Perubahan Kunker Presiden
Jumat, 25 Sep 2015 09:26
Orang nomor satu di Indonesia tersebut, ternyata lebih memilih melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Provinsi Jambi hari ini Jumat (25/9). Kunker ke Jambi tersebut untuk meninjau langsung kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) yang semakin parah dan juga ingin melihat secara langsung sistem yang penanganan Karlahut di Provinsi Jambi.
Perubahan kunker Presiden dari Provinsi Riau ke Provinsi Jambi itu, cukup beralasan jika melihat kondisi titik api (hotspot) di Jambi yang semakin banyak. Sedangkan di sejumlah wilayah kabupaten/kota se Provinisi Riau titik api sudah sangat berkurang. Namun jika kita melihat dinamika perkembangan situasi di Provinsi Riau dengan maraknya unjukrasa yang dilakukan ratusan mahasiswa dan masyarakat dari berbagai elemen, tentunya akan menimbulkan suatu pertanyaan !
Apakah pembatalan tersebut juga ada kaitannya dengan gejolak mengkritisi kebijakan pemerintah, yang kurang tegas dan diduga "tebang pilih" terhadap pelaku (perusahaan) pembakar lahan dan hutan. Walau publik juga mengakui ratusan pelaku pembakar lahan dan hutan telah ditetapkan sebagai tersangka, sesuai dengan pernyataan Presiden agar menindak tegas pelaku Karlahut.
Selain itu, publik khususnya di Provinsi Riau melihat kesibukan yang sangat padat dari seorang Presiden Jokowidodo, sehingga tidak ingin mengambil resiko jika tetap menjadwalkan kedatangannya ke Riau. Apalagi gejolak pascaditetapkanya status Darurat Pencemaran Udara di Provinsi Riau sangat berdampak signifikan bagi masyarakat Riau.
Dampak signifikan itu, seperti diliburkannya aktivitas belajar mengajar, berulang kali lumpuhnya aktivitas penerbangan di bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II) Pekanbaru, dan meningkatnya penderita Inspeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) yang mencapai 31.780 orang. Bahkan pemerintah Malaysia telah mengevakuasi ratusan warganya dari Kota Pekanbaru melalui bandara SSK II Pekanbaru menuju negara Malaysia.
Suasana "panas" dari dinamikan perkembangan di Provinsi Riau itu, dirasakan sekali oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, Arsyadjuliandi yang langsung bertemu dengan ratusan demonstras dari berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Front Rakyat Riau Bebas Asap. Mahasiswa dan masyarakat Riau meminta Plt Gubernur Riau menandatangani kesepakatan mundur, jika Karlahut terjadi di tahun 2016 mendatang dan mencabut izin perusahaan besar yang membuat asap di Riau. Konsekwensi dari kesepakatan yang dibuat mahasiswa dan masyarakat tersebut tentunya ditolak Plt Gubernur Riau.
Tetapi kalau kita lihat, unjukrasa berulang kali yang terjadi itu dengan berbagai tuntutan, sebenarnya untuk menghilangkan kabut asap yang membuat masyarakat Riau menderita. Selain itu untuk membangkitkan keseriusan pemerintah untuk mencabut izin operasional para pemilik perusahaan pembakar lahan dan hutan, agar tidak ada lagi asap di Provinsi Riau.
Gejolak yang dirasakan Plt Gubernur Riau dari aksi yang dilakukan ratusan mahasiswa dan masyarakat tersebut, mungkin publik melihat dan menilai, cukup Plt Gubernur Riau yang merasakannya. Sehingga orang nomor satu di Indonesia yang memiliki kesibukan luas biasa bisa memprioritaskan penanganan lain yang perlu mendapat perhatian, seperti di Provinsi Jambi.
Karena secara realistis, publik di Riau juga harus mengakui titik api di Provinsi Riau sangat berkurang, namun kabut asap tetap ada. Titik persoalannya asapnya ternyata datang dari provinsi lain seperti Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan (Palembang). Sehingga untuk menghentikan kedatangan asap ke Riau harus sumber asapnya dihilangkan. Untuk itu tidaklah salah Presiden memilih Provinsi Jambi dalam kunker melihat persoalan Karlahut. Namun begitu tidaklah salah pascaditetapkan status Darurat Pencemaran Udara, Presiden berkesempatan berkunjung ke Riau. Kedatangan Presiden pilihan rakyat ke Provinsi Riau tentunya semakin memberi semangat dan memotivasi seluruh elemen masyarakat dan pengambil kebijakan (stakeholder) agar kualitas udara Riau menjadi sehat.
(harian analisa)
Jalan Kabupaten Banyak Rusak dan Berlubang, Legislator Siak Sabar Sinaga Desak Bupati Inovatif dan Jemput Bola
SIAK-Kondisi jalan kabupaten di Wilayah Kabupaten Siak yang mengalami kerusakan dan berlubang mendapat perhatian serius dari legislatif.Anggota DPRD Kabupaten Siak, Sabar Sinaga, meminta Pemerintah Ka
Jemputan HUT ke-69 Riau, Sekdaprov Anjangsana ke Kediaman Syamsuar
PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau terus mematangkan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 dengan memperkuat tali silaturahmi kepada Gubernur pada masanya yang telah memberikan kontribusi bagi pemban
Wali Kota Pekanbaru Tegaskan HGB STC Ramayana Tak Bisa Diperpanjang, Dicari Solusi Sesuai Aturan
PEKANBARU - Wali Kota Pekanbaru menegaskan Pemerintah Kota Pekanbaru memahami aspirasi para pemilik ruko STC Ramayana yang menginginkan Hak Guna Bangunan (HGB) diperpanjang. Namun, berdasarkan hasil k
Ratusan Pedagang STC Datangi DPRD Pekanbaru, Tuntut Pengembalian Hak HGB
PEKANBARU - Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Pedagang Sukaramai Trade Center (STC) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Kota Pekanbaru, Senin (3/8/2026). Mereka menuntut agar hak atas Hak
Pemprov Riau Pastikan Kerusakan Jalan Sontang - Kasang Padang Rohul Diperbaiki
PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau pastikan akan menangani kerusakan ruas jalan Sontang - Kasang Padang di Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Perbaikan jalan tersebut telah di