Rabu, 29 Apr 2026

Kehilangan

Jumat, 11 Sep 2015 10:42

Kita sering mendengar ungkapan "post power syndrome". Biasanya untuk menggam­barkan perasaan seseorang yang tidak nyaman atau situasi yang tidak dikehendaki, menyangkut lepasnya kedudukan atau jabatan yang sebelum­nya ia pegang. Juga sering untuk menggambarkan seseorang yang baru pen­siun. Seseorang yang baru pensiun sebagai pegawai (negeri) sudah tentu ia juga harus melepaskan kedudukan yang dija­batnya selama ini. Ia merasakan suatu sindrome karena meng­hadapi situasi baru dimana ia tidak lagi mempunyai wewenang atau kekua­saan yang dipegangnya selama ini. Ia tidak lagi mera­sa dihormati oleh koleganya di kantor atau lingkungan masyarakatnya. Ia kini lebih banyak di rumah tanpa staf atau pegawai bawahan yang biasanya selalu siap sedia membantu dan mela­deni dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Sindrome yang dirasakan seseorang yang digambarkan di atas merupakan suatu hal yang wajar. Orang tersebut sedang meng­hadapi situasi baru, yakni dari posisi ketika masih mem­punyai kedudukan ke posisi tidak lagi memegang kedudukan. Sindrome biasa menjangkiti sebagian orang yang mengalami penurunan apalagi kehilangan status. Namun sindrome tak boleh dibiarkan berlarut-larut menjangkiti siapa pun. Karena bila dibiarkan terus berlarut akan berpengaruh negatif terhadap mental bahkan juga kondisi phisiknya. Bagaimana mengatasi­nya?

Merasa Kehilangan

Bila ditelisik lebih mendalam, maka sindrome merupakan suatu kondisi yang menunjukkan bahwa seseorang itu sedang merasa kehilangan sesuatu.

Pada umumnya seseorang merasa sedih bila merasa kehi­langan sesuatu. Apapun yang kita miliki, apalagi bila sesuatu itu sangat disayangi, dibanggakan, dipuja, dieluk-elukan. Bu­kankah kita bersedih bila kehilangan anggota keluarga yang kita sayangi. Kita akan bersedih merasa kehilangan bila berpi­sah dengan kawan atau kerabat yang selama ini sudah kita ang­gap sebagai saudara sendiri. Seorang bawahan merasa kehilangan atasannya yang baik karena dipindah ke kota lain. Pada lingkup yang lebih luas, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara suatu bangsa akan merasa sangat kehilangan bila seorang tokoh pemimpinnya yang paling berpengaruh dan sangat disegani tiba-tiba tutup usia. Salah satu contoh nyata, bagaimana tidak akan sedih bila rumah kita dimasuki pencuri dan menguras harta benda, dan bila telpon seluler yang baru kita beli dengan harga mahal tiba-tiba hilang karena dicopet di tempat keramaian umum?

Demikian juga bagi orang yang baru pensiun. Ia merasakan kehilangan sesuatu karena suasana baru yang dihadapinya berlainan dengan ketika masih bekerja dulu. Ia merasa kehi­langan kawan-kawan sejawatnya yang dulu setiap hari berjum­pa, bekerja, bercengkerama. Bahkan dengan kawan-kawan sekerja ia merasa lebih erat dengan tetangga-tetangga di kiri kanannya. Sebagian dari mereka merasa kehilangan karena harus mele­paskan jabatan atau kedudukannya ketika masih berdinas dulu. Karena pensiun bagaimana pun ia tidak lagi dapat memangku jabatan kedinasan apa pun. Satu hal lagi, ia juga merasakan kehilangan karena masa hidupnya yang akan datang sudah jauh berkurang, meski­pun hitungan umurnya bertambah setiap tahun.

Kehilangan sesuatu sehingga kita bersedih adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi. Namun rasa kehilangan itu jangan dibiarkan berlarut-larut, alias sedih yang berkepanjangan, karena hal itu, seperti digambarkan di muka, akan berpengaruh negatif terhadap mental bahkan kondisi phisik seseorang. Ada sesuatu yang bila kita renungkan lebih mendalam, rasa kehi­langan yang berlarut itu sebagai sesuatu yang tak wajar. Menga­pa? Sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita, bila kita pandang secara rasional, tidak lantas bisa disebut sebagai kehilangan, karena segala sesuatu yang selama ini kita anggap seba­gai milik kita sebenarnya hanyalah "titipan". Kedudukan atau jabatan sebenarnya bukan milik kita. Itu lebih tepat sebagai amanah, amanah dari negara yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Karena bukan milik kita, mengapa kita harus merasa kehilangan ketika tidak lagi memangku jabatan itu? Kondisi lebih parah lagi adalah rasa kehilangan yang menghinggapi seseorang karena tidak berhasil meraih jabatan atau posisi yang diidam-idam­kannya. Ia merasa bersedih, padahal posisi yang diinginkannya itu bukanlah sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Mengapa ia harus merasa kehilangan?

Sebagaimana telah disinggung di muka, bila kita memiliki anggota keluarga yang amat disa­yangi, tiba-tiba ia dipanggil Tuhan, kita akan merasa bersedih karena merasa kehilangan. Pada­hal anak itu menurut ajaran agama apa pun, ada­lah titipan Tuhan. Maka karena anak bukan milik kita yang mutlak, bila anak itu mening­galkan kita untuk selama-lamanya, kita tidak boleh merasa kehilangan apalagi sampai berlarut-larut.

Maka apapun yang terdapat di muka bumi ini bahkan selu­ruh alam semesta, bukanlah milik manusia. Semuanya adalah milik Sang Pencipta.

Manusia hanya "nglakoni", bila memperoleh harta benda dan atau kedudukan sikap yang paling baik adalah menjalani amanah itu sebaik-baiknya, untuk kebaikan bersama bagi sesama umat manusia dan alam sekitarnya.

Ada baiknya kita renungi sejarah sebagian pemimpin atau penguasa dunia yang melakukan segala cara untuk selalu mem­pertahankan kekua­saannya, karena mereka merasa kekuasaan itu adalah miliknya yang mutlak dan harus selalu dipertahan­kan. Kalau kekuasaan lepas, mereka merasakan kehilangan yang amat sangat. Akhir­nya justru mendatangkan bencana bagi bangsa­nya sendiri karena ulahnya yang berle­bihan itu.

Marilah kita belajar untuk tidak merasa kehilangan akan sesuatu yang pada hakekatnya bukan milik kita untuk selamanya!

(harian analisa)
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.