Opini
Pluralisme dan Harmoni Menyongsong Pilkada 2017
Oleh: Drs. Indra Muda Hutasuhut, MAP
Minggu, 13 Nov 2016 07:09
Kekhawatiran ini juga dilontarkan Wakil Presiden Jusuf Kalla melalui berbagai media dengan menegaskan akan pentingnya kerukunan hidup antar umat beragama. Menurut beliau, keberagaman dan kerukunan merupakan modal untuk tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kerukunan antar umat beragama bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sudah lama tumbuh di tengah-tengah masyarakat dan menjadi hal yang sangat rutin dan biasa serta menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai pelosok tanah air sehingga harus tetap dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya. Hidup rukun, damai dan saling menghargai antar teman dan tetangga, antar kampung dan kawasan serta antar suku bangsa yang berbeda faham keagamaan sudah membudaya, konon menjadi bagian dari kearifan lokal sejak berabad-abad yang lalu.
Pluralisme tercermin dari sejumlah agama yang diakui Negara (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu). Atas pengakuan ini, setiap pemeluk agama di negeri ini dapat melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya, apabila terdapat seseorang atau sekelompok orang melakukan intimidasi atau memaksakan agama yang dianutnya kepada orang lain, maka yang bersangkutan dapat melaporkannya kepada pihak yang berwenang.
Aris Totheles, philosof Yunani mengatakan, manusia itu adalah makhluk sosial zoon social yang tidak dapat hidup seorang diri tanpa mengadakan interaksi dengan manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa melakukan kontak sosial, berkomunikasi dengan manusia lainnya. Dalam proses interaksi ini, akan terjadi proses pengaruh mempengaruhi. Manusia yang mampu beradaptasi dengan lingkungan masyarakat sekitarnya akan dapat menciptakan harmonisasi kehidupan diantara mereka, sebaliknya apabila seseorang atau sekelompok orang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakatnya, atau tidak mau beradaptasi dengan lingkungannya, dapat menjadi sumber konflik (konflik agama, suku, etnis dan antar golongan) yang berujung kepada pecahnya perang antar etnis, antar suku, atau bahkan perang antar penganut agama.
Pluralisme agama dan Suku di Sumut
Berdasarkan data Kantor Statistik Sumatera Utara tahun 2014, Sumatera Utara memiliki penduduk lebih kurang 13.215.401 jiwa, yang terdiri dari penganut agama Islam sebanyak 65,46 %, Kristen Protestan 26,62 %, Katolik 4,78 %, Budha 2,82 %, Hindu 0,18 %, lain-lain 0,14 %. Ini berarti penduduk Sumatera Utara merupakan penduduk terbesar ke-3 di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Dengan komposisi penduduk tersebut, suku Melayu dan suku Batak tidak merasa suku mayoritas walaupun jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan suku lainnya. Hal ini tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Misalnya di Provinsi NAD dominasi suku Aceh lebih menonjol dibandingkan dengan suku lainnya baik dalam sektor ekonomi, politik maupun pemerintahan. Demikian juga dengan Sumatera Barat, dominasi suku Minang terlihat dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, sama halnya dengan Jawa Barat, Jawa Tengah yang menjadi suku mayoritasnya adalah suku Sunda dan Jawa. Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan beberapa Provinsi lainnya di Indonesia, penduduk asli menjadi suku dominan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Implementasi harmoni antar pemeluk agama di Sumatera Utara memiliki ciri yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat lainnya di Indonesia. Antar pemeluk agama dapat hidup saling berdampingan dan bertetangga. Atas dasar kerukunan ini Sumatera Utara dijadikan sebagai tujuan studi banding kerukunan hidup antar umat beragama oleh beberapa daerah di Indonesia. Demikian juga dengan pluralisme etnis dan suku tidak hanya pada aspek sosial budaya dan ekonomi, melainkan juga pada aspek politik. Suksesi yang mengantar H. Gatot Pujo Nugroho sebagai pemenang Pilkada tahun 2013 untuk jabatan Gubernur Provinsi Sumatera Utara yang berasal dari suku Jawa, merupakan bukti pluralisme agama dan etnis di daerah ini tidak melihat seorang kandidat dari aspek kesukuan atau etniknya, demikian juga dengan beberapa jabatan Bupati/Walikota dan pimpinan SKPD tidak jarang dijabat oleh para pejabat yang berasal dari luar suku di daerah tersebut. Konon, daerah yang akrab dengan sapaan Horas ini banyak dihuni etnis keturunan asing seperti etnis China, Arab, India, Pakistan, Eropa dan lain-lain yang memiliki peranan dan kedudukan penting dalam aspek ekonomi, politik dan pemerintahan.
Ketika memasuki bulan Syawal tahun 2015 yang lalu, saat umat muslim melaksanakan Ibadah Sholat Idul Fitri di beberapa tempat, secara sukarela dijaga oleh pemeluk agama Kristen dengan maksud mengantisipasi masuknya perusuh, provokator dan teroris, sebaliknya pada perayaan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015 pada beberapa Gereja tempat umat Kristiani melaksanakan ibadahnya dengan sukarela dijaga pemeluk agama Islam, dengan maksud yang sama yaitu mengantisipasi masuknya provokator dan teroris.Demikian juga ketika memasuki tahun baru 2016, banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya konflik antar etnis, suku dan antar agama (khususnya antara pemeluk agama Kristen dan Islam) di Sumatera Utara, terutama pada saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Namun setelah beberapa hari beranjak menapaki tahun 2016, kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Hal ini tentu menjadi fakta nyata bahwa, masyarakat Sumatera Utara masih memegang teguh konsep pluralisme dan harmoni.
Harapan kita tentu, menjelang Pilkada serentak 2017 yang sudah berada diambang mata masyarakat Indonesia dan Sumatera Utara tetap dapat menjunjung konsep pluralisme dan harmonisasi antar pemeluk agama, suku, etnis dan antar golongan. Semoga…!***
* Penulis adalah Wakil Dekan -I FISIPOL-UMA
sumber:harian.analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke