Selfie, Tongsis dan Narsisme
Jumat, 09 Okt 2015 09:19
Gaya hidup di era globalisasi mondial seperti saat ini sudah menjadi kebutuhan mutlak. Salah satu tontonan dari gaya hidup yang merambah massif di dunia sosial yakni penggunaan gawai. Selain sebagai alat komunikasi, piranti canggih ini menjadi simbol eksistensi, status sosial. Salah satu aplikasi gawai yang lagi naik daun ialah selfie. Selfie', atau self portrait yaitu istilah yang dipakai untuk menyebutkan foto diri yang diambil sendiri dan tanpa bantuan orang lain.
Saking populernya selfie, kata ini telah mendapat penobatan dari Oxford Dictionaries (Kamus Oxford) sebagai Word of The Year. Foto selfie dengan tongsis (tongkat narsis)-nya yang keren digandrungi karena menawarkan cara mudah memotret dan untuk unjuk kebolehan diri tanpa harus ribet-ribet membutuhkan "si-tukang potret". Tongsis membuat jeprat-jepret foto narsis tak hanya lebih mudah namun hasilnya boleh dikata lebih sempurna.
Pengguna selfie dan tongsis berasal dari berbagai latar belakang. Mulai rakyat biasa, pelajar sampai pejabat, kaum elite-terpelajar. Kita dulu mungkin pernah menyaksikan beredar foto heboh Ibu Ani Yudhoyono yang memakai Tongsis. Atau wakil ketua DPR, Fadli Zon yang boleh dibilang selfieacholic sebagaimana selfie-nya yang kerap muncul di instagramnya. Selain selfie dengan Donald Trump, yang telah bikin heboh publik tanah air itu, ia juga kerap selfie ria dengan pejabat kenamaan. Sebut saja dengan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pada saat Konferensi Asia Afrika, hingga Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Selfie dan tongsis menjadi momentum yang selalu tak bisa dilewatkan untuk menandai sebuah perjumpaan berkesan, atau kekaguman terhadap obyek, situasi, keadaan, figur tertentu terutama oleh seorang traveller atau penulis blog.
Ada yang sekadar tak ingin mau melewatkan momentum, namun ada juga yang ingin membagi momentum tersebut sebagai bagian dari pencitraan yang dibalut dengan testimoni kata-kata promosi, atau untuk eksistensi, apalagi ketika hasil selfie dari smartphone-nya berhasil memalingkan ribuan mata untuk menandai likes di media sosialnya. Itulah klimaks dunia maya yang memberikan kepuasan tersendiri bagi para pecinta selfie. Taking self-portraits has never been easier!!!!", begitulah kata orang.
Bumerang
Namun sebagaimana produk kebudayaan yang selalu memiliki sisi negatif dan positif, foto selfie pun bisa menjadi bumerang. Sejarah berkisah, selfie dilakukan pertama kali oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839. Selfie yang kedua dilakukan oleh Andy Warhol ketika kamera polaroid sedang naik daun di tahun 70an. Seiring berjalannya waktu ketika selfie bukan lagi fenomena nyentrik, aktifitas selfie seakan menyerupai sebuah kultur yang tak sepi dari kontroversi.
Mulai dari yang memandang hal tersebut sebagai bagian dari poroduk budaya konsumerisme yang membuat banyak orang tak lagi peduli pada keadaan di sekitarnya, hingga penonjolan narsisme yang di titik tertentu kerap membuat pengguna tongsis memuja tubuhnya melebihi batas. Meskipun alasannya, hanya sekadar membagi cerita lewat hasil jepretan pada teman, namun secara bersamaan, muncul sebuah sikap pamrih sosial yang selalu membutuhkan penilaian orang lain lewat centang likes dan pemberian coment sebagai pertanda gaul, kepopularitasannya atau diterimanya ia dalam dunia maya/sosial. Ada sebuah ruang glamour yang coba dipaksakan masuk ke dalam sekat-sekat ruang privat para maniak selfie yang dipicu oleh kebutuhan konsumerisme tadi.
Dan inilah gejala yang sedang merasuki realitas sosial hari-hari ini. Menurut August Comte, abad ini memang telah menyatukan masyarakat dunia pada kebutuhan yang sama, yakni konsumerisme, kebutuhan untuk tetap dihargai, diterima lewat simbol kepemilikan dan gaya hidup narsis yang memicu decak kagum, tak peduli dia orang jelata sekalipun. Namun di tengah itu, kabar buruk terkait selfie ini perlu diketahui oleh pecinta selfie terutama para remaja. Selain mengasyikkan, menambah dan menyemarakkan koleksi album foto di gawai, hobi pada selfie ternyata juga bisa berujung maut.
Data Mashable seperti yang dilaporkan portal Mail Online menyebutkan, sebanyak 12 orang diketahui meninggal gara-gara selfie. Mereka tewas mengenaskan karena terjatuh atau ditabrak kendaraan saat sedang beraksi selfie. Kematian terbaru akibat selfie melibatkan seorang pria Jepang berusia 66 tahun yang tewas setelah terjatuh, sebelum serangan jantung saat mengambil gambar selfie di Royal Gate. Baru-baru lalu, dua remaja Rusia bahkan tewas ketika mencoba mengambil gambar selfie bersama sebutir granat dengan pin bom yang sudah dicabut.
Pada bulan Mei 2015, seorang gadis, Anna Ursu, remaja asal Tumania terbakar setelah disengat kabel listrik dengan tegangan 27.000 volt saat mencoba untuk mengambil foto selfie di atap gerbong kereta api listrik. Tak kalah mengenaskan, seorang pria, Oscar Otero Aguilar (21) dari Mexico City tewas tertembak pistol berkaliber 0.45 milik tanpa sengaja saat selfie dengan pistol milik temannya. Yang lain, pemuda berumur 23 tahun, Yanuru Aksanu Laila tewas setelah berfoto di Air terjun, Cuban Sewu. Mahasiswa Universitas Negeri Malang jatuh dan terpeleset usai mengabadikan foto selfienya. Tatiana Kulikova (25) selfie dengan mayat, bahkan mempostingnya di social media. Ia sengaja melakukan selfie bersama pasien yang sudah meninggal sambil tersenyum dan memberikan caption yang kasar. Rumah sakit yang mempekerjakannya pun memecat wanita itu karena dinilai tak etis dan merendahkan profesi paramedis dan mayat.
Mengidap DBD
Dr. David Veale, psikiater Amerika yang meneliti tentang dinamika sosial dari trend-digital menyimpulkan akibat selfie berkorelasi dengan ketidakpuasan para remaja dengan paras wajahnya yang kemudian membuatnya dihantui penyakit stres bahkan kejadian bunuh diri seperti yang dialami model bernama Danny Bowman. Ada kecenderungan maniak selfie rentan mengidap Body Dysmocphic Disorder BDD yang merupakan sebuah jenis penyakit mental dimana orang tersebut selalu terobsesi untuk mengejar kesempurnaan penampilan dirinya dan sebaliknya akan sangat khawatir terhadap kekurangan pada penampilan dirinya sendiri.BDD ini akan sangat berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut karena yang bersangkutan akan mengalami penurunan percaya diri dan kecemasan yang berlebihan.
Hasil penelitian lain malah menyebutkan bahwa selfie ada kaitannya dengan kebahagiaan. Remaja yang suka selfie cenderung kurang dekat dengan keluarganya, sehingga ia berusaha mengompensasi kebutuhan psikologis (akan perhatian) dengan ber-selfie. Sebaliknya, mereka yang bahagia biasanya tidak perlu "memamerkan" sesuatu kepada orang lain, termasuk harus tergila-gila pada pujian ataupun sanjungan dari orang lain.
Justeru sebaliknya, mereka yang bahagia adalah yang mampu memberikan perhatian bahkan kebahagiaan kepada orang lain. Ini hampir senada dengan penelitian Dr. David Houghton - sebagaimana dilansir socialtimes.com - dari Birmingham Business School dan beberapa penelitian di Inggris lainnya yang menunjukan bahwa orang-orang yang sering mengambil selfie lalu meng-uploadnya ke facebook dan sosial media lainnya, sejatinya memiliki hubungan pertemanan dan keluarga yang renggang.
Hubungan mereka tidak cukup erat baik dengan teman, keluarga, maupun teman-teman kerja.
Nah, pada akhirnya, bagi para pecinta selfie, tak ada salahnya untuk berpikir semasak-masaknya. Paparan di atas mungkin cuma sebatas informasi pengaya. Namun demi pencapaian sebuah keseimbangan hidup yang bermutu dan berguna bagi sesama, rasanya tak berlebihan jika informasi tersebut menjadi pertimbangan sebelum kita telanjur melangkah jauh menjadi seorang selfie-acholic yang ujung-ujungnya hanya merugikan diri sendiri.
Kata kuncinya di sini, bijak-bijaklah menggunakan teknologi agar kita tak menjadi korban latah dari konsumerisme, sebagai salah satu sumber kecemasan global hari-hari ini.
(analisadaily.com)
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal