Ketidakstabilan Harga Daging Sapi
Kamis, 13 Agu 2015 10:46
Oleh: Rohendi, SIP. Dalam Tajuk Harian Analisa, edisi SeÂÂlasa 11 Agustus 2015 lalu disebutkan bahÂwa para pedagang daÂging sapi di seÂÂjumlah kota di Indonesia melakukan aksi moÂÂgok massal berjualan. Hal ini dipicu kaÂÂrena tingginya harga daging sapi yang teÂrÂus merangkak naik, meski hari raya suÂdah usai. Bahkan harga daging sapi terÂsebut diÂnilai melampaui nilai jual ketika Idulfitri keÂmarin mencapai Rp 140 ribu per kilo gram.
Tentunya mahalnya harga daging sapi ini membuat pihak pedagang merasa bila meÂreka juga memaksakan diri menjual daÂging sapi itu ke konsumen, maka keÂmungkinan besar konsumen tidak akan memÂbelinya mengingat harga daging yang di atas rata-rata normal, karena itu tiÂdak ada pilihan lain, agar tidak merugi teÂrus-terusan, mereka melakukan aksi moÂgok.
Sebenarnya, biasanya kenaikan harga-harga pangan terjadi menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran yang baru lewat. Namun kali ini hampir sebulan setelah Lebaran, harga-harga kebutuhan dapur kembali bergejolak. Harga yang mencolok kenaikannya adalah daging sapi yang mencapai sekitar 140.000 per kilogram. Padahal setelah Lebaran sudah tuÂrun di bawah 100.000 rupiah perÂkiÂloÂgram. Hal yang sama juga terjadi pada koÂmoditas cabe yang naik dua kali lipat menÂjadi sekitar 60.000 perkilogram. KoÂmoditas lain seperti beras, bawang merah dan putih juga naik, tapi tidak seberapa.
Diminta Turun Tangan
Kenaikan daging kali ini juga unik. BiaÂsanya yang protes para pembeli atau konÂsuÂmen. Namun kali ini yang protes jusÂtru para pedagang daging sapi. Para penÂjual daging sapi berhenti berjualan unÂtuk beberapa hari karena tingginya harÂga. Mereka memprotes karena harga yang terlalu tinggi sehingga menyulitkan penÂjualan kembali. Para pedagang minta peÂmerintah turun tangan menangani harÂga daging sapi yang terlalu tinggi. Angka 140.000 rupiah perkilogram berarti sama dengan harga waktu Lebaran kemarin. Asosiasi Pedagang Daging Sapi menÂdeÂsak pemerintah untuk "operasi pasar" guna menurunkan harga.
Mereka tidak bisa menjual lagi karena teÂrÂÂlalu tinggi. Tentu kalaupun sekarang diaÂÂdaÂkan operasi pasar, tidak ada jaminan keÂÂÂlak akan stabil terus. Yang perlu diÂlakukan peÂÂmerintah antara lain menÂdoÂrong para peÂÂtani sapi untuk semakin mengÂgiatkan peÂternakan sehingga proÂduksi bisa meningÂgi.
Indonesia dikenal banyak bibit sapi dan lahan luas akan tetapi tidak mampu meÂmenuhi kebutuhan daging dalam neÂgeri. Untuk menutup defisit selalu impor daÂging sapi. Sekarang yang terjadi justru seÂbaliknya dari usulan tersebut. Para peÂternak malah menjual ternak baik sapi mauÂpun kambing karena kesulitan pakan. RumÂput sulit ditemukan karena kering lantaran lama tidak turun hujan.
Untuk mengantisipasi situasi demikiÂan, pemerintah juga harus berkampanye agar masyarakat mengurangi konsumsi daÂging sapi. Kampanye mengurangi maÂkan daging sapi perlu menjadi komitmen naÂsional agar tidak terjadi gejolak.
Dari sisi kesehatan, terlalu baÂnyak meÂngonsumsi daging (sapi) juga tiÂdak baik. Jika kebutuhan dalam negeri meÂÂnuÂrun, Indonesia malah akan mampu mengÂÂekspor daging sapi. Pertumbuhan penÂÂÂduduk yang tinggi tanpa diikuti kamÂpanye pengurangan konsumsi daging, ke depan akan selalu kekurangan. KeÂbuÂtuÂhan daging sapi terus meningkat. MiÂsalÂnya, tahun 2015 ini mencapai 640.000 ton. Jumlah ini naik meningkat 8,5 persen diÂbanding tahun lalu sebesar 590.000 ton.
Pertambahan Jumlah Penduduk
Selain pertumbuhan ekonomi, kenaiÂkan keÂbutuhan sapi juga terjadi karena berÂtambahnya jumlah penduduk. Tahun ini konÂsumsi daging sapi diperkirakan menÂcaÂpai 2,56 kilogram (kg) per kapita per taÂhun, atau meningkat 8,5 persen diÂbandingkan taÂhun lalu 2,36 kg per kaÂpita/tahun. KonÂsumsi daging sapi di IndoÂnesia per tahun mencapai 4 juta ekor dari impor dan lokal. Jumlah ini untuk meÂmenuhi kebutuhan dalam negeri. Tahun ini diperkirakan juga akan ada isu impor daÂging sapi. Keengganan pemasok meÂngucurkan daging diduga sebagai bagian dari upaya kartel daging agar bisa meÂngajukan impor.
Melambungnya harga daging sapi dan keÂlangkaan beras memang selalu diikuti keÂkhawatiran akan dimanfaatkan untuk menÂdorong impor. Dalam dua komoditas tersebut memang banyak pemainnya. MeÂreka mengambil untung dari kelangÂkaan yang mereka mainkan. Komoditas lain sebenarnya dapat dipenuhi sendiri oleh masyarakat seperti kekurangan caÂbai. Harga cabai bisa disiati dengan sejak dini mengampanyekan untuk menanam sendiri.
Masyarakat harus didorong untuk memanfaatkan lahan di pekarangan. Apalagi cabe juga bisa hidup di dalam pot. Andai setiap rumah tangga menanam cabe 10 pot saja, maka tidak pernah akan keÂkurangan cabai di pasar. Harga cabai juga tidak akan berfluktuasi.
Terkait dengan harga sapi, siÂmaÂlaÂkaÂma meÂmang. Pembatasan importasi sapi oleh peÂmerintah sampai 50.000 ekor unÂtuk KuarÂtal III telah dicacimaki sebagai biang segala keÂnaikan itu. Kritik tersebut memÂbanÂdingÂkannya dengan importasi seÂkitar 200.000 per triwulan selama KuarÂtal I dan II.
Untuk ke sekian kalinya krisis sapi mengÂgila, meski konsumen aktifnya sebenarnya hanyalah sekitar 16,5% saja. Sungguh tidak jelas apakah kenaikan harga ini karena keÂlangkaan akibat turunnya importasi dan cadaÂngan. Ataukah pelangkaan, rekayasa pemilik modal untuk memaksa pemerintah meleÂbarkan kembali kran impor dengan segala rente dan gratifikasi yang menyertainya.
Apa yang terjadi pada 2012 yang diwarnai kontaminasi bakso dengan daging babi dan tikus, kali ini berpotensi kembali berulang. Dan kembali akan kita simak, sejauhmana efektivitas upaya stabilisasi pemerintah deÂngan bersegeranya Bulog melakukan operasi pasar (OP).
Sejalan dengan mandat Nawacita dan UU 18/2012 tentang Pangan, pembatasan imÂportasi sapi menjadi 50.000 ekor tentu merupakan keputusan yang sangat berdaulat dan nasionalistik.
Meski demikian, sudah barang tentu diperÂlukan beberapa prasyarat kebijakan dimakÂsud. Antara lain: (1) kebenaran data, (2) poÂtensi substitusi impor, (3) efektivitas opeÂrasi pasar, (4) kekuatan kendali Kabinet Kerja dalam tataniaga, dan (5) kapasitas market intelligent Kabinet Kerja.
Yang terakhir ini sangat diperlukan KaÂbinet Kerja untuk bisa membaca fakta lapaÂngan dengan benar: apakah krisis ini terjadi karena kelangkaan atau pelangkaan. Bukan sebuah prasangka buruk tentang kemungÂkinan pelangkaan ini karena potensinya adalah sebuah kenisÂcayaan.
Secara teknis mudah sekali dengan meÂngatur jumlah penyembelihan. Ketika sapi dikandangkan dan tidak dibawa ke rumah potong hewan (RPH), maka detik itu pula paÂsok daging sapi pasti menyusut dengan akiÂbat yang sama: kelangkaan pasar. ManaÂkala kelangkaan model begini tidak terdeteksi, maka itulah kelemaÂhan pemerintah untuk mudah didikte pemilik uang.
Karena itu, mudah sekali dibayangÂkan bahÂwa ketika kelima prasyarat yang dipaparÂkan ini tidak berada dalam genggaman KabiÂnet Kerja, maka keputusan nasionalistik dan berdaulat yang dicanangkan akan selalu menÂjadi simalakama.
Satu prasyarat saja tidak dipenuhi, sudah bisa dipastikan bahwa kebiÂjakan apapun adalah bom waktu untuk meleÂdaknya krisis sapi gila. Menggilanya harga daging sapi ini harus menjadi perhatian sekÂsama dalam jajaÂran Kabinet Kerja umumÂnya, dan khususnya kementerian yang memÂbiÂdangi perekonoÂmian, untuk bisa menjadi titik balik guna melakukan reorientasi.(analisadaily.com) Opini
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal