Opini
Merawat Toleransi dan Kesatuan Bangsa
Oleh: Roy Naldi Simaremare
Minggu, 20 Nov 2016 10:00
Akhir-akhir ini, Indonesia diguncang dengan beberapa sikap radikalisme, isu-isu SARA, dan tingginya suhu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Persoalan perbedaan begitu menaik isunya dipermukaan, terlebih lagi gagap untuk dipahami dan dirajut. Sebahagian kelompok dan orang tidak bertanggungjawab sedang mengendus untuk memecah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Semua mengemuka dalam ruang publik dan media sosial. Intinya, harga peradaban begitu "murah" harganya bagi sekelompok pelaku yang tidak bertanggungjawab. Pendangkalan-pendangkalan pun terjadi akibat rendahnya semangat belajar bersama sebagai cara untuk menjaga dan merawat rumah bersama yaitu Indonesia.
Kejadian yang sungguh tragis itu, mengingatkan kembali akan kejadian yang pernah terjadi dalam rencana bom bunuh diri di rumah ibadah Santo Yosef, di Jalan Dr. Mansyur, Kota Medan, Sumatera Utara, tetapi berakhir gagal. Sebelumnya itu lagi, masih jelas dalam ingatan kita peristiwa pembakaran dan pengerusakan pada Jumat, 29/7/2016 di Tanjung Balai Provinsi Sumatera Utara. Insiden pembakaran rumah ibadah yang meliputi 3 vihara, 8 kelenteng dan 2 kantor yayasan dirusak massa, dipicu pertengkaran individu (Kompas, 31/7/2016).
Terlihat dari itu bahwa rawatan dan kesatuan bangsa semakin perlu mengalami peningkatan dan penjagaannya. Memperlihatkan juga betapa masih dangkalnya pemahaman kita akan yang lain sebagai sesama manusia untuk hidup bersama di taman keberagaman. Kedangkalan pemahaman terhadap yang lain sebagai yang berbeda dan minusnya rasa kemanusiaan, mengakhiri jalan kekerasan sebagai penanda anti-keberagaman, yang harus diputus secepatnya.
Menyedihkan atas empat balita mengalami luka bakar akibat ledakan bom molotov, satu di antaranya Intan Olivia Marbun berusia dua tahun, meninggal dunia Senin (14/11) akibat luka bakar yang diderita hampir di seluruh tubuhnya(www.bbc.com,14/11/2016), bukan saja melukai keluarga yang sangat mendalam, tetapi melukai kemanusiaan, melukai Indonesia, melukai jalinan kehidupan yang beragam dan berduka cita atas hilangnya rasa tenang di negeri ini. Sembari lagi atas kejadian yang demikian masih ada analisa dan pengamat yang melihat itu sebagai pengalihan isu. Sungguh tak masuk akal sehat dan tragis.
Merawat toleransi
Toleransi beragama memang harus menjadi budaya dan dibudayakan. Mengakui dan menerima perbedaan terhadap yang lain merupakan sikap dewasa umat di tengah yang berbeda. Berbeda itu indah. Inilah yang harus kita rajut secara bersama agar tercipta keindahan dalam hidup berdampingan. Ibarat taman yang didiami oleh beberapa jenis tumbuh-tumbuhan lainnya yang perlu dirawat keberlangsungan hidupnya dan memancarkan keindahan yang tak terperihkan.
Beberapa kejadian atas tragedi kemanusiaan di atas sangat mengoyak toleransi di Indonesia yang telah terjalin lama. Bahkan sejak Indonesia ini lahir pun kemerdekaan Indonesia telah sampai dikarenakan segala dari yang berbeda tadi. Dengan perbandingan keadaan yang terjadi membukakan mata kita bahwa masih rapuhnya toleransi kita.Tak salah jika disebutkan toleransi kini sedang "disandera" oleh pihak-pihak yang tak senang dan pihak-pihak penguasa yang mau mengeksploitasi bangsa ini.
Kisah yang demikian jelas menyentak hati seluruhkomponen masyarakat. Berantakannya nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan senada dengan itu,haruslah segera dibenahiatas pengelihatan peristiwa dan konflik yang terjadi, sehingga agar tidak semakin dipolitisir oleh pembela-pembela kepentingan sepihak itu.
Melampaui itu tak ada jalan lain adalah duduk bersama dan bercerita tentang hati yang rapuh – disertai semangat kasih yang dalam antar sesama yang berbeda. Mendengarkan dan berdialog adalah jalan yang harus ditempuh ketika ada ketidakselarasan, bukan malah menjadikan itu instrumen untuk memprovokatori yang lain.
Konteks adalah teks yang bisa dibaca secara bersama dengan mata terbuka tanpa ada kepentingan. Analisis dan kajian sudah perlu dijalankan untuk melihat dan mengukur ke-toleransi-an di masyarakat beragama. Semua perlu diuji di ruang publik hingga akan menghasilkan yang mumpuni dan transformasi.
Keterlibatan tokoh-tokoh beragama sangatlah penting sebagai pengkontrol. Tokoh-tokoh dan masyarakat semakin memberikan makna dan fungsi atas "tragedi" yang terjadi. Dengan peran bersama tentu kita telah berada pada aktivitas di lingkaran menuju ideal beragama dan berbangsa.
Dengan elemen-elemen yang berkumpul idealnya bersinergi diruang publik merangkai kasih bersama. Menciptakan tanda-tanda beragama yang sukses. Beragama dalam kehidupan masyarakat yang berbeda tidak lain adalah tanda beragama yang memiliki spritualitas yang cerdas. Perjumpaan itu merupakan serangkaian menuju pada kesatuan dan persatuan.
Dalam agama-beragama pengendalian diri adalah tema penting untuk perlu dipahami, dihidupi dan diaktualisasikan. Pengendalian diri di tengah memahami teks–konteks merupakan sangat penting dan sabar melakoninya. Keberagamaan tidak membawa kita langsung bertindak reaktif tetapi responsif dan terbuka.
Melihat itu sebagai peluang membangun pilar kebangsaan. Keberagaman yang dilihat baiknya sebagai jalan baru menempuh sejarah beragama yang cerdas–yang masih berlangsung dengan pengelihatan ada keindahan dan kebaikan bersama yang harus dibangun untuk keberagaman yang kita miliki.
Peran negara harus tegas
Indonesia adalah negara pluralis yang tak bisa ditawar-tawar. Atas kejadian yang hampir senada seperti yang disebutkan di atas, negara terkesan melupakan beberapa kejadian intoleransi yang terjadi di negeri ini.Negara hampir sibuk fokus pada jabatan dan kekuasaan, sementara urusan kemanusiaan yang jelas dibutuhkan segera pernyataan sikap negara terkesan diabaikan.
Menjadikan negeri ini menjadi tempat yang damai merupakan tugas bersama semua umat, terlebih negara.Tindakan intoleransi di negeri ini semakin menjadi-jadi saja dikarenakan tidak ada ketegasan/ lambatnya pemerintah dan tak ada ketegasan hukum.
Kekerasan dengan mengatasnamakan apapun dan bentuk apapun tidaklah bisa ditoleransi dan didiamkan. Semua sama dimata hukum. Kekerasan apapun menjadikan ruang publik tidak lagi nyaman dan aman. Apalagi saat ini tempat ibadah pun yang baiknya aman kini semakin tak aman dikarenakan orang yang bertanggungjawab dan yang tak mampu menterjemahkan hal-hal yang privat ke ruang publik.
Peran negara harus semakin diperkuat dan ditingkatkan. Harusnya tidak terjadi lagi di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.Mengapa demikian? Joko Widodo sebagai orang nomor satu di Indonesia dipahami keberadaannya mampu mengartikan bahwa bangsa yang lebih baik sedang lahir. Seorang pemimpin seperti Ia mampu membidani menjadi lebih sehat dan baik.
Kehadirannya pun tak begitu bergegas jika diperhatikan setelah kejadian berlangsung. Pada hal, jikalau pemimpin negara cepat mengerahkan dan terjun ke lapangan, dapat menjadi penguatan terhadap korban dan keluarga. Serta semakin terlihatlah wajah Indonesia yang penuh dengan toleransi dan keadilan bagi seluruh umat.
Presiden tidak hanya berhenti pada kunjungan safari politik atau konsolidasipolitik kepada para pemimpin yang menurutnya bagus, tetapi hal yang serius pula perlu disikapi presiden bagaimana membasmi paham-paham radikal dan membubarkan organisasi-organisai yang ekstrim dan yang membuat bangsa ini tidak nyaman.
Pemerintah sebagai penyelenggara negara tegas kepada pelaku kekerasan atas nama apapun. Sebab dengan keadilanlahmampu adanya menjadikan kuatnya suatu bangsa. Sembari juga tetap teguh berjalan pada prinsip konstitusi negara. Di situ jelas hendak mau dikatakan bahwa pihak penyelenggara negara yaitu pemerintah benar-benar bertanggungjawab atas keamanan rakyatnya, merawat toleransi dan kesatuan bangsa Indonesia. Semoga. ***
Penulis adalah pemerhati sosial-politik dan senior GMKI.
sumber:harian.analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke