Rabu, 29 Apr 2026
  • Home
  • Opini
  • Merawat Toleransi dan Kesatuan Bangsa

Opini

Merawat Toleransi dan Kesatuan Bangsa

Oleh: Roy Naldi Simaremare
Minggu, 20 Nov 2016 10:00
Internet
Ilustrasi
Sekali lagi toleransi dan kesatuan bangsa harus dirawat. Tragedi kemanusiaan yang terjadi bagi para korban dan keluarga atas ledakan bom molotovyang menimpa jemaat HKBP di Gereja Oikoumene, Sengkotek, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu 13 November 2016, sangatlah menyedihkan. Kejadian itu menunjukkan bagaimana masa depan bangsa dan kebhinekaan kita?

Akhir-akhir ini, Indonesia diguncang de­ngan beberapa sikap radikalisme, isu-isu SARA, dan tinggi­nya suhu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilka­da). Persoa­lan perbedaan begitu menaik isunya dipermukaan, terlebih lagi gagap untuk dipahami dan dirajut. Sebahagian kelompok dan orang tidak bertanggungjawab sedang mengendus untuk meme­cah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Semua mengemuka dalam ruang publik dan media sosial. Intinya, harga peradaban begitu "murah" harganya bagi sekelompok pelaku yang tidak bertanggungjawab. Pendangkalan-penda­ng­kalan pun terjadi akibat rendahnya semangat belajar bersama sebagai cara untuk menjaga dan merawat rumah bersama yaitu Indonesia.

Kejadian yang sungguh tragis itu, mengingatkan kembali akan kejadian yang pernah terjadi dalam rencana bom bunuh diri di rumah ibadah Santo Yosef, di Jalan Dr. Mansyur, Kota Medan, Sumatera Utara, tetapi berakhir gagal. Sebelumnya itu lagi, masih jelas dalam ingatan kita peristiwa pembakaran dan pengerusakan pada Jumat, 29/7/2016 di Tanjung Balai Provinsi Sumatera Utara. Insiden pembakaran rumah ibadah yang meliputi 3 vihara, 8 kelenteng dan 2 kantor yayasan dirusak massa, dipicu pertengkaran individu (Kompas, 31/7/2016).

Terlihat dari itu bahwa rawatan dan kesatuan bangsa semakin perlu mengalami pe­ning­katan dan penjagaannya. Memperlihatkan juga betapa masih dangkalnya pemahaman kita akan yang lain sebagai sesama manusia untuk hidup bersama di taman kebera­gaman. Kedangkalan pemahaman terhadap yang lain sebagai yang berbeda dan minusnya rasa kema­nusiaan, mengakhiri jalan keke­rasan sebagai penanda anti-kebera­gaman, yang harus diputus secepatnya.

Menyedihkan atas empat balita mengalami luka bakar akibat ledakan bom molotov, satu di antaranya Intan Olivia Marbun berusia dua tahun, meninggal dunia Senin (14/11) akibat luka bakar yang diderita hampir di seluruh tubuhnya(www.bbc.com,14/11/2016), bukan saja melukai keluarga yang sangat mendalam, tetapi melukai kemanusiaan, melukai Indonesia, melukai jalinan ke­hidupan yang beragam dan berduka cita atas hilangnya rasa tenang di negeri ini. Sembari lagi atas kejadian yang demikian masih ada analisa dan pengamat yang melihat itu sebagai pengalihan isu. Sungguh tak masuk akal sehat dan tragis.

Merawat toleransi

Toleransi beragama memang harus menjadi budaya dan dibu­dayakan. Mengakui dan menerima perbedaan terhadap yang lain merupakan sikap dewasa umat di tengah yang berbeda. Berbeda itu indah. Inilah yang harus kita rajut secara bersama agar tercipta keindahan dalam hidup berdam­pingan. Iba­rat taman yang didiami oleh beberapa jenis tumbuh-tumbuhan lainnya yang perlu dirawat keberlangsungan hidupnya dan memancarkan keindahan yang tak terperihkan.

Beberapa kejadian atas tragedi kemanusiaan di atas sangat mengoyak toleransi di Indonesia yang telah terjalin lama. Bahkan sejak Indonesia ini lahir pun kemerdekaan Indonesia telah sampai dikarenakan segala dari yang berbeda tadi. Dengan perbandi­ngan keadaan yang terjadi membukakan mata kita bahwa masih rapuhnya toleransi kita.Tak salah jika disebutkan toleransi kini sedang "disandera" oleh pihak-pihak yang tak senang dan pihak-pihak penguasa yang mau meng­eks­ploitasi bangsa ini.

Kisah yang demikian jelas menyentak hati seluruhkomponen masyarakat. Berantakannya nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan senada dengan itu,haruslah segera dibenahiatas pengelihatan peristi­wa dan konflik yang terjadi, sehingga agar tidak semakin dipolitisir oleh pembela-pembela kepentingan sepihak itu.

Melampaui itu tak ada jalan lain adalah duduk bersama dan bercerita tentang hati yang rapuh – disertai semangat kasih yang dalam antar sesama yang berbeda. Mende­ngarkan dan berdialog adalah jalan yang harus ditempuh ketika ada ketidakselarasan, bukan malah menjadikan itu instrumen untuk memprovokatori yang lain.

Konteks adalah teks yang bisa dibaca secara bersama dengan mata terbuka tanpa ada kepen­tingan. Analisis dan kajian sudah perlu dijalankan untuk melihat dan mengukur ke-toleransi-an di masyarakat beragama. Semua perlu diuji di ruang publik hingga akan menghasilkan yang mumpuni dan transformasi.

Keterlibatan tokoh-tokoh beragama sa­ngat­lah penting seba­gai pengkontrol. Tokoh-tokoh dan masyarakat semakin memberikan makna dan fungsi atas "tragedi" yang terjadi. Dengan peran bersa­ma tentu kita telah berada pada aktivitas di lingkaran menuju ideal beragama dan berbangsa.

Dengan elemen-elemen yang berkumpul idealnya bersinergi diruang publik merangkai kasih bersama. Menciptakan tanda-tanda beragama yang sukses. Beragama dalam ke­hidupan masya­rakat yang berbeda tidak lain adalah tanda beragama yang memiliki spritualitas yang cerdas. Perjumpaan itu me­ru­pakan serang­kaian menuju pada kesatuan dan persatuan.

Dalam agama-beragama pe­ngen­dalian diri adalah tema penting untuk perlu dipahami, dihidupi dan diaktualisasikan. Pengendalian diri di tengah memahami teks–konteks meru­pakan sangat penting dan sabar melakoni­nya. Keberaga­maan tidak membawa kita langsung bertindak reaktif tetapi responsif dan terbuka.

Melihat itu sebagai peluang membangun pilar kebangsaan. Keberagaman yang dilihat baiknya sebagai jalan baru menempuh sejarah beragama yang cerdas–yang masih berlangsung dengan pengelihatan ada keindahan dan kebaikan bersama yang harus diba­ngun untuk keberagaman yang kita miliki.

Peran negara harus tegas

Indonesia adalah negara pluralis yang tak bisa ditawar-tawar. Atas kejadian yang hampir senada seperti yang disebutkan di atas, negara terkesan melupakan beberapa kejadian intoleransi yang terjadi di negeri ini.Negara hampir sibuk fokus pada jabatan dan kekuasaan, sementara urusan kema­nusiaan yang jelas dibutuh­kan segera pernyataan sikap negara terkesan diabaikan.

Menjadikan negeri ini menjadi tempat yang damai merupakan tugas bersama semua umat, terlebih negara.Tindakan intole­ransi di negeri ini semakin menjadi-jadi saja dikarenakan tidak ada ketegasan/ lambatnya pemerintah dan tak ada ketegasan hukum.

Kekerasan dengan mengatasnamakan apapun dan bentuk apapun tidaklah bisa ditoleransi dan didiamkan. Semua sama dimata hukum. Kekerasan apapun menjadikan ruang publik tidak lagi nyaman dan aman. Apalagi saat ini tempat ibadah pun yang baiknya aman kini semakin tak aman dikarenakan orang yang bertanggungjawab dan yang tak mampu menterjemahkan hal-hal yang privat ke ruang publik.

Peran negara harus semakin diperkuat dan ditingkatkan. Harusnya tidak terjadi lagi di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.Mengapa demikian? Joko Widodo sebagai orang nomor satu di Indonesia dipahami keberadaannya mampu meng­artikan bahwa bangsa yang lebih baik sedang lahir. Seorang pemim­pin seperti Ia mampu membidani menjadi lebih sehat dan baik.

Kehadirannya pun tak begitu bergegas jika diperhatikan setelah kejadian berlangsung. Pada hal, jikalau pemimpin negara cepat mengerahkan dan terjun ke lapangan, dapat menjadi penguatan terhadap korban dan keluarga. Serta semakin terlihatlah wajah Indonesia yang penuh dengan toleransi dan keadilan bagi seluruh umat.

Presiden tidak hanya berhenti pada kunjungan safari politik atau konsolidasipolitik kepada para pemimpin yang menurutnya bagus, tetapi hal yang serius pula perlu disikapi presiden bagaimana membasmi paham-paham radikal dan membubarkan orga­nisasi-organisai yang ekstrim dan yang membuat bangsa ini tidak nyaman.

Pemerintah sebagai penyeleng­gara negara tegas kepada pelaku kekerasan atas nama apapun. Sebab dengan keadilanlahmampu adanya menjadikan kuatnya suatu bangsa. Sembari juga tetap teguh berjalan pada prinsip konstitusi negara. Di situ jelas hendak mau dikata­kan bahwa pihak penye­lenggara negara yaitu peme­rin­tah benar-benar bertanggungjawab atas keamanan rakyatnya, merawat toleransi dan kesatuan bangsa Indonesia. Semoga. ***

Penulis adalah pemerhati sosial-politik dan senior GMKI.

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 17:02

    Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil

    BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi.  Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe

  • Rabu, 29 Apr 2026 17:01

    Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII

    Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.