Rabu, 29 Apr 2026
  • Home
  • Opini
  • Lonceng Natal, di Antara Toleransi!

Opini

Lonceng Natal, di Antara Toleransi!

Oleh: Jan Roi A Sinaga
Minggu, 04 Des 2016 10:34
Internet
Ilustrasi
Setiap tahun dibulan Desember, dunia umumnya, dan pemeluk agama Kristen khususnya, baik Pro­testan, Maronite, Katolik, Ortho­doks, dan Kristen lainnya diseluruh penjuru dunia, merayakan perayaan besar, yaitu hari Natal. Acara kebaktian, perlombaan, hingga aksi sosial turut mewarnai kehidupan suasana Natal disetiap bulan peng­hujung tahun. Semua itu dilakukan demi satu perayaan besar, yang di­maknai dengan hari lahirnya Yesus Kristus ke dunia, sesuai kepercayaan umat Kristiani diseluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Natal identik dengan pohon terang, lampu kelap-kelip yang menghiasinya, serta ornamen pernaik-pernik lain semacam hiasan yang terbuat dari kertas minyak berwarna, lazim kita temukan hampir diberbagai daerah di Indonesia. Bahkan, sejak 2014 lalu, Istana Negara pun dihiasi pohon natal, yang mana sudah sangat lama tidak kita saksikan, meski kemarin sempat menjadi hal yang kontroversial dan diperdebatkan oleh banyak kalangan agamawan di Indonesia. Apakah ada yang salah dengan perayaan Natal? Menjadi pertanyaan menarik, mengingat Negara kita yang majemuk dan pluralisme yang dipuji dunia internasional karena keru­kunannya, malah didalamnya seakan nir toleransi beragama.

Lonceng natal, lonceng toleransi

Tulisan ini bukan bermaksud mengungkit atau membahas perbedaan pandangan agama didalam kehidupan bermasya­rakat di Negara kita. Namun, lebih kepada menjelaskan kepada kita, Toleransi seperti apa yang kita jaga dan hidupi, dalam Negara demokrasi dan pluralism ini. Memang, dari segi kehidupan ber-agama, kita damai dan rukun, tidak ada pengkotak-kotakan sedikitpun dari pemerintah dalam mengayomi penduduknya meski beragam agama yang diakui Negara. Semua diperlakukan sama, mayoritas menghargai minoritas, begitupun sebaliknya.

Namun, apakah kata 'Toleran' sudah pantas disematkan bagi Negara kita yang hampir setiap waktu rawan terjadi konflik agama? Tentu hal ini bukanlah disebabkan oleh ajaran agama tersebut, namun lebih kepada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, memelintir ayat-ayat aga­manya, untuk kepentingan suatu kelompok dan golongan, atau bahkan demi rezim tertentu. Bagaimana bisa kita ka­takan toleran, disaat ada agama lain yang tidak bisa bebas ber­ibadah dibumi Indonesia dengan alasan dapat meng­guncang ke-iman-an warga disekitar yang memeluk agama lain? Bagaimana mungkin kita bisa dikatakan toleran saat ada pembakaran rumah ibadah lain karena alasan tidak ada ijin? Lalu mengapa Indonesia disebut Negara toleran?

Apakah hanya karena Indonesia mengakui 6 agama sebagai agama resmi di Indonesia? Lalu bagaimana dengan Lebanon yang mengakui 18 agama resmi dinegaranya? Hal ini selalu menjadi pertanyaan besar dan menjadi pergumulan hebat bagi siapapun yang menjadi pemimpin Indonesia. Karena sedikit saja salah mengambil keputusan dan ke­simpulan, maka mungkin saja kita akan berakhir seperti Suriah, dan Negara konflik di Timur Tengah dan Afrika.

Lonceng Natal selalu menjadi pertanda bahwa adanya warga Kristen yang sedang merayakan natal dibulan Desember ini. Namun, Lonceng tersebut juga menjadi per­tanda Lonceng bagi Toleransi di Indonesia. Apakah Indo­nesia benar-benar Negara Toleransi agama, atau hanya se­batas symbol seperti iklan di TV dengan semboyan "kata­kan tidak pada korupsi", sementara jajarannya semua terlibat korupsi.

Apakah Toleransi hanya sebatas wacana yang didengung-dengungkan, tanpa ada bukti dengan leluasanya agama lain beribadah, dan menemukan Tuhan-nya masing-masing? Sejauh ini, kata Toleransi ber-agama dinegara kita ini masih ramang-ramang. Dikatakan Toleransi, masih ada diskri­minasi seperti yang terjadi saat ini, dikatan Nir Toleransi, banyak daerah di Indonesia masih menjung-jung kebersa­maan dalam keberagaman. Beruntung, Negara kita memiliki dasar yang kokoh bernama Pancasila, setidaknya, lewat sila pertama, toleransi diterjemahkan secara umum, bahwa tidak satu agama, maupun satu aliran agama tertentu, tapi mengakui Tuhan Yang Esa.

Tidak heran, jika banyak Negara sangat mengagumi fal­safah Negara kita yang bisa menjaga kerukunan ber-aga­manya. Memang, Lebanon yang jauh lebih majemuk dari soal agama dengan kita, sudah pernah merasakan getirnya perang saudara karena perbedaan agama, namun, setelah itu mereka bangkit dan sadar, bahwa perbedaan itu hanya ada pada pandangan semata dan keyakinan menuju Tuhan yang sama. Dan setelah itu, mereka mulai membangun kembali negaranya, dengan arti Toleransi yang sesung­guhnya, dan menempatkan pemerintahan yang mewakili setiap golongan agama dinegaranya. Sehingga, saat ini, kita bisa melihat Lebanon yang pluralisme, yang toleran terha­dap satu dengan yang lainnya, tanpa pernah berkata halal-haram, kafir- sesat, dan propaganda lainnya.

Dan saat bulan Desember setiap tahunnya, semua ber­gandengan tangan merayakan Natal, tanpa pernah ada fatwa haram sedikitpun. Tokoh lintas agama bersatu, dan me­nanamkan dasar-dasar keagamaan yang sesungguhnya, yaitu cinta damai dan persaudaraan, dan hal seperti ini hal yang lazim kita temukan dinegara Timur Tengah dan Mesir, dimana tidak ada rasa sungkan dalam memperingati natal secara bersama, meski berbeda agama dan aliran. Hal ini bisa menjadi contoh bagi bangsa Indonesia, agar lebih meng­hidupi nilai-nilai toleransi yang lebih baik lagi dalam kehidupan bermasyarakat dan ber-agama.

Natal, pesan perdamaian

Menurut Gusdur dalam artikel yang pernah ditulis beliau di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 silam, kata Natal juga ada dalam kitab suci Al-Quran, yang disebut sebagai "Yauma Wulida" yang artinya dijelaskan secara historis oleh ahli tafsir sebagai kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip; kedamaian atas orang yang dilahirkan hari ini.

Untuk masalah Isa itu Nabi menurut agama lain, dan Anak Tuhan menurut Kristiani, itu masalah lain dan sesuai tafsir masing-masing agama yang memiliki pembenarannya tersendiri dan disertai bukti dan keyakinan bagi pemeluknya. Namun, yang menjadi persoalan penting disini adalah, bahwa Natal juga diakui di agama lain.

Bahkan, Almarhum Gusdur pernah berujar, entah itu guyonan beliau atau bukan, yang jelas beliau dikenal sebagai bapak Pluralisme Indonesia, berkata ; "Mestinya yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat ber-agama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab Yesus Kristus atau Isa Al-Masih ada­­lah juru selamat umat manusia, bukan juru selamat umat Kristen saja".

Hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa sejak dari da­hulu kala, sejak jaman para nabi dan sejak kitab suci setiap agama ditafsirkan, toleransi jelas ditekankan dida­lamnya, bahwa kedamaian antar agama itu adalah hal mutlak. Bahkan, dalam ajaran Kristen sendiri, hukum yang utama dan paling utama adalah "Kasihilah Tuhan, Allah mu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Kata yang paling ditekankan pada kalimat seruan diatas adalah Kasih, dimana saat Kasih disebarkan kesemua orang, maka kedamaian yang akan tercipta. Tidak ada pertengkaran soal ajaran agama siapa paling benar, dan tidak satu keputusan bahwa agama yang satu yang menjadi Agama Tuhan, karena Tuhan pun tidak pernah membawa Agama ke dunia ini. Agama ada sebagai bentuk representasi manusia dalam menyembah Tuhan, dan jalan manusia dalam mengenal Tuhan lebih dekat.

Untuk itu, lewat Lonceng Natal tahun ini, hentikan pertikaian antar agama dinegara yang katanya toleran ini. Luapkan kesesakan hati dalam bentuk bebasnya beribadah, dan saling menghargai satu sama lain antar masing-masing pemeluk agama di Indonesia. Karena sesungguhnya, agama itu membawa damai dan berkah, bagi setiap yang menjalankannya dengan benar.

Mungkin juga, kita akan rindu sosok seorang mantan presiden, Alm. Gusdur, yang selalu mengedepankan To­leransi ber-agama, untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, serta perdamaian di Indonesia. Dan mungkin kita akan berkata, "Gus, kami repot dengan masalah agama saat ini !". dan mendengar ungkapan itu, kemungkinan Alm. Gus­dur akan berkata sambil tertawa ringis; "Gitu aja ko repot !".***

Penulis adalah Pemerhati Sosial.
sumber:analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 17:02

    Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil

    BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi.  Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe

  • Rabu, 29 Apr 2026 17:01

    Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII

    Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.