Opini
Indonesia Mampu Melunasi Utang (?)
Oleh: Suadi
Minggu, 04 Des 2016 10:40
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir triwulan III-2016 utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar US$325,3 miliar yang terdiri dari utang jangka panjang sebesar US$ 283,5 miliar dan utang jangka pendek sebesar US$ 41,8 miliar. Rasio total utang dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai 35,7 persen.
Utang total US$325,3 atau setara Rp 4.366 triliun (asumsi US$1 = Rp 13.424) adalah angka yang luar biasa besar. Terlebih utang tersebut tidak hanya utang jangka panjang yang masih lama tenggat pembayarannya, tetapi juga ada utang jangka pendek yang harus dibayar tiap tahun. Utang tersebut membengkak tiap tahun disebabkan faktor adanya pinjaman baru, faktor bunga serta faktor nilai tukar rupiah yang kian anjlok.
Rumitnya mengelola utang
Indonesia punya utang sejak lama. Di akhir pemerintahan Presiden Sukarno, utang Indonesia US$2,5 miliar, melonjak menjadi US$54 miliar di akhir pemerintahan Presiden Suharto. Di era Presiden B.J Habibie, utang Indonesia melesat US$76 miliar dan naik drastis di akhir pemerintahan Presiden Megawati menjadi US$ 136 miliar. Di akhir era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kian membesar US$183 miliar. Dan kini di tengah masa pemerintahan Presiden Joko Widodo terbang jauh menjadi US$325,3 miliar.
Bila membandingkan jumlah utang Indonesia yang sebesar US$325,5 dengan jumlah utang yang dimiliki negara lain, maka utang Indonesia hanya secuil tidak ada apa-apanya. Terutama dibandingkan utang Amerika Serikat mencapai US$14.825 triliun, Australia US$1,23 triliun, Italia US$2,6 triliun, Jerman US$5,44 triliun, dan Prancis US$5,37 triliun.
Bahkan, bila merujuk rasio utang terhadap PDB, Indonesia masih dianggap sehat dan aman yaitu sebesar 35,7 persen. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai 101 persen dari PDB, Australia 36 persen, Italia 146 persen, Jerman 185 persen, Prancis 250 persen. Negara-negara kawasan Asia juga memiliki rasio utang yang lebih besar dibanding Indonesia seperti Malaysia 56 persen, Filipina 36 persen, Thailand 44 persen, Jepang 249 persen, India 66,5 persen, dan China 46,7 persen.
Meskipun dari sisi jumlah belum ada apa-apanya dibandingkan jumlah utang negara lain dan rasio utang terhadap PDB juga terbilang aman, kedua hal tersebut tidak bisa menjadi jaminan. Kasus Yunani, Dubai dan Amerika Serikat yang sempat pernah gagal bayar utang (Default) terbukti merembet ke krisis global patut menjadi pelajaran. Bukan mustahil Indonesia mengalami hal serupa dan mimpi buruk krisis moneter tahun 1998 kembali terulang.
Bagi negara-negara maju seperti Jepang, walaupun rasio utang mencapai 249 persen, dua setengah kali dari total PDBnya, namun mereka memiliki fondasi ekonomi yang kuat, mapan, maju, produktif dan rakyatnya makmur. Jerman, Prancis dan Amerika Serikat juga begitu. Namun, utang mereka tidak membuat pasar finansial goncang, tidak menyurutkan niat investor berinvestasi ke sana, dan tidak membuat surut aktivitas ekonomi dan bisnis. Terbukti, Amerika Serikat masih berstatus negara ekonomi terbesar dunia, Jerman dan Prancis menjadi negara ekonomi nomor satu dan dua di kawasan Eropa dan Jepang menjadi negara ekonomi nomor tiga setelah Amerika Serikat dan Tiongkok.
Bagaimana cara mereka mengelola utang?
Belajar dari cara Jepang mengelola utangnya. Jepang memanfaatkan utang untuk memacu dan menstimulus pertumbuhan ekonomi. Maka tidak heran produk Jepang menyerbu seantero dunia dengan kualitas unggul sekaligus harga terjangkau. Di samping itu suku bunga di Jepang amat rendah sehingga tidak menimbulkan kepanikan bagi peminjam modal. Jepang juga punya aset besar yang sewaktu-waktu bisa saja dilego untuk membayar utang ketika benar-benar terdesak. Kondisi tersebut didukung masyarakat Jepang yang hobi menabung. Maka biarpun utangnya besar, Jepang punya asset, punya tabungan masyarakat, punya infrastruktur yang produktif serta sarana dan prasarana ekonomi di berbagai bidang sudah mapan.
Bayangkan saja misalnya utang Indonesia untuk modal bangun infrastruktur. Apesnya seringkali anggaran dari utang itu digunakan secara tidak profesional atau malah dikorupsi. Akhirnya infrastruktur yang dibangun serba asal-asalan. Hasilnya proyek jalan cepat rusak, rumah sakit atapnya bocor, bangunan sekolah kondisinya amburadul, jembatan ambruk, pengadaan alat kesehatan abal-abal dan sebagainya. Ujung-ujungnya, utang tidak produktif, tidak memacu pertumbuhan ekonomi, malah menambah defisit dan memperbesar utang yang sudah ada sebelumnya.
Optimistis utang lunas
Bila utang lunas otomatis tiap tahun pemerintah RI tidak perlu repot mengalokasi anggaran wajib untuk membayar bunga dan utang jangka pendek yang besarnya mencapai Rp 100 triliun lebih. Uang sebesar itu lebih dari cukup untuk membangun ribuan kilometer infrastruktur jalan raya mulus, ribuan gedung sekolah dan rumah sakit, atau puluhan pelabuhan.
Utang yang ditujukan untuk membangun infrastruktur harus benar-benar tepat sasaran agar produktif memacu pertumbuhan ekonomi dan memperlancar ekonomi dan bisnis. Di samping itu, SDM melimpah dan potensial diarahkan untuk mengelola kekayaan sumber daya alam sendiri baik pertambangan, perkebunan, kelautan dan memaksimalkan industri hilir sehingga mampu memproduksi produk yang bernilai tambah, bukan sekadar menjadi sasaran empuk lokasi pertambangan dan sumber daya alam perusahaan asing, tapi hasilnya diangkut ke luar negeri dan kita cuma dapat bagian nol koma sekian persen.
Pernyataan Menkeu Sri Mulyani menjadi momentum optimistis untuk melunasi utang Indonesia. Mungkin tidak tahun ini, minimal lima tahun ke depan Indonesia sudah tidak punya utang. Tentu dengan mengubah pola pikir, kebijakan ekonomi, memantapkan infrastruktur, pemanfaatan SDA sekaligus memaksimalkan potensi SDM yang melimpah.***
Penulis alumnus UMSU
sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke