Opini
Negeri Darurat Obat-obatan
Oleh: Asruddin P
Minggu, 06 Nov 2016 09:49
Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Antam Novambar mengatakan, di gudang tersebut ditemukan berbagai mesin untuk memproduksi obat (6/9).Tak hanya memproduksi, pabrik tersebut juga mengedarkan obat-obatan secara ilegal. Peredarannya mayoritas di Kalimantan Selatan.Dalam jumpa pers tersebut, Ketua BPOM Penny Lukito mengatakan, obat yang dipalsukan rata-rata merupakan obat pereda sakit.Dari kelima pabrik itu, disita sebanyak 42.480.000 butir obat-obatan dari berbagai merek.Obat-obatan tersebut antara lain Carnophen, Trihexyphenydyl, Heximer, Tramadol, dan Somadryl.Trihexyphenydyl dan Heximer misalnya adalah obat pereda rasa sakit untuk mengobati penyakit parkinson, yang jika dipakai berlebihan akan sangat berbahaya.
Selain itu ditemukan juga obat tradisional yang dipalsukan. Loh kog bisa? ya bisalah, soalnya pelaku menambahkan zat kimia dalam bahan baku obat tradisional sehingga berdampak fatal bagi penenggaknya.Hingga saat ini, Bareskrim Polri masih melakukan pengembangan dengan pemeriksaan para saksi, di mana sudah 15 saksi yang diperiksa, tapi belum ada tersangkanya. Sungguh tak berlebihan jika kita sedang berada dalam kondisi darurat obat-obatan.
Membunuh Secara Dingin
Kita sangat menyesalkan kenapa urusan vital kesehatan yang menjadi prioritas pelayanan publik ini bisa dengan mudah dimasuki kepentingan kotor. Kalau saja pemerintah sadar, kasus vaksin palsu mestinya membunyikan alarm bahwa rakyat sedang berada di hadapan para mafia obat yang berpura-pura berjubah profesional tapi sesungguhnya membunuh secara dingin rakyat. Publik wajar jika khawatir dengan peredaran obat palsu ini. Bukan tak mungkin, tak sedikit rakyat yang sudah menenggak obat-obatan abal tersebut, dan proses menuju kerusakan tubuh bahkan kematian sedang dihadapi mereka.
Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk hal tersebut? Pasti semua akan melempar tanggung jawabnya atau ramai-ramai mencari kambing hitam. Ini tentu tidak bertendensi menakut-nakuti. Tapi sebenarnya sebuah hardikan bagi pemerintah, agar tidak menyepelekan penjaminan obat-obat bermutu sebagai bagian dari kewajiban konstitusional. Apalagi, menurut polisi, peredaran obat palsu itu diduga sudah menjangkau dari Sabang sampai Merauke. Artinya, efek destruksi obat-obat tersebut sudah meluas karena terfasilitasi oleh komplotan jahat yang hanya berpikir "hari ini saya makan siapa", tanpa peduli pada nilai kemanusiaan. Taruhannya tentu saja masa depan bangsa. Seluruh generasi bisa rusak karena obat-obat palsu itu diedarkan untuk dikonsumsi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Di titik ini ada ratusan juta nyawa rakyat yang dipertaruhkan kalau urusan penjaminan mutu dan keaslian obat tersebut dikerjakan dengan sembarangan.Dalam kasus vaksin palsu, misalnya, kita tidak habis heran mengapa aksi pemalsuan baru ketahuan 10 tahun kemudian? Ini membuat kita mulai paham, bahwa makin ke sini ternyata tidak semua hal-hal vital seperti kesehatan, selalu bisa dipercayakan sepenuhnya pengelolaannya kepada pemerintah. Sebagaimana diketahui penyelidikan soal produksi dan peredaran obat palsu dimulai delapan bulan lalu.Banyak pelaku tindak pidana yang mengaku menggunakan obat-obatan palsu tersebut sebelum melakukan kejahatan.
Pasalnya, obat-obat tersebut dapat menimbulkan efek halusinasi yang amat mungkin ikut berkontribusi terhadap maraknya kriminalitas. Artinya jika pemerintah, aparat dan rakyat marah-marah soal frekuensi kriminalitas yang kian tinggi hari-hari ini di masyarakat, bisa jadi faktornya berasal dari kecerobohan negara itu sendiri. Mengapa anak bisa dengan mudah menganiaya orangtuanya, mengapa orang yang tersinggung hanya karena perkara sepele bisa dengan mudah menghabisi nyawa orang lain, atau mengapa orangtua gampang sekali membunuh anaknya hanya karena terlalu rewel, atau mahasiswa langsung menghabisi nyawa dosennya hanya karena mendapat teguran. Ini contoh, bahwa potensi kejahatan tak semata digerakkan oleh lingkungan, mental diri, tetapi bisa juga dipicu oleh faktor kesehatan, buah karya tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Kalau sosok pelayanan kesehatan seperti ini tak mau diperbaiki serius, maka jangan heran, kalau kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan oleh negara akan makin terkikis. Bukankah tanda-tandanya sudah terbaca saat ini? Lihat saja bagaimana berbondong-bondongnya rakyat pergi berobat ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Selain karena rumah sakit di Singapura rajin mempromosikan kehebatan pelayanan mereka, karena memang kualitas pelayanan kesehatan termasuk layanan obat mereka sangat teruji dan diakui internasional. Bahkan ada yang ke sana hanya sekadar untuk pengecekan kesehatan berkala, tes darah, atau operasi kecil.
Usut Tuntas dan Bongkar
Data Kementerian Kesehatan pada 2013 memperkirakan setiap tahunnya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri menghabiskan biaya Rp 100 triliun. Menurut Chief Operating Officer Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, Noel Yeo, di rumah sakit yang dia kelola menjadi langganan para pasien dari sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Surabaya, serta pasien dari Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Setiap tahunnya, rumah sakit itu menerima sekitar 18 ribu pasien asal Indonesia. Dari jumlah itu, 25 persennya atau sekitar 4.500 pasien diantaranya menjalani rawat inap di rumah sakit.Rata-rata lamanya rawat inap sekitar 3 hari, tergantung kondisi pasien. Dalam tiga hari perawatan, seorang pasien bisa merogoh kocek sekitar Rp 58,2–100 juta. Coba kita bayangkan, jika uang yang lari ke luar negeri itu terserap di dalam negeri. Uang itu bisa digunakan pemerintah untuk menambah fasilitas kesehatan termasuk pengadaan alat-alat kedokteran canggih.
Sayangnya, kita belum terbiasa berpikir investatif. Ini budaya pelayanan publik yang masih berakar kuat di negara kita. Yang ada Cuma mengejar rente dengan jalan mem-by-pass prosedur yang ada untuk menangguk rupiah secara cepat. Sampai kapan pembangunan kesehatan kita terus memakan korban? Yang jelas, kita menyerukan secara serius kepada pemerintah untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Termasuk mengungkap dan membongkar aktor utama di balik pembuatan dan peredaran obat palsu itu. Polisi, dibantu Badan POM tidak boleh mulur mungkret untuk menguak jaringan bisnis pemalsuan obat bernilai miliaran rupiah tersebut. Kementerian Kesehatan juga jangan hanya bereaksi prihatin. Melainkan harus lebih protektif dalam menerapkan standar pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan obat-obatan kepada publik. Ini agar kredibilitas terhadap pemerintah tetap terjaga.***
Penulis adalah Warga Masyarakat, Penikmat Layanan Kesehatan.
Sumber:harian.analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke