Rabu, 29 Apr 2026

Opini

Natal: Damailah di Bumi

Oleh: Hasan Sitorus
Selasa, 27 Des 2016 06:52
Ilustrasi

Penulis sengaja membuat judul ar­ti­kel ini karena sangat relevan dengan kon­­­­­­disi sosial masyarakat kita sekarang ini, dimana kita merindukan kedamaian, ke­­­sejukan, persatuan dan kesatuan ber­ba­­sis bhineka tungkal ika dalam bingkai NK­RI.

Kita yakin dan percaya bahwa pe­ra­yaan Natal tahun 2016 ini dapat ber­lang­sung secara kondusif di seluruh penjuru tanah air, dan menjadi wahana bagi kita untuk dapat membuktikan bahwa ke­beragaman atau kemajemukan kita me­ru­pakan perekat anak bangsa, bukan pe­mi­sah kita satu sama lain. 

Oleh sebab itu, bagi semua orang yang me­rayakan Natal hendaklah mampu mem­bawa damai di manapun ia berada karena se­cara fundamental kelahiran Yesus Kristus (Natal) adalah membawa damai sejahtera bagi umat manusia di dunia ini, sebagai­mana disuarakan firman Tuhan dalam Lukas 2 : 14 yang berbunyi : kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenaan kepadaNya.

Dengan demikian Natal membuka ja­lan bagi manusia untuk berdamai dengan Allah (hubungan vertikal), berdamai de­ngan sesama manusia (hubungan ho­ri­son­tal) dan berdamai dengan alam. Lebih men­dalam lagi Natal membawa peru­ba­han revo­lusioner dalam diri manusia un­tuk mampu berdamai dengan dirinya sen­diri yaitu menerima apa adanya yang te­lah diberikan Tuhan kepadanya, ber­damai dengan orang lain antar individu dan kelompok masyarakat tanpa mem­be­dakan suku, agama dan ras, dan ber­damai dengan alam yakni hidup serasi de­­ngan alam sebagai ciptaan Tuhan dan bu­kan menundukkan atau merusak alam.

Oleh sebab itu, setiap perayaan Natal ha­ruslah memberikan makna yang nyata da­lam kehidupan kita, tidak sekedar ha­nya perayaan seremonial, tetapi harus da­pat kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa kita selalu me­nun­jukkan kasih, membawa kedamaian dan kesejahteraan kepada orang lain di­mana pun kita tinggal di negeri tercinta ini.

Berdamai dengan Allah

Secara teologis, kelahiran Kristus ke du­­nia ini adalah cara Allah untuk mem­perbaiki hubunganNya dengan manusia yang telah rusak akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa.  Tuhan telah memulihkan kerusakan itu melalui kehadirannya di dunia ini sehingga manusia berdamai kembali dengan Allah.

Oleh sebab itu, secara teologis Natal juga memberikan makna adanya pengor­ba­nan Tuhan bagi manusia agar manusia da­pat diselamatkan.  Yang menjadi per­tanyaan, apakah kita mau berkorban un­tuk Tuhan, untuk bangsa dan negara ?  Apa­­kah kita mau dan rela berkorban un­­tuk orang lain atau sesama manusia ?  Hal ini akan dapat terjawab dan terwujud bila kita sudah berdamai dengan Tuhan, yang artinya kita telah menerima Dia se­­bagai juru selamat pribadi dan juru se­­lamat dunia.

Perdamaian manusia dengan Tuhan ada­lah suatu anugerah yang sangat besar (ama­zing grace), sehingga siapapun da­pat me­ne­rima anugerah itu secara cuma-cuma. Oleh sebab itu, marilah kita terima anu­gerah itu sehingga kegiatan-kegiatan yang kita lakukan pada masa perayaan Natal ini dapat memb­erikan makna yang berarti dalam hidup kita dan bagi orang lain.

Berdamai dengan Sesama

Tidak ada yang lebih indah bila kita hi­dup damai dengan semua orang.  Natal me­nyerukan agar kita sebagai pembawa damai sejahtera bagi sekeliling kita, bagi  bangsa dan negara dan juga bagi dunia. Oleh sebab itu, tunjukkanlah kasih ke­pada semua orang dimanapun kita be­rada, dan selalu membawa kesejukan ke­­pada orang lain. Dengan perkataan lain, kita ha­­rus menjadi terang dan garam bagi sekeliling kita, dan menjadi saluran ber­kat bagi orang lain.

Di tengah-tengah kemajemukan bang­sa kita baik agama, suku, dan budaya, ma­ka kita haruslah menggunakan plu­ra­lisme itu sebagai perekat bangsa dalam ke­­rangka NKRI, bukan untuk membuat gap antara satu kelompok dengan ke­lom­pok lain.

Kelompok mayoritas ha­rus­lah melin­dungi kelompok mi­noritas, dan ke­lompok minoritas harus selalu meng­hargai kelompok mayoritas dan se­baliknya. Dengan cara seperti ini­lah akan tercipta damai sejahtera diantara kita sebagai anak bangsa.

Beberapa kejadian yang mengusik kedamaian antar umat beragama bela­kangan ini seperti aksi pemboman ge­reja, pembubaran kegiatan KKR Natal oleh ormas tertentu, dan dugaan penistaan agama tertentu, haruslah dipandang sebagai masalah krusial, tetapi tidak menimbulkan  perpecahan diantara anak bangsa. Hendaklah kita selalu mengedepankan keber­sa­ma­an dan kedamaian serta mampu memaaf­kan kesalahan orang lain. Kita harus menyadari bahwa tidak ada satu orangpun yang tidak pernah bersalah dan berbuat dosa di dunia ini, sehing­ga secara filosofis bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan selalu ada kelemahan dan kelebihan masing-masing, sehingga setiap orang tidak dapat menghakimi orang lain dengan menyatakan saya tidak bersalah, orang lain yang bersalah.

Prinsip toleransi diantara umat be­ragama di negeri ini sering mengalami pasang surut akibat terjadinya kesalah pa­haman, dan bahkan sampai menim­bulkan tindak kekerasan akibat terja­dinya intoleransi yang sering diman­faatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Oleh sebab itu, penulis mengajak semua elemen bang­sa ini untuk selalu mendahu­lukan prinsip kedamaian, bukan me­manasi situasi dengan pernyataan-per­nyataan yang dapat menyulut dan mengobarkan kebencian baik melalui media sosial (medsos) di internet mau­pun melalui ragam media cetak lainnya.

Adanya rencana pemerintah yang akan membentuk satuan tugas (sat­gas) anti intoleransi keberagaman di negeri ini patut didukung semua pi­hak.  Satgas ini diharapkan dapat sege­ra meredam aksi-aksi intoleransi baik melalui pendekatan persuasif maupun pendekatan hukum.  Bagai­ma­napun negeri ini harus tetap men­junjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dengan mengembangkan de­mokrasi sebagai salah satu pilar ke­bangsaan kita. Demokrasi sangat meng­hargai aspirasi masyarakat, dan menjunjung tingggi kebebasan men­yampaikan pendapat, tetapi juga ha­rus menjaga jangan sampai meng­gang­gu kebebasan orang lain.

Makna Natal sangat relevan de­ngan prinsip demokrasi yang kita kem­bangkan di negeri ini, yakni sa­ling menghargai, saling menghormati dan menekankan damai sejahtera un­tuk semua anak bangsa. Hendaknya tidak seorangpun yang menggunakan unsur keberagaman atau pluralisme di negeri ini untuk tujuan-tujuan po­litik sesaat, yang dapat merusak sen­di-sendi Bhinneka Tungka Ika.

Berdamai dengan Alam

Makna Natal yang  juga penting harus kita pahami adalah bagaimana manusia sebagai mahkota ciptaan hidup berdamai dengan alam.   Hidup berdamai dengan alam akan mencip­ta­k­an lingkungan yang lestari dan menghindarkan manusia dari ben­cana alam.

Kita harus mengakui bahwa ter­jadinya bencana alam di berbagai pen­juru tanah air atau bahkan di berbagai belahan dunia, tidak terlepas dari dampak perbuatan manusia yang tidak lagi bersahabat dengan alam. Ma­nusia telah berupaya secara mak­simal dengan teknologi yang dimili­kinya untuk menundukkan alam, pada hal sesungguhnya alam itu memiliki kaidah-kaidah yang tidak dapat dilawan manusia. 

Keserakahan manusia untuk me­ngejar kesejahteraan material secara nyata telah menyebabkan banyak sum­berdaya alam dan lingkungan menjadi rusak, dan pada gilirannya manusia yang merasakan dampak ne­gatifnya, seperti terjadinya banjir ban­dang dan tanah longsor yang menim­bulkan kerugian harta benda dan jiwa manusia.

Bencana alam yang sudah terjadi di berbagai penjuru negeri ini harus­lah  menyadarkan kita betapa kita su­dah tidak berdamai dengan alam lagi.  Mari kita kembali bersahabat dengan alam, karena alam itu adalah ciptaan Tuhan yang harus kita kelola dan pelihara keutuhannya.  Natal me­ngajak kita untuk selalu berbuat arif terhadap alam dan lingkungan agar kita dapat terhindar dari bencana alam. Selamat Hari Natal 25 Desem­ber 2016, damai di bumi, damai di Indonesia dan damai di hati ki­ta.***

Penulis adalah dosen tetap di Universitas Nommensen Medan.

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 17:02

    Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil

    BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi.  Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe

  • Rabu, 29 Apr 2026 17:01

    Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII

    Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.