Senin, 15 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • Sistem Keamanan Tempat Ibadah Harus Ditingkatkan

Opini

Sistem Keamanan Tempat Ibadah Harus Ditingkatkan

Oleh: Ramen Antonov Purba
Minggu, 20 Nov 2016 09:52
Internet
Ilustrasi
Sudah saatnya rumah ibadah mendapatkan fasilitas penga­manan. Seperti di bandara yang seluruh sudutnya terpantau de­ngan CCTV. Ketika memasuki area bandara semua wajib melewati pemeriksaan yang berlapis. Tempat ibadah sepertinya sudah saatnya diperlengkapi dengan peralatan demikian.

Tempat ibadah juga berhu­bungan dengan jumlah manusia yang tak sedikit sehingga layak untuk mendapatkan fasilitas penga­manan. Kejadian-kejadian teror tak boleh lagi mengganggu kenyamanan untuk beri­badah. Beribadah merupakan situasi dimana manusia berkomunikasi dengan penciptanya.

Tentu harus dengan sukacita dan tak boleh dibarengi dengan kewaswasan. Jangan hanya ketika ada pejabat tinggi yang beribadah keamanan rumah ibadah diper­ketat. Jangan sampai kedepan masih ada lagi informasi rumah ibadah diserang bom atau gangguan berbahaya lainnya.

Pemerintah melalui aparat keamanan harus menjadikan aksi teror di Samarinda sebagai momentum untuk memikirkan sistem pengamanan di tempat ibadah. Negara harus menyadari betapa pentingnya memberikan rasa nyaman dan aman bagi rakyatnya untuk beribadah.

Negara harus mempersiapkan anggaran untuk fasilitas keamanan rumah ibadah. Selain itu perlu juga dipersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melakukan pengawasan keamanan tempat ibadah. Karenanya pemerintah diharapkan bergerak cepat karena kita tak dapat mengetahui kapan dan dimana aksi teror akan terjadi. Alangkah baiknya cepat bersiap dan senantiasa waspada jika sewaktu-waktu ada oknum yang tak bertanggung jawab ingin menjalankan aksi teror bejatnya. Kita meyakini pemerintah melalui aparat keamanan di negara ini mampu untuk melakukannya mengingat aparat keamanan kita sudah berpengalaman dalam penanganan aksi teror.

Untuk urusan pengamanan rumah ibadah, kita dapat belajar dari beberapa negara didunia yang sudah mempergunakan perlengka­pan yang canggih dalam penga­manan tempat ibadahnya, seperti :

1. Tempat ibadah di Amerika Serikat

Ratusan tempat ibadah di Amerika serikat sudah memper­gunakan perangkat lunak dalam melakukan pengamanan. Mereka mempergunakan Churchix. Perang­kat lunak yang dapat melakukan pengenalan wajah. Perangkat lunak tersebut sudah diisi data-data, baik data anggota dan data para penjahat. Ketika ada penjahat yang masuk ke rumah ibadah tersebut, secara otomatis sistem akan memberikan peringatan.

2. Tempat ibadah di Arab Saudi

Arab saudi merupakan tujuan umat muslim untuk melakukan ibadah. Arab saudi menerapkan keamanan berlapis untuk mence­gah gangguan. Pihak berwenang Saudi menggunakan teknologi terbaru pada titik-titik masuk ke rumah ibadah dan tempat-tempat suci, termasuk perangkat canggih digital, sistem identifikasi sidik jari dan alat deteksi, untuk memverifikasi identitas semua orang yang berniat untuk melakukan ibadah.

Tindak tegas pelakunya

Harus tegas dikatakan tidak ada tolerensi terhadap pelaku teror. Negara selama ini seolah terlalu lembek dalam penanganan pelaku teror sehingga seolah tak menimbulkan efek jera. Kejadian di Samarinda dilakukan oleh napi kasus teror bom Puspitek di Serpong dan terkait bom buku di Jakarta 2011. Jelas jika pelaku merupakan pemain lama yang kembali menjalankan aksinya.

Kedepan pemerintah melalui aparat penegak hukum tak boleh memberi kelonggaran bagi penebar aksi teror. Jika perlu harus disiapkan aturan terkait dengan penanganan para pelaku aksi teror ini. Semisal pemasangan chip elektronik seperti perlakuan terhadap para penjahat seksual anak. Sehingga sepak terjang penebar aksi teror dapat senantiasa diawasi.

Hukuman maksimal juga harus dijatuhkan kepada para penebar teror di tempat ibadah. Kita belum tahu bagaimana hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku teror di medan, tetapi harapannya harus ada tindakan tegas guna menim­bulkan efek jera. Jika memang ingin dilakukan pembinaan tentu harus diperjelas juga aturan-aturan terkait dengan pembinaan tersebut.

Harus pula diperjelas bagai­mana mekanisme pembinaan dan pelaku teror yang bagai­mana dapat menerima pembinaan dan mana yang langsung menghadapi huku­man. Kedepan kita berharap pemerintah serius untuk menyikapi aturan dan kadar hukuman ini.

Memperkuat nasionalisme

Jika dicermati beberapa aksi teror dilandasi oleh pemahaman yang salah tentang ilmu agama. Agama jelas melarang saling menyakiti sesama pemeluk agama, maupun pemeluk agama yang berbeda. Semakin mem­per­jelas jika radikalisme maupun terorisme timbul karena lemahnya rasa, pemahaman, dan semangat bela negara. Lemahnya nasiona­lisme, juga menjadi pemicu tinda­kan teror. Rendahnya pemahaman 4 pilar kebangsaan yang meliputi, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika dinilai turut menjadi cikal bakal terjadinya aksi teror.

Kembali menegaskan peran negara untuk memberikan pema­ha­man kepada rakyatnya tentang makna agama yang benar dan bagai­mana nasionalisme yang benar. Pancasila sebagai dasar negara harus benar-benar dijunjung tinggi. Persatuan yang merupakan sebuah keharusan senantiasa tetap ditanamkan dan disosialisasikan di semua elemen. Sinergitas semua elemen sangat diperlukan untuk mencegah aksi teror. Apapun bentuk ancaman terhadap ideologi kebangsaan yang kita hadapi, tidak cukup hanya pemerintah yang bertindak. Sebaliknya, itu adala urusan kita semua. Pemerintah, aparat keamanan, ormas, dan seluruh komponen masyarakat harus bersatu.

Dengan demikian kedepan tak akan ada lagi aksi teror yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan dalam beribadah. Kita juga akan semakin kokoh dalam persatuan yang tak terpisahkan satu dengan yang lain. Demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat kedepan. Demi Indonesia yang lebih aman, tentram, dan stabil. ***

Penulis Staf UPT Lembaga Penelitian dan Pengab­dian Kepada Masyarakat Politeknik Unggul LP3M Medan.

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Senin, 15 Jun 2026 10:32

    3 Anak Dipaksa Mengemis oleh Orang Tua di Pelalawan, Tak Capai Target Rp250 Perhari Dipukuli

    PEKANBARU - Nasib pilu dialami tiga anak di Kabupaten Pelalawan. Alih-alih menikmati masa belajar dan bermain, mereka justru diduga dipaksa mengemis, mengamen hingga menjadi manusia silver di persimpa

  • Senin, 15 Jun 2026 10:31

    Pria 65 Tahun di Dumai Diduga Cabuli Sejumlah Anak, Modus Iming-imingi Uang dan Rambutan

    DUMAI- Seorang pria lanjut usia berinisial MD (65) diamankan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Dumai atas dugaan tindak pidana pencabulan terhadap sejumlah anak di bawah umu

  • Senin, 15 Jun 2026 10:20

    Polsek Tanah Putih Gelar KRYD Malam Hari, Ciptakan Situasi Kamtibmas Aman dan Kondusif

    TANAHPUTIH-Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), personel Polsek Tanah Putih melaksanakan Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 2

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:34

    Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP

    INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:32

    Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat

    Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.