Opini
Hilirisasi Penelitian Berbasis Teknologi pada Perguruan Tinggi
Oleh: Mahyuddin K. M. Nasution
Minggu, 06 Nov 2016 09:29
Paradigma klasik yang diperankan saat ini, menyebabkan kebanyakan dosen di PT sehari-sehari hanya mengajar di ruang kelas dengan materi yang tidak pernah diperbaharui, tidak ada bukti dua dharma lain diselenggarakan dengan baik,akibatnya transfer pengetahuan tidak mampu membaiki mutu pendidikan. Sedangkan, pelajaran yang diajarkan dikatakan bermateri baru apabila dilakukan riset pada bidang keilmuan itu. Sudah lama pada bidang akademi, pendidikan berbasis luaran (output): Alumni yang memiliki kompetensi. Sekarang ini, perubahan cara ukur telah juga terjadi pada dharma riset dan dharma pelayanan kepada masyarakat: Pelaksanaan riset tidak lagi berbasis proses, tetapi berbasis luaran seperti publikasi ilmiah; sedangkan pada pelayanan kepada masyarakat, luarannya adalah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Cara pandang ini terus diperbaiki, dharma terakhir harus menjadi langkah awal bagi dunia kampus untuk menghilirisasi penelitian.
Perubahan paradigma dari berbasis proses menjadi berbasis luaran pada tri dharma PT belum cukup untuk meningkatkan kompetensi suatu PT, tetapi dalam rangka itu perlu menghilirisasi penelitian, untuk mendorong tumbuhnya industri yang kuat dan memiliki daya saing, agar produk dalam negeri menjadi tuan di rumahnya sendiri, dan mendorong perekonomian Negara dan masyarakat supaya meningkat. Selain itu, yang terpenting adalah membaiknya indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia.
Konsep dan Alasan Hilirisasi Penelitian
Setiap riset baik yang dilakukan oleh dosen ataupun mahasiswa (tugas akhir, skripsi, tesis atau disertasi) bertujuan untuk mendorong aktivitas akademi menjadi lebih bermutu. Setiap orang agar mampu berkompetisi sesuai dengan kompetensinya tidak saja harus mengetahui (to know) tetapi mampu memahami (do being). Misalnya, seseorang mengetahui dengan baik apa yang disebut dengan kaca spion pada kenderaan bermotor, tetapi ketika seseorang itu mengganti dan mengubah apa yang telah baku tanpa alasan ilmiah, itu menunjukkan ketidakmampuannya memahami keberadaan alat tersebut untuk sebuah sepeda motor. Seseorang tidak sekedar harus memiliki keahlian (skill) tetapi haruslah beretika (moral) untuk mampu berkompetisi dalam dunia modern. Banyak hewan mampu menggunakan alat bantu untuk melangsungkan kehidupannya, tetapi tidak memahami filosofis kehidupannya, yaitu beretika dan berbudaya.
Sains diperlukan sebagai fondasi bagi teknologi sebagaimana riset dibutuhkan untuk memperkaya kebudayaan di mana teknologi berperan dalam kesejahterakan manusia. Oleh karena itu, sains seperti matematika, fisika dan lainnya tidak dengan sendirinya dapat menghadirkan teknologi, perlu adanya kajian terus-menerus dan mendalam agar sains tidak tinggal di dalam buku-buku di perpustakaan, perlu adanya riset untuk menggali potensi-potensi yang mampu meningkatkan kehidupan manusia. Demikian juga, riset agar tidak tinggal dalam kampus dan supaya bermanfaat, haruslah dihilirisasi: Suatu cara untuk membangun budaya riset yang memperkuat perekonomian nasional.
Membangun Hilirisasi
Diperlukan kerjasama tiga parti antara academic, business, dan government (disingkat ABG) untuk membangun hilirisasi riset. Kampus tempat tersimpannya hasil-hasil riset dan masyarakat adalah pasar penerapan riset. Oleh karena itu diperlukan perantara: Bisnis apakah itu bidang industri atau perusahaan untuk menghubungkan luaran riset dengan kebutuhan masyarakat; Pemerintah, yang memiliki kuasa untuk menerapkan kebijakan (hasil riset) dan memiliki wilayah kerja di mana masyarakat berada, bertindak sebagai pemegang komitmen dan pendukung setiap aktivitas. Pertalian erat ABG untuk mengembangkan hilirisasi riset akan melahirkan suatu daerah yang dikelola oleh ABG secara bersama-sama. Daerah itu disebut taman sains dan teknologi (science technopark, disingkat STP).
Teori entropi menyatakan bahwa secara alami segala sesuatu akan mengalami degradasi, yang muda akan tua dan hilang, yang sehat akan sakit dan mati, yang kuat akan lemah dan layu, dan atas dasar itu diperlukan suatu usaha regenerasi setiap bagian yang mengalami degradasi untuk melawannya dengan sifat negatif (membalikkan sifat alami itu). Hal ini juga berlaku dalam dunia bisnis, dunia usaha, dan masyarakat.
Jadi setiap bisnis memerlukan inovasi agar usaha itu mampu bertahan, misalnya suatu bisnis yang memiliki merek perlu mendaftarkan mereknya jika tidak akan dibajak oleh orang lain; jika ada proses dalam bisnis maka perlu mempatenkannya agar terlindungi dari peniruan; jika ada produknya juga perlu diklaim dalam bentuk hak kekayaan intelektual (HKI) agar produk yang sama tidak muncul dan mematikan usaha yang telah dirintis dari awal. HKI setiap hasil rekayasa baik yang wujud (tangible) maupun yang tidak wujud (intangible) perlu diadministrasikan dengan baik untuk mencegah benturan lain disebabkan oleh orang lain yang berkepentingan terhadap keuntungan semata. Semua itu memerlukan riset kembali untuk membuktikan bahwa tidak ada proses, kandungan, dan merek yang sama untuk suatu produk industri atau usaha. Demikian, riset memerlukan penerapan dan dipasarkan kepada masyarakat selain agar masyarakat dapat belajar dan juga masyarakat akan terlindungi dari segala sesuatu yang merusak tatanan kehidupannya. Setiap bisnis memerlukan inovasi untuk bertahan dan mengembangkan diri, tetapi inovasi tidak ada tanpa riset. Salah satu tempat riset adalah dunia akademik.
Usaha kecil dan menengah perlu dibangun dari inovasi-inovasi untuk mendukung dan meningkatkan ekonomi nasional. ABG sebagai satu kesatuan perlu membangun STP, Propinsi Sumatera Utara memerlukan itu, sebagaimana pengalaman dari keberhasilan Tsing Hua University Science Park (TusPark) di Tiongkok, Daedeok Innopolis di Korea, Solo Technopark di Indonesia. Pada STP disatukannya aktivitas industri dan bisnis yang terintegrasi ke dalam pembelajaran, riset, pengajaran, pelatihan, dan adanya pusat percontohan untuk keahlian khusus yang menjadi potensi di suatu PT. Berdasarkan itu, hilirisasi riset dibentuk dari pengembangan dari PusatKajian/Studi atau Pusat Penelitian yang ada di Lembaga Penelitian PT menjadi PUI, yaitu Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Berdirinya PUI sebagai organisasi sendiri maupun berkolaborasi dengan organisasi lainnya (konsorsium) adalah untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan riset spesifik secara multi- dan interdisiplin dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna, PUI berfungsi untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan, sumberdaya, dan jaringan IPTEK pada bidang-bidang prioritas spesifik agar terjadi peningkatan relevansi dan produktivitas serta pendayagunaan IPTEK dalam sektor produksi untuk menumbuhkan perekonomian nasional dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain PUI, STP didukung oleh Pusat Inkubator usaha dan industri yang telah ada pada PT. Demikian juga, PUI harus didukung oleh sumber daya manusia dan aset ilmiah seperti laboratorium, publikasi ilmiah internasional, bentuk-bentuk diseminasi (penyebarluasan) pengetahuan lainnya.
Tri dharma PT tidak dapat berdiri sendiri pelaksanaannya untuk menghadirkan kompetensi pada alumni PT. Demikian juga, PT tidak dapat berdiri sendiri tanpa dunia bisnis dan pemerintah, yang disingkat ABG. Hilirisasi riset satu bentuk kerjasama ABG untuk mendukung tri dharma PT terutama riset, sehingga dengan demikian masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang disebabkan oleh teknologi, peraturan, alam dan benturan pengaruh sosial.***
Penulis adalah Wakil Rektor III bidang Riset, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama USU.
Sumber:harian.analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke