Menilik Inovasi Pendidikan Abad 21
Sabtu, 03 Okt 2015 15:09
Beberapa bulan yang lalu, saya diberi saran oleh Professor Lo untuk membaca beberapa jurnal tentang Pendidikan. Beliau menunjukkan beberapa jurnalnya pada saya ketika masih berkuliah di Amerika. Salah satu jurnal yang disarankan untuk saya baca adalah Redesigning Education for the 21st Century. Jumlah halamannya sekitar 70an. Saya harus membaca dengan hati-hati dan mencatat poin penting dari jurnal tersebut. Saya senang karena jurnal ini sangat berkaitan dengan riset saya nanti.
Jika diperhatikan, sekilas jurnal tersebut memaparkan bagaimana mendesain pendidikan di abad 21. Dipaparkan pentingnya pembelajaran di abad 21 dan lingkungan belajar di abad 21. Tak hanya itu, dalam jurnal itu disebutkan beberapa Negara yang berlomba-lomba mendesain pendidikan abad 21. Kandidat Negara ASEAN yang mampu bersaing dengan Negara-negara lain adalah Singapura. Singapura adalah salah satu Negara yang paling peduli tentang hal itu. Terbukti Singapura duduk pada peringkat pertama disusul Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Hungaria, Inggris, Republik Ceko, Rusia dan Slovenia. Singapura meraih score tertinggi bidang matematika dan sains yang dirilis oleh Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS, 1995, 1999, 2003, and 2007).
Selain itu dikupas pula teknologi informasi dan komunikasi berkembang sedemikian cepatnya dan memegang peranan yang sangat strategis saat ini. Abad 21 ditandai dengan peran besar pengaruh teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Itulah sebabnya, abad 21 ini dikenal pula sebagai era informasi. Batas dan sekat antar Negara menjadi semakin tidak jelas. Warga Negara menyatu dengan warga dunia global, sehingga era sekarang disebut pula sebagai era global.
Keberadaan teknologi tersebut telah mengubah cara kita bertransaksi, membaca, bersenang-senang, berkomunikasi, berbicara, dan termasuk cara kita belajar. Keberadaan teknologi tersebut juga memungkinkan semua orang, yang memiliki akses terhadap teknologi ini tentunya, dapat memperoleh informasi apa saja, dari mana saja, dimana saja, kapan saja. Ini artinya, semua orang dapat belajar apa saja, kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, dengan cara apa saja. Pembelajaran lebih bersifat terbuka, fleksibel dan terdistribusi.
Membangun siswa agar memiliki keterampilan abad 21 tersebut merupakan suatu tantangan tersendiri. Paradigma pembelajaran lama sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Paradigma pendidikan modern yang lebih bersifat student-centered dan constructive learning sebaiknya segera dilakukan mulai saat ini, mulai dari hal yang sederhana. Paradigma pembelajaran konvensional berubah. Pembelajaran berpusat pada guru, berubah menjadi pembelajaran berpusat pada siswa atau pembelajaran dua arah. Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, belajar melalui penemuannya dan siswa dapat menentukan sendiri tingkat capaian pembelajarannya. Peran guru berkembang menjadi fasilitator. Memfasilitasi siswa untuk melakukan pembelajaran. Guru lebih banyak menyiapkan alat bantu (scaffolding) bagi proses pembelajaran, dan memastikan bahwa standar tercapai. Mutu pendidikan dan pembelajaran di sekolah sangat tergantung dari keterampilan dan kemampuan guru dalam mengelola dan memilih metode pembelajaran yang tepat bagi anak didiknya.
Kurikulum harus dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skils). Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh siswa. Guru mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.
Finlandia misalnya, kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka (tenaga pendidik). Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka.
Selain pendekatan pembelajaran, siswa pun harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi, khususnya komputer. Literasi teknologi informasi dan komunikasi adalah suatu kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar siswa. Kegiatan-kegiatan yang harus disiapkan oleh guru adalah kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan teknologi komputer untuk melatih keterampilan berpikir kritisnya dalam memecahkan masalah melalui kolaborasi dan komunikasi dengan teman sejawat, guru-guru, ahli atau orang lain yang memiliki minat yang sama.
Pendidik Peduli Pendidikan
Membaca jurnal Redesigning Education for the 21st Century lantas mengingatkan saya dengan sebuah tulisan di Harian Kompas setahun yang lalu dengan judul "Memikir Ulang Pendidikan". Tulisan itu buah pikiran Mantan Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Jika anda punya waktu, bacalah tulisan permenungan itu. Sepotong kalimat yang masih saya ingat "Pendidikan merupakan masalah setiap orang. Namun, tidak setiap orang merasa terpanggil membenahi sistem pendidikan secara konseptual-komprehensif, termasuk mereka yang sedang berkarya di jajaran pendidikan."
Ya, tentu saja saya sependapat dengan beliau. Jika kita berbicara pada lingkup kecil, di sekolah ada guru, di perguruan tinggi ada dosen—kedua-duanya adalah tenaga pendidik. Namun, apakah semua tenaga pendidik peduli nasib pendidikan kita?. Jangankan nasib pendidikan, bagaimana nasib para siswa di dalam kelas?. Tidak semua guru mampu mendedikasikan dirinya menyejahterakan murid dengan cara mengajar, mendidik murid untuk mencapai keluhuran itu. Bukan hanya siswa duduk manis dikelas menghadap guru dan melihat papan tulis atau pegang buku. Bahkan yang lebih parah adalah menyuruh siswa mencatat buku sampai habis dan pergi ke kantin sekolah. Selain itu, setiap tahun dunia kampus menamatkan alumninya, khususnya alumni pendidikan. Setelah tamat, cari kerja. Jadi guru di sekolah atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, apa yang terjadi dengan "produk kampus" tersebut?.
Ada guru yang punya prinsip sebagai guru, tugasnya ya cari nafkah, cari uang, cari sesuap nasi dan syukur-syukur bisa menjadi pejabat sekolah atau petinggi dinas pendidikan. Meskipun kenyataannya tak serta-merta hal itu tidak disalahkan. Sikap seperti ini jelas tidak mungkin diandalkan untuk mencapai mutu pendidikan jika sosok seorang guru hanya bisa mengandalkan sikap EGP pada murid.
Disamping itu, begitu banyak pemikir-pemikir pendidikan kita namun berapa orang yang mau memberi hati, berletih, bersusah payah memikirkan pendidikan kita?. Sebagian dari mereka adalah produk luar negeri yang memiliki tujuan untuk memperbaiki pendidikan kita nantinya. Tugasnya adalah memikirkan nasib pendidikan bangsa dan Negara.
Tulisan Daoed Joesoef tentunya membuka jalan pikiran saya tentang pendidikan. Ia menyebut pendidikan adalah bagian dari kebudayaan dan bahwa "pendidikan" tidak sama dengan "persekolahan". Pendidikan adalah sebuah pendakian dari informasi melalui pengetahuan kearifan. Sebuah teori filosofis perlu mendeskripsikan dan menganalisis pendidikan ini. Kita tak bisa mengatakan, apalagi mencapai, apa yang kita kehendaki dari sekolah-sekolah yang kita dirikan selama kita tidak memahami pendidikan itu apa, untuk siapa yang ada di mana, bagaimana mempraktikkan pembelajaran dan apa-apa yang seharusnya diajarkan (kurikulum), lalu dibagi habis ke setiap jenjang pendidikan.
Ya, soal kurikulum yang terus menjadi perdebatan berbagai kalangan. Beberapa orang mengatakan itu adalah tradisi bangsa ini. Tradisi di negeri ini ketika penguasa negeri ini berganti, sistem pendidikan kita juga ikut berganti. Maka wajar saja ada jargon yang mengatakan "Ganti menteri, ganti kurikulum". Coba anda bayangkan proyek yang memakan biaya sebesar Rp2,49 triliun jika tidak serius dipersiapkan maka bisa berakhir sia-sia lantaran tak mencapai tujuan.
Kurikulum bukan cuma tugas Kemendikbud saja, tapi juga tugas perguruan tinggi. Seperti yang disebutkan Daoed, Pendidikan universiter adalah satu keniscayaan karena merupakan pencipta dan penggerak utama dari "komunitas ilmiah".
Selain itu, wilayah pendidikan semestinya wilayah suci yang tak boleh dipermainkan sesuka hati. Kita sudah berkali-kali ganti kurikulum dari tahun ke tahun. Namun, belum menemukan titik terang. Setelah beberapa kali berganti kurikulum apakah kualitas pendidikan, kualitas guru, kualitas peserta didik, pemerataan kesempatan pendidikan serta sarana dan prasana sekolah, sudah memadai? Lalu, bagaimanakah kualitas pendidikan saat ini? Apakah sudah baik?. Saya kira itu menjadi perhatian lebih pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
Sekali lagi, selain keharusan untuk menuntaskan persyaratan kualitas, kuantitas, kualifikasi, kompetensi mengajar dan sertifikasi, masih ada tantangan yang lebih yang harus dihadapi yaitu kemauan seorang guru menjiwai dan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dari itu, guru sebagai profesi yang luhur harus berusaha untuk senantiasa memantapkan profesinya.
Saya menyakini pendidikan Indonesia akan semakin lebih baik jika semua jajaran pendidikan mau memberi hati. Saya juga menyakini pendidikan Indonesia akan mampu berdiri sejajar dengan Negara-negara lain, khususnya Negara yang tergabung dalam ASEAN.
Untuk itu, pemerintah dan seluruh elemen pendidikan harus saling menyadari posisinya masing-masing dalam kesinergisitasan serta upaya pembenahan dan kemajuan pendidikan Indonesia di abad 21. Dan bukan tidak mungkin kemajuan itu tak lagi sekedar harapan belaka. Semoga!!(analisadaily)
Opini
Satgas Pamtas Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad Kembali Ukir Prestasi, Gagalkan Penyelundupan 21,4 Kg Sabu dan Amankan WNA di Entikong
Entikong - Satgas Pamtas RIâ€"Malaysia Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad kembali menorehkan prestasi gemilang dalam menjaga kedaulatan negara dan melindungi generasi bangsa dari ancaman narkotika. Personel P
Taekwondo Indonesia Loloskan 3 Atlet ke Asian Games Nagoya 2026, Siap Tantang Raksasa Asia
Jakarta - Tidak semua kemenangan diumumkan dari atas podium. Sebagian datang lebih dahulu melalui lembar hasil pertandingan, akumulasi poin, dan keputusan resmi yang memastikan sebuah negara berhak me
Liquid Narkoba Beredar di Pekanbaru, dr. Nining: Jangan Pernah Mencoba Kalau Tidak Mau Kecanduan
Jangan pernah mencoba, sebab isi pod getar bukan seperti vape yang isinya hanya sekadar nikotin.Tapi pod getar ini memang dikaitkan dengan zat yang isi di dalamnya itu adalah mengandung etomidat.Sekar
Antusias Warga dan Personel Polling Dukung Tim Jagoan,
PEKANBARU - Antuasias Piala Dunia 2026 tampak di seluruh Polsek Polres Dumai, Sabtu (13/6/2026).Bersama dengan warga, semangat perhelatan sepakbola dunia empat tahunan tersebut begitu terasa lewat keg
KPK Sita Dokumen Penting Terkait Kasus Suap Pengadaan di Muara Enim
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan penyitaan sejumlah dokumen penting terkait proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim. Tindakan ini merupakan bag