Opini
Rezim Media
Oleh: Khairullah
Minggu, 12 Feb 2017 07:27
Sejumlah negara berkembang seperti Thailand dan Malaysia dapat dirujuk untuk menunjukkan adanya praktik penggunaan media oleh penguasa setempat. Sedangkan, di Indonesia hal ini pernah berlaku pada era Soeharto. Dimana majalah seperti Tempo, Tabloid deTIK, dan Editor dicabut SIUPP-nya (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) oleh Departemen Penerangan dengan beragam dalih. Namun yang pasti, Pemerintah kala itu risih dengan sikap kritis yang dibawakan media di atas.
Sekarang, hal demikian memang tidak terjadi lagi. Namun, hingar-bingar hegemoni media sebagai corong politik begitu kentara terasa. Apalagi, pemilik media tersebut berkoalisi dengan penguasa.
Salah satu bukti terbaik lainnya, bahwa kita hidup ditengah hegemoni rezim media adalah media turut berperan dalam menentukan haluan arah hidup kita. Contohnya: Penggambaran wanita cantik ialah yang berkulit bening, bertubuh sintal dan dengan rambut yang tergerai. Lucunya, kita pun mengamini hal tersebut. Sehingga, klop sudah kita ibarat kerbau yang dicucuki hidungnya tanpa pernah sadar.
Atau seperti muatan gosip para selebritis yang terlalu dibesar-besarkan (exegerasi). Juga muatan kekerasan yang masuk ke layar kaca, dan tentu berdampak negatif pada tumbuh kembang serta pola pikir anak-anak kita. Bahkan, pada acara yang bersifat menghibur sekalipun seperti humor, komedi atau lawakan, unsur-unsur kekerasan kerap menjadi bahan tertawaan.
Muatan-muatan seperti ini membuktikan, bahwa media sekarang ini lebih mendahulukan kepentingan bisnisnya ketimbang kepentingan publik, yang berdampak pada penyeragaman isi siaran. Logically, media lain akan meniru program/tayangan media tetangganya yang lebih diminati pemirsa. Tentu, dengan beragam modifikasi di sana sini.
Maka daripada itu, pendidikan media menjadi tameng yang diwajibkan untuk menahan gempuran rezim media sekarang ini. Jangan sampai masyarakat menganggap hal-hal tersebut di atas sebagai suatu hal yang normal dan sah-sah saja. Jangan sampai masyarakat terkungkung dalam doxa (suatu kondisi dimana masyarakat tidak sadar telah ditindas segi-segi kehidupannya). Jangan sampai kebebasan berbicara, menyampaikan pendapat, serta kebebasan memperoleh informasi menjadi legitimasi bagi mereka untuk melanggengkan berkuasanya rezim media.
Penguatan Lembaga KPI
Selain itu, amat sangat disayangkan, jika KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) hanya menjadi co-regulation atau pendamping setia pemerintah, dalam hal mengatur jalannya industri penyiaran. Padahal, sudah seyogyanya KPI kembali bersifat independen dan progresif dalam menentukan, mana tayangan yang layak dan tak layak untuk dikonsumsi pemirsa tanah air.
Sebab, rezim yang kita hadapi ini tidaklah memaksakan kehendaknya melalui kekuatan impresif dengan memanfaatkan aparatur negara. Melainkan, dengan cara yang seolah demokratis lewat pembentukan public opinion (opini publik).
Mendamba TV yang Netral
Relasi antara televisi dan masyarakat lokal bukan lagi sekadar hubungan media massa dan publik. Tetapi sudah menjadi hubungan antara produsen dan konsumen, atau sebagai corong politik kepada para pendukungnya.
Tampaknya, pemilihan NET sebagai stasiun yang menyiarkan Debat Pilgub DKI session 2, karena melihat televisi ini sebagai salah satu dari sekian banyak televisi yang netral dalam porsi pemberitaan setiap paslon. Perlu didukung!
Sebab media sebagai sebuah lembaga memiliki kewajiban untuk menyajikan program yang well information kepada publik. Artinya, masyarakat harus memiliki informasi yang memadai dalam menentukan pilihannya nanti. Jadi, media massa bertanggung jawab memberikan informasi tentang para Paslon (pasangan calon) dari sisi yang paling objektif.
No-Gosip
Selain itu, pemberitaan seputar infotainment berbau sensasional dan merujuk kepada perilaku hidup yang tidak baik, seperti: gaya hidup yang hedonis, dramatisasi kehidupan, dan pesan-pesan yang tidak baik lainnya. Sudah sepatutnya tidak lagi mendapatkan tempat di hati pemirsa, yang haus akan hiburan. Maka pemilihan terhadap tayangan hiburan yang no-gosip dapat menjadi alternatif.
Semoga hal semacam ini dapat meredam media sebagai sarana penyebar informasi menjadi sarang jual-beli, yang tak lagi memerhatikan kualitas sajiannya.
Masyarakat kita juga harus dilatih responsif, agar hiburannya tak dianggap dangkal dan murah oleh para produsen media.
Walhasil, masyarakat selain daripada memiliki hak untuk memperoleh informasi dan hiburan. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mengonsumsinya secara kritis, bukan menelannya secara mentah-mentah. ***
* Penulis adalah Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi USU
sumber:analisadaily.com
Riau Tembus 5 Besar Nasional ADLG Awards 2026, Bukti Transformasi Digital Pemerintahan Makin Melesat
JAKARTA-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau berhasil menembus lima besar nasional dalam ajang Executive Leadership Panel ADLG Awards 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (6/8/2026). Prestasi tersebut di
Ulama Hadis Maroko Ziarah ke Siak, Telusuri Jejak Sejarah Islam di Riau
SIAK-Ikatan keilmuan dan sejarah antara dunia Islam di Afrika Utara dengan khazanah Melayu Nusantara kembali terjalin erat. Ulama hadis asal Tangier, Maroko, Syaikh Dr. Abdul Mun'im bin Abdul Azi
Bedah Buku Karya Alit, Sejarah Suku Anak Rawa dan Perjuangan Identitas Adat
PEKANBARU - Penulis sekaligus sarjana pertama dari Suku Asli Anak Rawa, Alit membedah karya tulisnya yang berjudul Menjaga Jejak Budaya: Mengenal Kehidupan Suku Asli Anak Rawa Kamis (6/8/2026). Buku i
Eks Jampidsus Ajukan Praperadilan, Kejagung: 'Itu Hak Tersangka'
JAKARTA - Kejaksaan Agung memastikan kesiapannya menghadapi dua gugatan praperadilan yang diajukan oleh mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah di Pengadilan Negeri Jakarta Sel
Sidang Eks Ketua Ombudsman, Saksi Ungkap Aliran Dana Rp 1 Miliar
JAKARTA - Sidang kasus dugaan suap yang menyeret mantan Ketua Ombudsman, Hery Susanto kembali mengungkap fakta baru. Direktur PT Dinamika Sejahtera Mandiri (PT DSM), Tjia Peng Tjoan membeberkan adanya