Kehilangan
Jumat, 11 Sep 2015 10:42
Kita sering mendengar ungkapan "post power syndrome". Biasanya untuk menggamÂbarkan perasaan seseorang yang tidak nyaman atau situasi yang tidak dikehendaki, menyangkut lepasnya kedudukan atau jabatan yang sebelumÂnya ia pegang. Juga sering untuk menggambarkan seseorang yang baru penÂsiun. Seseorang yang baru pensiun sebagai pegawai (negeri) sudah tentu ia juga harus melepaskan kedudukan yang dijaÂbatnya selama ini. Ia merasakan suatu sindrome karena mengÂhadapi situasi baru dimana ia tidak lagi mempunyai wewenang atau kekuaÂsaan yang dipegangnya selama ini. Ia tidak lagi meraÂsa dihormati oleh koleganya di kantor atau lingkungan masyarakatnya. Ia kini lebih banyak di rumah tanpa staf atau pegawai bawahan yang biasanya selalu siap sedia membantu dan melaÂdeni dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.
Sindrome yang dirasakan seseorang yang digambarkan di atas merupakan suatu hal yang wajar. Orang tersebut sedang mengÂhadapi situasi baru, yakni dari posisi ketika masih memÂpunyai kedudukan ke posisi tidak lagi memegang kedudukan. Sindrome biasa menjangkiti sebagian orang yang mengalami penurunan apalagi kehilangan status. Namun sindrome tak boleh dibiarkan berlarut-larut menjangkiti siapa pun. Karena bila dibiarkan terus berlarut akan berpengaruh negatif terhadap mental bahkan juga kondisi phisiknya. Bagaimana mengatasiÂnya?
Merasa Kehilangan
Bila ditelisik lebih mendalam, maka sindrome merupakan suatu kondisi yang menunjukkan bahwa seseorang itu sedang merasa kehilangan sesuatu.
Pada umumnya seseorang merasa sedih bila merasa kehiÂlangan sesuatu. Apapun yang kita miliki, apalagi bila sesuatu itu sangat disayangi, dibanggakan, dipuja, dieluk-elukan. BuÂkankah kita bersedih bila kehilangan anggota keluarga yang kita sayangi. Kita akan bersedih merasa kehilangan bila berpiÂsah dengan kawan atau kerabat yang selama ini sudah kita angÂgap sebagai saudara sendiri. Seorang bawahan merasa kehilangan atasannya yang baik karena dipindah ke kota lain. Pada lingkup yang lebih luas, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara suatu bangsa akan merasa sangat kehilangan bila seorang tokoh pemimpinnya yang paling berpengaruh dan sangat disegani tiba-tiba tutup usia. Salah satu contoh nyata, bagaimana tidak akan sedih bila rumah kita dimasuki pencuri dan menguras harta benda, dan bila telpon seluler yang baru kita beli dengan harga mahal tiba-tiba hilang karena dicopet di tempat keramaian umum?
Demikian juga bagi orang yang baru pensiun. Ia merasakan kehilangan sesuatu karena suasana baru yang dihadapinya berlainan dengan ketika masih bekerja dulu. Ia merasa kehiÂlangan kawan-kawan sejawatnya yang dulu setiap hari berjumÂpa, bekerja, bercengkerama. Bahkan dengan kawan-kawan sekerja ia merasa lebih erat dengan tetangga-tetangga di kiri kanannya. Sebagian dari mereka merasa kehilangan karena harus meleÂpaskan jabatan atau kedudukannya ketika masih berdinas dulu. Karena pensiun bagaimana pun ia tidak lagi dapat memangku jabatan kedinasan apa pun. Satu hal lagi, ia juga merasakan kehilangan karena masa hidupnya yang akan datang sudah jauh berkurang, meskiÂpun hitungan umurnya bertambah setiap tahun.
Kehilangan sesuatu sehingga kita bersedih adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi. Namun rasa kehilangan itu jangan dibiarkan berlarut-larut, alias sedih yang berkepanjangan, karena hal itu, seperti digambarkan di muka, akan berpengaruh negatif terhadap mental bahkan kondisi phisik seseorang. Ada sesuatu yang bila kita renungkan lebih mendalam, rasa kehiÂlangan yang berlarut itu sebagai sesuatu yang tak wajar. MengaÂpa? Sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita, bila kita pandang secara rasional, tidak lantas bisa disebut sebagai kehilangan, karena segala sesuatu yang selama ini kita anggap sebaÂgai milik kita sebenarnya hanyalah "titipan". Kedudukan atau jabatan sebenarnya bukan milik kita. Itu lebih tepat sebagai amanah, amanah dari negara yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Karena bukan milik kita, mengapa kita harus merasa kehilangan ketika tidak lagi memangku jabatan itu? Kondisi lebih parah lagi adalah rasa kehilangan yang menghinggapi seseorang karena tidak berhasil meraih jabatan atau posisi yang diidam-idamÂkannya. Ia merasa bersedih, padahal posisi yang diinginkannya itu bukanlah sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Mengapa ia harus merasa kehilangan?
Sebagaimana telah disinggung di muka, bila kita memiliki anggota keluarga yang amat disaÂyangi, tiba-tiba ia dipanggil Tuhan, kita akan merasa bersedih karena merasa kehilangan. PadaÂhal anak itu menurut ajaran agama apa pun, adaÂlah titipan Tuhan. Maka karena anak bukan milik kita yang mutlak, bila anak itu meningÂgalkan kita untuk selama-lamanya, kita tidak boleh merasa kehilangan apalagi sampai berlarut-larut.
Maka apapun yang terdapat di muka bumi ini bahkan seluÂruh alam semesta, bukanlah milik manusia. Semuanya adalah milik Sang Pencipta.
Manusia hanya "nglakoni", bila memperoleh harta benda dan atau kedudukan sikap yang paling baik adalah menjalani amanah itu sebaik-baiknya, untuk kebaikan bersama bagi sesama umat manusia dan alam sekitarnya.
Ada baiknya kita renungi sejarah sebagian pemimpin atau penguasa dunia yang melakukan segala cara untuk selalu memÂpertahankan kekuaÂsaannya, karena mereka merasa kekuasaan itu adalah miliknya yang mutlak dan harus selalu dipertahanÂkan. Kalau kekuasaan lepas, mereka merasakan kehilangan yang amat sangat. AkhirÂnya justru mendatangkan bencana bagi bangsaÂnya sendiri karena ulahnya yang berleÂbihan itu.
Marilah kita belajar untuk tidak merasa kehilangan akan sesuatu yang pada hakekatnya bukan milik kita untuk selamanya!(harian analisa)
Opini
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal