Opini
Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Islam
Oleh: Abdul Gaffar
Minggu, 13 Nov 2016 06:54
Pendidikan islam adalah upaya untuk menyadarkan manusia sebagai khalifah fil ard sesuai dengan kebutuhan potensi (talent). Yakni, melalui bimbingan seoang guru, melibatkan semua komponen yang diarahkan kepada realisasi tujuan kebutuhan utama berupa keagamaan dan nilai-nilai moral uneversal dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah sebagai hamba (al-Abdun).
Persoalannya adalah model pendidikan islam seperti apa yang melahirkan pribadi-pribadi yang toleran, inklusif, humanis, dan meneguhkan spirit multikulturalisme sebagai khalifah fil ard dan al-Abdun? Merekonstruksi pendidikan agama ke arah yang tidak doktriner adalah menjadi keharusan bagi para akademisi dan praktisi pendidikan Islam sehingga tidak akan muncul klaim-klaim kemutlakan. Ketika ruang perbedaan dan perubahan dalam agama telah dimatikan oleh sikap fanatik dan eksklusif, sehingga agama jadi antirealitas.
Selama ini, pendidikan Islam masih berkecenderungan bersifat normatif. Mulai dari rumusan tujuan sampai isi yang tidak membumi, karena masih bersifat seputar teosentris dan abstrak. Selama ini, makna tauhid hanya dipahami dari sisi teologis an sich, yakni Allah Maha Esa, kepada siapa semua bergantung. Padahal, Tauhid juga mempunyai makna sosiologis, yaitu kesatuan manusia (oneness of human beings). Dalam bahasa Farid Esack, sebagaimana alih basakan oleh Agus Nuryatno (2002) tauhid adalah refleksi dari undivided God for undivided humanity. Kesatuan manusia ini tidak dapat dicapai kecuali dengan menciptakan masyarakat tanpa kelas (classless society).
Pendidikan Islam dikritik antirealitas dan dianggap kurang mengakomodasi realitas keberagamaan intra dan antarumat beragama, serta justru cenderung melahirkan eksklusifisme keberagamaan. Selama pengajaran pendidikan Islam dengan realitas sosial tidak bisa diujudkan secara bersamaan, maka metode pembelajaran Islam masih bersifat indoktrinatif. Model indoktrinatif cenderung menekan peserta didik untuk berpikir eksklusif, simplistik, dan tidak menghargai pluralitas pemikiran. Jika agama diajarkan dengan pola ini, alih-alih untuk mengembangkan religious literacy, untuk melihat agama sendiri secara kritis pun akan sulit.
Pada posisi itulah, tujuan materi pendidikan Islam harus bermuara pada menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda, berdasarkan inklusivitas pemahaman teologis. Paling tidak ada dua tahap untuk merealisasikan esensi tujuan pendidikan Islam.
Memakai istilah Paulo Freire dalam Cultural Action for Freedom (1972), yang tidak lain tahap kodifikasi (codification), yakni penelaahan beberapa aspek penting yang terjadi di realitas nyata peserta didik. Fakta-fakta obyektif itu lalu dibawa ke arena pembelajaran untuk dianalisis, dihadapkan pada teks normatif agama. Ini merupakan tahap dekodifikasi (decodification), yaitu proses deskripsi dan interpretasi.
Selanjutnya, tahap praksis, di mana merupakan tahap pengejawantahan ke realitas kongkret. Tahap praksis ini dihasilkan dari proses kodifikasi dan dekodifikasi. Diharapkan peserta didik sekeluarnya dari arena pembelajaran mempunyai praksis baru di masyarakat. Secara konkret dalam perubahan-perubahan sosial siswa melalui bentuk transformasi yang meliputi tiga jalan. Pertama, pentingnya transformasi diri. Kedua, perlu disadari sejak awal bahwa refleksi diri. Ketiga, kritik diri merupakan bagian penting dalam proses transformasi diri.
Suatu hal yang perlu dicermati, harus dipastikan bahwa dalam transformasi lingkungan sosial yang inklusif semua kelompok merasa aman dalam suasana perbedaan dan keragaman. Lebih dari itu, tentu tidak sekadar dibutuhkan kesadaran dan kepekaan menangkap perbedaan dan keragaman, tetapi juga keberanian memasuki perubahan paradigma, di mana setiap orang dapat saling menguntungkan dalam perbedaan dan keragaman.
Pengajaran Islam pun harus senantiasa dikontekskan dengan realitas yang terjadi di sekitar kita. Mengajarkan tentang ilmu kalam (teologi), misalnya, tidak harus mengulang-ulang teologi klasik Islam seperti aliran jabariyah, qodariyah, maturidiyah, dan seterusnya yang cenderung abstrak dan ahistoris (Agus Nuryatno, 2002). Lebih penting lagi adalah bagaimana menghadapkan teologi Islam dengan persoalan kekinian yang lebih urgen dan mendesak.
Membentuk perilaku akan melahirkan cita-cita luhur yang mendorongnya untuk menyadari bahwa esensi nilai Islam adalah perilaku santun, damai, dan tenggang rasa. Maka, pendidikan Islam diharapkan melahirkan dua hal sekaligus, yaitu pada satu sisi lebih memperkuat keyakinan secara absolut terhadap ajaran agamanya dan sisi lain lebih meningkatkan pengakuan, penghargaan, penghormatan, serta toleransi terhadap penganut agama yang berbeda sekaligus menumbuhkan minat saling belajar terhadap tradisi budaya yang lahir dari perkembangan kesejarahan setiap agama.
Dengan demikian, peserta didik akan belajar berinteraksi dan memahami orang lain yang berbeda baik etnik, agama, dan budaya. Dalam kerangka ini, guru yang memandu perjalanan proses belajar mengajar di kelas secara khusus memberikan informasi akurat tentang semua segmen keagamaan dalam masyarakat, mengembangkan kesadaran sosial, dan ketegasan moral, peserta didik lebih manusiawi dan simpati pada pluralitas kultural, etnik, dan agama, serta adil secara moral dan egalitarian.***
Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Psikolgi Pendidikan Islam (PPI) di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY). Dosen STAI Al-Khairat Pamekasan
sumber:harian.analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke