Tauhid Sosial Idul Kurban
Rabu, 23 Sep 2015 10:24
Secara historis, Idul Adha telah tereÂkam dalam jejak keluarga Nabi Ibrahim yang telah menjalankan perintah Allah dengan sabar dan tawakkal. Di mana, Nabi Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Adapun ujian terberat bagi Nabi Ibrahim adalah perintah mengorbankan putranya Isma'il, putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu.
Berkat kerjasama antara Ibu (Siti Hajar), Anak (Ismail) dan Bapak (Ibrahim) dalam suasana dialogis yang menyejukkan, maka perintah menyemÂbelih sang anak Ismail sukses dijalani. Hal ini dilakukan tatkala Ismail sudah sampai pada umur sangÂgup Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirÂkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjaÂkanlah apa yang diperinÂtahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash Shoffat, 37: 102).
Dari perjalanan kisah keluarga Ibrahim dapat kita temukan bahwa Idul Adha sebagai bentuk refleksi historik atas perjalanan kebajikan yang pernah ditorehkan manusia masa lampau, yakini Nabi Ibrahim dalam rangka untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang telah diukirnya. Dengan kata lain, Idul Adha (Kurban) bermakna keteladanan Ibrahim (an-nubuwah) yang mampu mentransformasi pesan keagaÂmaan ke dalam aktualisasi perjuangan hidup kemanusiaan (al-insaniyah).
Seorang Ali Syariati (1997), mengataÂkan bahwa ritual kurban bukan hanya bermakna bagaimana manusia mendeÂkatkan diri pada Tuhannya (habluminalla), tetapi juga mendekatkan diri dengan sesamanya (habluminannas). Meminjam istilah Amin Rais (2002), tidak hanya tauhid individu akan tetapi tauhid sosial umat. Artinya, kurban mempunyai nilai ketauhidan yang sangat kental.
Konotasi kurban adalah penyemÂbelihan hewan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. "Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah" (QS. Al-Kautsar: 108:1-2). Ibadah kurban sebagai sarana pembuktian keimanan kita kepada Allah. Keimanan meliputi keikhlasan, yang berarti ibadah kurban yang kita lakukan harus murni dilakukan hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya.
Penyembelihan hewan Kurban meruÂpakan aktifitas ibadah sebagai bentuk taqarrub (baca: mendekatkan diri untuk mencari ridha Allah). Kesediaan seseÂorang untuk berkurban merupakan bukti dari keimanan sebagai hamba kepada Tuhannya. Karena seseorang yang beriman harus mau dan bersedia melakuÂkan pengorbanan apa saja sebagai wujud kecintaannya kepada Allah dan menjalin hubungan baik dengan sesama makhluk-Nya (baca: manusia).
Hewan yang disembelih (dikorÂbankan) dalam proses ritual ibadah kurban tak lain merupakan simbol keburukan yang melekat pada diri manusia. Ritual ini, menandakan peÂnyemÂbelihan atas sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak taat aturan, menentang norma atau etika (amoral), membunuh, memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap kaum minorotas, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat dan keumatan.
Dalam kenyataan sosial, kita sering menjumpai umat Islam rajin menjalankan ibadah, tapi kejahatan dan kemaksiatan juga dilakukan. Sehingga, sering terjadi paradoks yang begitu dalam antara ajaran ideal-normatif Islam dengan kenyataan kehidupan sosiohistoris kaum muslim. Indonesia diakui sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan ketaatan melakukan ritual yang tinggi.
Hal yang paling utama dari makna dan cara pandang kita dalam memahami nilai yang terkandung dalam ibadah Kurban adalah bahwa kita harus berusaha mengalahkan sifat egoistis mengejar kepentingan kita sendiri. Sifat egosenÂtrisme, egoisme yang berfikir seolah-olah rizki dan segala keberhasilan serta kesuksesan semata-mata merupakan hasil dari keringatnya sendiri dan menganggap bahwa hal itu terlepas dari peran Tuhan Sang Maha Pemberi.
Dengan demikian, kurban menjadi simÂbol keberpihakan yang diharapkan akan menjadi wujud tauhid sosial yang bersifat permanent. Karena sesungguhÂnya ketika aktifitas ibadah hanya pada kisaran ritual yang bersifat simbol-simÂbol, tidak akan bisa menghantarkan kita pada hal yang substantif. Maka tauhid sosial memiliki dimensi aktualisasi yang bermakna pembebasan atau pemerdekaan pada aras (baca: tempat) kehidupan kolektif dan sistem sosial.
Perintah berkurban bagi yang mampu menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu'afa lainnya. Maka, penyembelihan binatang kurban mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.
Melalui momentum Idul kurban 1436 H, umat Islam harus mampu melasanakan nilai-nilai ketuhanan (ilahiyyah), kemanusiaan (insaniyyah), keadilan (al-adl), dan soliÂdaritas sosial (at-ta'wun al-mujtama') sebagaimana diajarkan Ibrahim; dan memÂbumikan ajaran Ismail sebagai simbol aktualisasi nilai-nilai ketuhanan (ilahiyyah) di tengah kehidupan umat manusia yang kian picik dan terus menghamba pada materi. Dengan begitu, ibadah kurban dapat memberi makna, warna dan tren baru bagi model kehidupan individu dan sosial, masyarakat dan Negara secara terbuka.
(harian analisa)
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal