Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Rezim Media

Oleh: Khairullah
Minggu, 12 Feb 2017 07:27
ec.europa.eu
Lustrasi Rezim Media
REZIM media merupakan sebut­an atas semakin berdaulat­nya media, ter­utama televisi dalam menyiarkan in­formasi se­putar polek­sos­budhan­kam. Hal ini muncul karena alam ke­bebasan yang tanpa batas. Sehingga me­nyebabkan tranformasi media men­jadi sebuah industri guna menge­ruk keuntungan, yang berimbas pada pe­ngabaian akan kepentingan publik un­tuk memperoleh informasi yang ber­­mutu. Rezim media tak melulu di­pim­pin oleh politisi sebagai corong­nya, juga termasuk peng­usaha yang ingin memperluas eksistensi bisnis­nya di bidang media.

Sejumlah negara berkembang seperti Thailand dan Malaysia dapat dirujuk untuk menunjukkan adanya prak­tik penggunaan media oleh pe­nguasa setempat. Sedangkan, di In­donesia hal ini pernah berlaku pada era Soeharto. Dimana majalah seperti Tem­­po, Tabloid deTIK, dan Editor di­cabut SIUPP-nya (Surat Izin Usaha Pe­­nerbitan Pers) oleh Departemen Pe­nerangan dengan beragam dalih. Na­mun yang pasti, Pemerintah kala itu risih dengan sikap kritis yang di­bawakan media di atas.

Sekarang, hal demikian memang tidak terjadi lagi. Namun, hingar-bi­ngar hegemoni media sebagai corong po­litik begitu kentara terasa. Apalagi, pemilik media tersebut berkoalisi de­ngan penguasa.

Salah satu bukti terbaik lainnya, bahwa kita hidup ditengah hegemoni rezim media adalah media turut berpe­ran dalam menentukan haluan arah hidup kita. Contohnya: Peng­gam­bar­an wanita cantik ialah yang ber­kulit bening, bertubuh sintal dan dengan rambut yang tergerai. Lucu­nya, kita pun meng­amini hal tersebut. Se­hingga, klop sudah kita ibarat ker­bau yang dicucuki hidungnya tanpa pernah sadar.

Atau seperti muatan gosip para se­lebritis yang terlalu dibesar-besar­kan (exe­gerasi). Juga muatan kekeras­an yang masuk ke layar kaca, dan tentu ber­dampak negatif pada tumbuh kem­bang serta pola pikir anak-anak kita. Bah­kan, pada acara yang bersifat meng­hibur sekalipun seperti humor, ko­medi atau lawakan, unsur-unsur ke­ke­rasan kerap menjadi bahan tertawaan.

Muatan-muatan seperti ini mem­buk­ti­kan, bahwa media sekarang ini lebih mendahulukan kepentingan bis­nisnya ketimbang kepentingan pu­blik, yang berdampak pada pe­nye­ra­ga­man isi siaran. Logically, media lain akan meniru program/tayangan media te­tangganya yang lebih diminati pe­mirsa. Tentu, dengan beragam mo­di­fikasi di sana sini.

Maka daripada itu, pendidikan media menjadi tameng yang diwajib­kan untuk menahan gempuran rezim media sekarang ini. Jangan sampai ma­syarakat menganggap hal-hal ter­sebut di atas sebagai suatu hal yang nor­mal dan sah-sah saja. Jangan sam­pai masyarakat terkungkung dalam doxa (suatu kondisi dimana ma­sya­rakat tidak sadar telah ditindas segi-segi kehidupannya). Jangan sam­pai kebebasan berbicara, me­nyam­pai­kan pendapat, serta kebebasan mem­per­oleh informasi menjadi legitimasi bagi mereka untuk melanggengkan be­rkuasanya rezim media.

Penguatan Lembaga KPI

Selain itu, amat sangat disayang­kan, jika KPI (Komisi Pe­nyiaran In­do­nesia) hanya menjadi co-regula­tion atau pen­damping setia pemerin­tah, dalam hal mengatur jalannya in­dus­tri penyiaran. Padahal, sudah se­yog­yanya KPI kembali bersifat inde­pen­den dan progresif dalam menentu­kan, mana tayangan yang layak dan tak layak untuk dikonsumsi pemirsa ta­nah air.

Sebab, rezim yang kita hadapi ini ti­daklah memaksakan kehendaknya me­lalui kekuatan impresif dengan me­manfaatkan aparatur negara. Melain­kan, dengan cara yang seolah de­mo­kratis lewat pembentukan pu­blic opinion (opini publik).

Mendamba TV yang Netral

Relasi antara televisi dan masya­ra­kat lokal bukan lagi seka­dar hubu­ngan media massa dan publik. Tetapi su­dah menjadi hubungan antara pro­dusen dan konsumen, atau sebagai co­rong politik kepada para pendukung­nya.

Tampaknya, pemilihan NET seba­gai stasiun yang me­nyiarkan Debat Pil­gub DKI session 2, karena melihat te­levisi ini sebagai salah satu dari se­kian banyak televisi yang netral da­lam porsi pemberitaan setiap paslon. Perlu didukung!

Sebab media sebagai sebuah lem­baga memiliki kewajiban untuk menyajikan program yang well infor­ma­ti­on kepada publik. Artinya, ma­syarakat harus memiliki informasi yang memadai dalam menentukan pi­lihannya nanti. Jadi, media massa ber­tanggung jawab memberikan infor­masi tentang para Paslon (pasangan calon) dari sisi yang paling objektif.

No-Gosip

Selain itu, pemberitaan seputar infotainment berbau sensa­sional dan merujuk kepada perilaku hidup yang tidak baik, seperti: gaya hidup yang hedonis, dramatisasi kehidupan, dan pesan-pesan yang tidak baik lainnya. Sudah sepatutnya tidak lagi menda­pat­kan tempat di hati pemirsa, yang haus akan hiburan. Maka pemilihan terhadap tayangan hiburan yang no-gosip dapat menjadi alternatif.

Semoga hal semacam ini dapat me­redam media sebagai sarana pe­nyebar informasi menjadi sarang jual-beli, yang tak lagi memerhatikan kua­litas sajiannya.

Masyarakat kita juga harus dilatih res­ponsif, agar hiburan­nya tak diang­gap dangkal dan murah oleh para produsen media.

Walhasil, masyarakat selain dari­pada memiliki hak untuk memperoleh in­formasi dan hiburan. Mereka juga me­miliki tanggung jawab untuk me­ngonsumsinya secara kritis, bukan menelannya secara mentah-mentah. ***

* Penulis adalah Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi USU

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Senin, 25 Mei 2026 16:44

    Jokowi Siap Keliling Indonesia Usai Kesehatan Pulih: Motivasi dan Ketemu PSI di Daerah

    Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) buka-bukaan soal rencana keliling Indonesia seusai lesehatannya pulih. Prabowo juga membenarkan rencana pernah diungkap Relawan Projo itu.Saat ditemui awak media di

  • Senin, 25 Mei 2026 16:38

    Razia di Karaoke Valentine Deli Serdang Berujung Penemuan Pil Ekstasi

    Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Deli Serdang menemukan narkotika jenis ekstasi di tempat hiburan Karaoke Valentine, Kecamatan Beringin."Diduga peredaran obat terlarang di Karaoke Valen

  • Senin, 25 Mei 2026 16:23

    Ledakan dari Pabrik Kimia di Cilegon, Tercium Bau Menyengat

    Jakarta-Ledakan terdengar dari pabrik kimia PT Merak Chemical Indonesia (PT MCCI) atau yang sebelumnya dikenal sebagai PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI). Ledakan terjadi pada Senin (25/5/2026) s

  • Senin, 25 Mei 2026 16:19

    Pemprov Tetapkan Direktur Keuangan dan Direktur Operasional PT Riau Petroleum

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah menetapkan Calon Direktur Operasional dan Calon Direktur Keuangan PT Riau Petroleum.Penetapan dua direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Riau itu m

  • Senin, 25 Mei 2026 16:17

    Taklukkan Rute Pekanbaru-Payakumbuh, Jurnalis dan Vlogger Rekam Sensasi Berkendara Bersama Honda AT High

    Riauterkini-PAYAKUMBUH-Main Dealer sepeda motor Honda wilayah Riau, PT Capella Dinamik Nusantara (CDN) sukses menggelar kegiatan touring bertajuk Media & Vlogger Premium Explore : Capturing the Comfor

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.