Ketika Siswa Salah Memahami Sekolah
Senin, 02 Nov 2015 09:27
Siswa sejatinya adalah bagian dari proses pendidikan yang menggunakan sekolah dalam proses pendidikan, lingkungan untuk menempa dan membentuk karakter, kepribadian sehingga bisa menjadi individu-individu yang diharapkan bangsa dan negara.
Apa jadinya jika siswa itu ternyata salah memahami makna dan fungsi sekolah itu sendiri? Lalu siapa yang bisa menggunakan lingkungan dan fasilitas sekolah itu jika nyatanya siswa kekinian keliru dalam memahami sekolah?
Muncul pertanyaan, apa dasar penulis menyatakan bahwa siswa keliru memahami sekolah kekinian? Tidak sulit untuk menemukan faktualnya dalam masyarakat. Lihat dan masuklah dalam lingkungan sekolah-sekolah maka yang kita temukan dalam sekolah adalah gaya hidup yang penuh dengan hedonisme, kompetisi yang tidak seperti bentuk kelompok (geng) dengan berbagai kategori, lingkungan untuk menunjukkan gaya hidup. Sekolah kekinian seolah-olah tempat untuk bermain-main, membentuk kelompok tertentu bahkan untuk berpacaran dan masih banyak lagi.
Hal ini berbanding terbalik ketika muncul keberanian atau ketegasan dari pihak sekolah untuk menegakkan peraturan disiplin sekolah tersebut. Seperti memangkas gaya rambut yang bercampur pirang, memotong celana siswa yang sengaja menguncupkan celana serta kenakalan remaja lainnya maka yang hal ini akan ditanggapi oleh siswa secara negatif bahkan cenderung untuk menolak. Hal ini mengindikasikan bahwa ada pemahaman yang salah dari siswa tentang fungsi sekolah itu sendiri. Jika siswa memahami fungsi sekolah yang sebenarnya, maka siswa akan dengan senang hati menurutinya. Lalu apa yang salah? Darimana awal kesalahan?
Mis orientasi MOS
Titik kritik awal pantas diberikan kepada masa Orientasi Sekolah (MOS). Harus diakui ada mis orientasi dalam pelaksanaan MOS selama ini. MOS selama ini digunakan hanya untuk menunjukkan senioritas dan kepongahan senior terhadap junior-juniornya. Sehingga tahap awal memasuki sekolah yang harusnya digunakan untuk mengenalkan hakikat dan fungsi asasi sekolah dan peraturan-peraturan yang ada di sekolah nyatanya digunakan untuk mengerjai siswa baru dengan kegiatan aneh-aneh, membentak dan sebagainya.
Disinilah titik awal kenapa siswa kekinian keliru memahami lingkungan sekolah. Dengan adanya kekeliruan dalam pelaksanaan MOS ini membangun persepsi bagi siswa baru bahwa sekolah seolah-olah bukanlah lingkungan belajar. Sejatinya memang sekolah tidak hanya lingkungan belajar secara formal namun juga mencakup fungsi bermain, bersosialisasi namun harus tetap diarahkan pada proses belajar atau setidaknya mendukung pembelajaran.
Bisa dibayangkan seandainya MOS benar-benar dilaksanakan sebenarnya maka secara tidak langsung terbangun sebuah kesepakatan batin antara siswa dengan pihak sekolah untuk bersama-sama untuk menjalankan dan bekerjasama untuk menggunakan sekolah sebagaimana fungsinya termasuk peraturan-peraturan sekolah yang harus dipatuhi dan sikap-sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan siswa selama di sekolah. Kenyataannya jika siswa setelah penghuni tetap suatu sekolah kebanyakan melanggar bahkan bersikap reaktif yang negatif ketika ketegasan atas sebuah peraturan dan kedisiplinan sikap ditegakkan maka disinilah kegagalan masa Orientasi Sekolah.
Hal ini semakin menegaskan bahwa Masa Orientasi Sekolah sesungguhnya sangat penting dan menentukan dalam membentuk karakter dan sikap siswa terhadap gaya belajar dan gaya hidup selama di sekolah. Disinilah awal siswa menentukan sikap terhadap suatu sekolah.
Pengaruh Media Massa ( Televisi)
Penulis saat ini tengah menjalani masa Program Praktik Lapangan (PPL) di salah satu SMA Negeri di Deli Serdang. Mengamati gerak-gerik, tindak-tanduk kenakalan remaja yang semakin baru, bervariatif dan semakin lebay menimbulkan pertanyaan darimana siswa mendapatkan dan menerima hal-hal seperti itu? Setelah dipikir-pikir, Peran Media Massa atau televisi khususnya Sinetron di Indonesia yang banyak mengambil latar tempat di sekolah dengan aktor dan aktris yang dipoles sedemikian rupa, bergaya modis, membawa mobil ke sekolah, menampilkan cerita percintaan, gaya hidup yang glamor seperti tidak memakai dasi, mengeluarkan baju dan masih banyak lagi. Maka secara perlahan-lahan, Peran Televisi yang kurang mendidik berpengaruh kuat kenapa siswa kekinian semakin salah kaprah memahami lingkungan sekolah.
Perhatikanlah sinetron-sinetron yang mengambil latar tempatnya banyak di sekolah. Bisa kita lihat materi dialog dan konflik yang ada didalamnya apakah memang benar-benar dialog dan konflik yang seharusnya terjadi di sekolah? Tidak sulit untuk menjawab. Umumnya dialog dan konflik yang terjadi dalam sinetron bukanlah konflik dalam arti positif seperti kompetisi belajar yang memang idealnya ada di sekolah melainkan konflik dan dialog tentang percintaan bahkan konflik atas dasar kebencian, persaingan memperebutkan seorang perempuan atau laki-laki yang diramu sedemikian rupa dengan ditampilkan oleh aktor yang memang saat remaja. Jika kita mengikuti alur pola pikir seperti ini seolah-olah sekolah adalah tempat berpacaran, tempat membentuk geng-geng, tempat untuk memamerkan gaya kehidupan yang hedonis atau harus stylist. Percaya atau tidak, gaya kehidupan demikian itu telah sampai ke sekolah-sekolah dunia nyata kekinian. Bahkan penulis sempat terkaget ketika menemukan di salah satu sinetron yang paling digemari di Indonesia menampilkan adegan seorang remaja perempuan yang masih menggunakan seragam sekolah meraung-raung menangis ketika pacarnya pergi. Apakah memang keadaan seperti pantas ada pada kehidupan remaja?
Disinilah maksud penulis televisi lewat tayangan-tayangan sinetron menggiring fungsi sekolah kearah yang menyimpang. Menyimpang dalam arti secara tidak langsung menjejali dan menunjukkan fungsi atau keadaan sekolah dari idealnya tempat kompetisis belajar dipacu, etika, kebersamaan, kesopanan ditampilkan. Penulis pikir harus tegas, jika sinetron tidak bisa menjamin keadaan itu ketika mengambil tempat sekolah di adegan cerita lebih baik tidak menggunakan latar tempat sekolah. Ini demi kebaikan bersama kita bangsa dan negara. Lihatlah film-film negara barat yang mendunia manakala mengambil latar tempat sebuah institusi pendidikan yang ditampilkan adalah kehebatan, kemajuan, kecanggihan pendidikan yang mereka miliki sehingga membangkitkan kebanggaan dan semangat nasionalisme bagi generasi penerusnya. Hal ini menunjukkan ada kesepakatan bersama di negara-negara maju baik antara pemerintah dan media untuk membangun superioritas di dunia. Hal ini sangat berbeda dengan Indonesia yang umumnya disuguhi cerita-cerita percintaan, kebencian, geng-geng, gaya hidup mewah dan hedonis.
Kedepan hal ini harus bisa dipahami bersama. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) disatu sisi tidak bisa masuk dan menegur hal ini secara materi karena secara normatif tidak melanggar etika penyiaran namun tetap jika dikaji lebih jauh ada penyimpangan secara materi bahkan secara prinsip. Rating bolehlah menjadi menjadi target utama media namun suguhkanlah tayangan-tayangan yang berkualitas dan mendidik sehingga rating yang diperoleh tidak karena menampilkan hal-hal yang sensasional belaka melainkan rating karena kualitas yang substansial dan fundamental. Media/ Televisi memainkan peran yang sangat sentral untuk hal itu.(analisadaily.com)
Opini
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal