peran mereka yang ma­sih di­katakan belia dalam lingkaran te­­rorisme, termasuk di Indonesia, men­­jadi tak terbantahkan. Untuk me­nga­­tasinya, tentu harus bersifat se­mesta ber­sama seluruh komponen bang­sa.

Beberapa waktu lalu seorang anak berumur 17 tahun kedapatan akan melakukan bom bunuh diri di gereja St. Yohanes. Beruntung, aksi mele­dak­kan diri itu gagal, serta tak jadi me­newaskan pelaku sendiri (dengan inisial IAH) dan jemaat di gereja ter­sebut. Karena aksi itu, kedua orang­tuanya meminta maaf kepada Pastor dan pihak terkait ka­rena merasa tak mampu membim­bing dan mengawasi segala gerak-gerik anaknya.

Aksi teror IAH itu menambah memperpanjang daftar generasi muda yang terlibat dalam lingkaran tero­risme. Selain IAH, sederet lain yang terlibat dalam aksi teror di Indonesia berada pada kisaran umur 23-27 tahun. Mereka antara lain: Ayip Hidayat (21) asal Ciamis (peledakan bom di raja bar's Bali); Wisnu alias Misno (23) asal Cilacap (peledakan bom di Menega Cafe Bali); M. Salik Firdaus (23) asal Majalengka (peledakan bom di Menega Cafe Bali); dan sebagainya.

Di luar negeri juga ada kecenderu­ngan yang sama. Generasi muda yang masih beliau juga terlibat dalam aksi terorisme di negaranya. Salah satunya, me­letusnya bom bunuh diri di salah satu pesta perkawinan di Beybahce, Dis­trik Sahinbey, Gaziantep, Turki pada Sabtu (20/8). Yang mem­pri­ha­tin­kan dari aksi itu pelaku peledakan bom bunuh diri adalah anak dengan perki­raan usia 12-14 tahun.

Di Eropa, misalnya lagi, juga ada kecenderungan yang sama. Apalagi setelah tragedi pada 11 September 2001. Jika para teroris sebelum tragedi WTC, misalnya, didominasi oleh "kaum tua" yang berpengalaman ber­perang di daerah konflik seperti Af­gha­nistan, maka para pelaku teror be­lakangan ini mem­perlihatkan kian mu­danya usia me­reka. Ini artinya, pe­nga­nut ideologi ra­dikalisme dan tero­risme keagamaan di Eropa juga cen­de­rung bergerak semakin 'muda' (Ste­panova, 2007).

Menyebabkan Ketakutan

Istilah terorisme terdiri dari kata da­sarnya adalah kata 'teror'. Kata 'te­ror' berasal dari bahasa latin 'terrere' yang berarti 'menakuti', 'menggigil', atau 'gemetar'. Ketika kata 'teror' ditambah akhiran yang ada dalam ba­hasa Prancis, isme, maka menjadi tero­rism yang berarti "membuat gemetar" atau "menyebabkan ketakutan".

Menurut Schmit (1983), ada 109 definisi akademik istilah terorisme. Dari itu semua, yang pasti adalah, te­ro­risme selalu dicirikan dengan peng­­gu­na­an kekerasan, kekejaman kepada sa­saran mereka. Artinya, ke­kerasan dan kekejaman menjadi corak khas daripada aksi terorisme. Dengan cara-cara seperti ini­lah yang menjauh­kan teroris dari ni­lai-nilai kemanu­sia­an yang menjun­jung peradaban.

Kini, aktifitas teroris dapat kita te­­mu­kan di mana-mana. Mereka hadir di ber­bagai belahan bumi dengan tu­juan ge­rakannya yang beragam, mulai dari fak­tor ekonomi hingga religius eks­­trim. Untuk mewujudkan tujuan me­reka itu, beragam cara mereka la­kukan, ter­masuk itu dengan cara bom bunuh diri.

Pertanyaan yang dapat dikemu­ka­kan di sini ialah, me­ngapa orang-orang men­­jadi teroris? Mengapa generasi muda juga ikut terlibat dalam aksi teror di ber­bagai belahan dunia?. Per­tanyaan-per­tanyaan ini penting untuk kita jawab sebagai upaya mem­ben­dung masyar­a­kat umum dan generasi muda khu­sus­nya terlibat dalam ke­lompok yang lebih suka pada keke­ra­san dan kekejaman.

Peneliti psikologi teror UIN Jakarta Gazi Saloom mengatakan, pelaku teror adalah pribadi normal, bisa berpikir sehat, dan tak memiliki masalah dengan psikopatologi. Namun, ternyata mereka dipicu hal-hal psikologis, seperti ke­hi­langan sesuatu, sedang mengalami ke­ga­galan, atau lainnya.Krisis identitas itu bisa dialami semua orang. Sebab itu, semua orang berpeluang menjadi te­roris.

Sementara itu, generasi muda ada­lah re­krutmen calon teroris yang po­tensial. Me­reka biasanya dengan mu­dah di­bujuk dengan narasi radika­lis­me dan te­rorisme. Artinya, anak muda ada­lah segmen usia yang rentan ter­hadap keter­paparan paham keaga­ma­an radikal. Sedangkan kebanyakan pa­kar radika­lisme dan terorisme, me­nurut J.M. Ven­haus (1995) menunjuk pada faktor psi­ko­logis-sosial sebagai pe­micu keter­li­batan anak muda dalam fe­nomena radi­ka­lisme, seperti (1) kri­sis psikologis, (2) identifikasi sosial, (3) pencarian sta­tus, dan (4) balas den­dam terhadap 'musuh'.

Deradikalisasi

Umar Farouk Abdulmutallab per­nah mengisahkan mengapa dirinya me­milih bergabung dengan Al-Qae­dah (dalam special report, Mei 2010, United States Institute of Peace). Ia ber­cerita, "saya tak punya kawan. Saya tak punya kawan un­tuk bisa di­ajak bicara, tak ada kawan yang bisa diajak konsultasi, tak ada kawan yang mendukung saya. Lagi pula, saya me­rasa tertekan dan sendi­rian. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan".

Jika melihat generasi muda yang men­jadi pelaku teror, ternyata tak di­pengaruhi oleh status ekonomi, tingkat ke­­­cerdasan, atau status pekerjaan. Lalu apa kesamaannya? Kesamaan di an­tara me­reka ialah mereka mem­bu­tuh­kan ber­­makna secara signifi­kan.Sebab itu, un­tuk mencegah terus ber­kembangnya generasi muda yang menjadi teroris, pro­gram deradi­ka­li­sasi haruslah me­nye­luruh.

Deradikalisasi bisa dengan pende­ka­­tan yang beragam, seperti pendidi­kan, budaya, agama, sosial, hingga psi­ko­logi. Deradikalisasi bukan saja uru­san ormas semata dan BNPT, tapi juga tang­gungjawab semesta. Kita se­cara bersama harus ikut terlibat dalam upaya deradikalisasi tersebut. Inilah ko­lekti­vi­tas memerangi terorisme dan mem­­ben­dung generasi muda menjadi bagian dari terorisme.

Terorisme tetap membutuhkan aten­si publik. Sebab itu, untuk mem­per­sem­pit dan mengurangi geraknya te­roris, penolakan terhadap terorisme ha­rus terus digalakkan. Ini dilakukan un­tuk menyadarkan kepada mereka bah­wa ma­syarakat yang diklaim di­per­juang­kan itu tak menghendaki per­jua­ngan mereka yang dilakukan dengan ke­kerasan dan kekejaman. Wallahu a'lam.***

Penulis adalah Pegiat Forum Penulis Muda Jogja.

Sumber: harian.analisadaily.com


Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 04 Agu 2026 16:49

    Jawab Isu Status BI, Menkeu Sebut Perubahan Sistem Kurang Tepat

    JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons isu yang menyebutkan Bank Indonesia (BI) akan masuk di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia memastikan wacana ters

  • Selasa, 04 Agu 2026 16:14

    Gelar Sesepuh Raja-raja Timor Pada Jokowi Ditolak Banyak Pihak, PSI Klaim Sudah Korum

    Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, memberikan respons terhadap polemik yang muncul usai mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat sebagai Sesepuh Raja-Raja T

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:37

    Pria di Minas Ditemukan Tewas di Semak Dekat Kebun Sawit, Dilaporkan Hilang 6 Hari Lalu

    SIAK-Dilaporkan hilang, seorang pria ditemukan meninggal dunia setelah enam hari di semak belukar dekat kebun sawit warga di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Korban diketahui

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:21

    Pasar Murah Pemprov Riau Hari Ini di Rumbai Barat, Ada Beras hingga Minyakita Harga Terjangkau

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali menggelar pasar murah di Kota Pekanbaru pada Selasa (4/8/2026).Kali ini, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Camat Rumbai Barat sebagai upaya mem

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:20

    Kujungi Pekanbaru, Wamenkes Sebut Kesehatan Masyarakat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Rumah Sakit

    PEKANBARU - Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit, dokter, maupun pelayanan medis. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahtera

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki