Opini
Natal: Damailah di Bumi
Oleh: Hasan Sitorus
Selasa, 27 Des 2016 06:52
Penulis sengaja membuat judul artikel ini karena sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat kita sekarang ini, dimana kita merindukan kedamaian, kesejukan, persatuan dan kesatuan berbasis bhineka tungkal ika dalam bingkai NKRI.
Kita yakin dan percaya bahwa perayaan Natal tahun 2016 ini dapat berlangsung secara kondusif di seluruh penjuru tanah air, dan menjadi wahana bagi kita untuk dapat membuktikan bahwa keberagaman atau kemajemukan kita merupakan perekat anak bangsa, bukan pemisah kita satu sama lain.
Oleh sebab itu, bagi semua orang yang merayakan Natal hendaklah mampu membawa damai di manapun ia berada karena secara fundamental kelahiran Yesus Kristus (Natal) adalah membawa damai sejahtera bagi umat manusia di dunia ini, sebagaimana disuarakan firman Tuhan dalam Lukas 2 : 14 yang berbunyi : kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenaan kepadaNya.
Dengan demikian Natal membuka jalan bagi manusia untuk berdamai dengan Allah (hubungan vertikal), berdamai dengan sesama manusia (hubungan horisontal) dan berdamai dengan alam. Lebih mendalam lagi Natal membawa perubahan revolusioner dalam diri manusia untuk mampu berdamai dengan dirinya sendiri yaitu menerima apa adanya yang telah diberikan Tuhan kepadanya, berdamai dengan orang lain antar individu dan kelompok masyarakat tanpa membedakan suku, agama dan ras, dan berdamai dengan alam yakni hidup serasi dengan alam sebagai ciptaan Tuhan dan bukan menundukkan atau merusak alam.
Oleh sebab itu, setiap perayaan Natal haruslah memberikan makna yang nyata dalam kehidupan kita, tidak sekedar hanya perayaan seremonial, tetapi harus dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa kita selalu menunjukkan kasih, membawa kedamaian dan kesejahteraan kepada orang lain dimana pun kita tinggal di negeri tercinta ini.
Berdamai dengan Allah
Secara teologis, kelahiran Kristus ke dunia ini adalah cara Allah untuk memperbaiki hubunganNya dengan manusia yang telah rusak akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa. Tuhan telah memulihkan kerusakan itu melalui kehadirannya di dunia ini sehingga manusia berdamai kembali dengan Allah.
Oleh sebab itu, secara teologis Natal juga memberikan makna adanya pengorbanan Tuhan bagi manusia agar manusia dapat diselamatkan. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau berkorban untuk Tuhan, untuk bangsa dan negara ? Apakah kita mau dan rela berkorban untuk orang lain atau sesama manusia ? Hal ini akan dapat terjawab dan terwujud bila kita sudah berdamai dengan Tuhan, yang artinya kita telah menerima Dia sebagai juru selamat pribadi dan juru selamat dunia.
Perdamaian manusia dengan Tuhan adalah suatu anugerah yang sangat besar (amazing grace), sehingga siapapun dapat menerima anugerah itu secara cuma-cuma. Oleh sebab itu, marilah kita terima anugerah itu sehingga kegiatan-kegiatan yang kita lakukan pada masa perayaan Natal ini dapat memberikan makna yang berarti dalam hidup kita dan bagi orang lain.
Berdamai dengan Sesama
Tidak ada yang lebih indah bila kita hidup damai dengan semua orang. Natal menyerukan agar kita sebagai pembawa damai sejahtera bagi sekeliling kita, bagi bangsa dan negara dan juga bagi dunia. Oleh sebab itu, tunjukkanlah kasih kepada semua orang dimanapun kita berada, dan selalu membawa kesejukan kepada orang lain. Dengan perkataan lain, kita harus menjadi terang dan garam bagi sekeliling kita, dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Di tengah-tengah kemajemukan bangsa kita baik agama, suku, dan budaya, maka kita haruslah menggunakan pluralisme itu sebagai perekat bangsa dalam kerangka NKRI, bukan untuk membuat gap antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Kelompok mayoritas haruslah melindungi kelompok minoritas, dan kelompok minoritas harus selalu menghargai kelompok mayoritas dan sebaliknya. Dengan cara seperti inilah akan tercipta damai sejahtera diantara kita sebagai anak bangsa.
Beberapa kejadian yang mengusik kedamaian antar umat beragama belakangan ini seperti aksi pemboman gereja, pembubaran kegiatan KKR Natal oleh ormas tertentu, dan dugaan penistaan agama tertentu, haruslah dipandang sebagai masalah krusial, tetapi tidak menimbulkan perpecahan diantara anak bangsa. Hendaklah kita selalu mengedepankan kebersamaan dan kedamaian serta mampu memaafkan kesalahan orang lain. Kita harus menyadari bahwa tidak ada satu orangpun yang tidak pernah bersalah dan berbuat dosa di dunia ini, sehingga secara filosofis bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan selalu ada kelemahan dan kelebihan masing-masing, sehingga setiap orang tidak dapat menghakimi orang lain dengan menyatakan saya tidak bersalah, orang lain yang bersalah.
Prinsip toleransi diantara umat beragama di negeri ini sering mengalami pasang surut akibat terjadinya kesalah pahaman, dan bahkan sampai menimbulkan tindak kekerasan akibat terjadinya intoleransi yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Oleh sebab itu, penulis mengajak semua elemen bangsa ini untuk selalu mendahulukan prinsip kedamaian, bukan memanasi situasi dengan pernyataan-pernyataan yang dapat menyulut dan mengobarkan kebencian baik melalui media sosial (medsos) di internet maupun melalui ragam media cetak lainnya.
Adanya rencana pemerintah yang akan membentuk satuan tugas (satgas) anti intoleransi keberagaman di negeri ini patut didukung semua pihak. Satgas ini diharapkan dapat segera meredam aksi-aksi intoleransi baik melalui pendekatan persuasif maupun pendekatan hukum. Bagaimanapun negeri ini harus tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dengan mengembangkan demokrasi sebagai salah satu pilar kebangsaan kita. Demokrasi sangat menghargai aspirasi masyarakat, dan menjunjung tingggi kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga harus menjaga jangan sampai mengganggu kebebasan orang lain.
Makna Natal sangat relevan dengan prinsip demokrasi yang kita kembangkan di negeri ini, yakni saling menghargai, saling menghormati dan menekankan damai sejahtera untuk semua anak bangsa. Hendaknya tidak seorangpun yang menggunakan unsur keberagaman atau pluralisme di negeri ini untuk tujuan-tujuan politik sesaat, yang dapat merusak sendi-sendi Bhinneka Tungka Ika.
Berdamai dengan Alam
Makna Natal yang juga penting harus kita pahami adalah bagaimana manusia sebagai mahkota ciptaan hidup berdamai dengan alam. Hidup berdamai dengan alam akan menciptakan lingkungan yang lestari dan menghindarkan manusia dari bencana alam.
Kita harus mengakui bahwa terjadinya bencana alam di berbagai penjuru tanah air atau bahkan di berbagai belahan dunia, tidak terlepas dari dampak perbuatan manusia yang tidak lagi bersahabat dengan alam. Manusia telah berupaya secara maksimal dengan teknologi yang dimilikinya untuk menundukkan alam, pada hal sesungguhnya alam itu memiliki kaidah-kaidah yang tidak dapat dilawan manusia.
Keserakahan manusia untuk mengejar kesejahteraan material secara nyata telah menyebabkan banyak sumberdaya alam dan lingkungan menjadi rusak, dan pada gilirannya manusia yang merasakan dampak negatifnya, seperti terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang menimbulkan kerugian harta benda dan jiwa manusia.
Bencana alam yang sudah terjadi di berbagai penjuru negeri ini haruslah menyadarkan kita betapa kita sudah tidak berdamai dengan alam lagi. Mari kita kembali bersahabat dengan alam, karena alam itu adalah ciptaan Tuhan yang harus kita kelola dan pelihara keutuhannya. Natal mengajak kita untuk selalu berbuat arif terhadap alam dan lingkungan agar kita dapat terhindar dari bencana alam. Selamat Hari Natal 25 Desember 2016, damai di bumi, damai di Indonesia dan damai di hati kita.***
Penulis adalah dosen tetap di Universitas Nommensen Medan.
sumber:harian.analisadaily.com
Panglima TNI dan Menhan RI Yakinkan Kesiapan Interoperabilitas TNI
Kepri-Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., serta para Kepala
Wakil Panglima TNI dan Sejumlah Pejabat Negara Terima Warga Kehormatan dan Brevet Korps Marinir
Kepri-Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dan Kep
KKN Kelompok 17 Universitas Abdurrab Siap Sukseskan Perayaan HUT ke-81
Tapung Hulu-Semangat kebersamaan dan gotong royong mulai terasa di Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Abdurrab dan Karang Taruna
Termasuk Bapenda Riau, 8 OPD Raih Penghargaan Kearsipan Pemprov
PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau memberikan penghargaan kearsipan internal kepada delapan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan predikat Sangat Memuaskan. Penghargaan tersebut diserahkan di Pek
Plt Gubri Usulkan Jembatan Siak V dan Flyover Garuda Sakti ke Menteri PU
PEKANBARU â€" Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan sejumlah usulan pembangunan infrastruktur strategis kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, saat melakukan pert