Sabtu, 13 Jun 2026
  • Home
  • Pendidikan
  • Pentingnya Fasilitasi Siswa Sekolah Dasar Belajar Keberagaman Agama Secara Kontekstual

Pendidikan

Pentingnya Fasilitasi Siswa Sekolah Dasar Belajar Keberagaman Agama Secara Kontekstual

Senin, 13 Mei 2019 11:41
okezone.com

BANDUNG - Tim dosen pada program studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan menginisiasi program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan menanamkan sikap toleransi antar-umat beragama di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Prorgam tersebut bertemakan 'Pendampingan Pendidikan Nilai-Nilai Keberagaman Kepada Guru, Orang Tua dan Siswa Sekolah Dasar di Ciumbuleuit Bandung: Upaya Pencapaian SDGs #16'.

Dosen tetap pada Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNPAR, yang juga anggota tim pengabdian masyarakat, Anggia Valerisha mengatakan, program pengabdian masyarakat merupakan bagian dari tridharma perguruan tinggi yang tidak pernah luput dilakukan oleh universitas. "Penting bagi akademisi di perguruan tinggi untuk merancang program pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk menjawab tantangan lokal maupun global, ujarnya dalam rilis yang diterima Okezone.

Universitas Parahyangan menggandeng Komunitas Bhinneka, mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam organisasi Kakak Asuh, serta guru, orang tua dan siswa-siswi SDN 108 Ciumbuleuit dan SDN 188 Bandung Baru. Kegiatan tersebut didanai oleh LPPM UNPAR dan Alumni FISIP Angkatan 1992 yang dalam pelaksanaannya melibatkan 150 orang

Selain pembekalan terhadap guru, orang tua, mahasiswa dan juga siswa-siswi terkait nilai-nilai keberagaman, kegiatan utama dari program itu adalah mendampingi siswa-siswi sekolah dasar kelas 4 dan 5 untuk berkunjung ke rumah ibadah dari berbagai agama dan kepercayaan yang diakui di Indonesia. Di antaranya kunjungan ke Pura Wira Chandra Dharma Secapa AD (Hindu), Masjid Sabiilul Iman Secapa AD (Islam), Gereja Katedral (Katolik), Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut (Protestan), Vihara Dharma Ramsi (Buddha Tri Dharma), Klenteng Kong Miao (Kong Hu Chu).

Menurut Anggia, di setiap kali kunjungan ke rumah ibadah, siswa-siswi memperoleh informasi yang disampaikan langsung oleh pemuka agama, seperti mengenai pengetahuan umum tentang agama, sejarah dan arsitektur tempat ibadah, pengucapan salam, perlengkapan ibadah, alat musik, hingga simbol-simbol yang melekat pada agama atau kepercayaan tersebut. Merespon pengetahuan yang didapat, siswa-siswi menunjukkan sikap aktif, kritis dan terbuka.

"Dari pengalaman kegiatan pengabdian masyarakat ini, dapat disimpulkan bahwa pertama, sikap dan karakter yang toleran dapat terbentuk jika terdapat pendidikan pengenalan nilai-nilai keberagaman. Kedua, adalah sesuatu yang mendasar untuk menyampaikan pentingnya nilai keberagaman kepada siswa-siswi sejak usia dini. Ketiga, proses pembelajaran yang menarik dan kontekstual (turun ke lapangan) dirasa lebih efektif karena siswa-siswi tidak saja beroleh pengetahuan secara kognitif namun juga secara afektif dan psikomotorik," urainya.

Mengenai alasan pihaknya mengangkat tema tersebut untuk program pengabdian masyarakat, karena ramainya kasus yang berkaitan dengan inteloransi meliputi diskriminasi, radikalisme dan kekerasan yang sejatinya bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Selain itu, dalam rangka mendukung pemerintah memenuhi target Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi tahun 2015 oleh negara-negara anggota PBB, di mana indikator pencapaian SDGs adalah terciptanya masyarakat adil, damai dan inklusif, anti-diskriminasi dan anti-kekerasan yang didasarkan oleh berbagai latar belakang termasuk agama.

"Kita perlu mengakui bahwa di antara semua aspek keberagaman yang ada di negeri ini, salah satu aspek yang seringkali sulit dibahas bersama adalah mengenai agama. Padahal, agama merupakan bukti kepercayaan seseorang yang nyata terlihat secara sosial. Orang beribadah kepada Tuhan-nya dengan berbagai cara dan berbagai simbol yang melekat tentu adalah sesuatu yang dapat kita lihat. Ketika suatu hal yang nyata tersebut tidak dipahami oleh orang lain yang berbeda agama, maka yang terjadi adalah munculnya kecurigaan, stigma, bahkan secara ekstrem melahirkan sikap-sikap intoleransi yang mengarah pada diskriminasi, radikalisme, serta kekerasan. Tak terhitung berapa banyak nyawa yang menjadi korban di seluruh dunia akibat berbagai tindakan yang lahir dari pemahaman dan sikap-sikap tersebut,"

Sementara itu, selain Anggia Valerisha, anggota tim pengabdian masyarakat lainnya dari Universitas Parahyangan yaitu Elisabeth A. S Dewi, Giandi Kartasasmita dan Putu Agung Nara Indra.



Sumber: okezone.com
Pendidikan
Berita Terkait
  • Sabtu, 13 Jun 2026 15:46

    Kasus Pencurian Ringan dan Revisi KTP Selesai Cepat Lewat Sidang Keliling di Kandis Siak

    SIAK - Sebanyak delapan perkara hukum berhasil diselesaikan dalam satu hari melalui program sidang keliling yang dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri Siak. Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Camat Kand

  • Sabtu, 13 Jun 2026 15:41

    Kuansing Kerahkan Ratusan Personel Amankan MTQ ke-44 Riau dan Pacu Jalur Rayo II

    TELUKKUANTAN â€" Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mengerahkan 481 personel gabungan untuk mengamankan dua acara besar, yakni Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XLIV Provinsi Riau 2026 dan

  • Sabtu, 13 Jun 2026 15:37

    Atasi Kelangkaan LPG 3 kg, Pemkab Morowali Gencarkan Operasi Pasar dan Siapkan Solusi Jangka Panjang

    Pemerintah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menggencarkan operasi pasar dan pasar murah untuk mengatasi kelangkaan tabung LPG 3 kilogram di wilayahnya. Langkah ini diambil menyusul laporan mengena

  • Sabtu, 13 Jun 2026 15:32

    Pelaku Tabrak Mobil Polisi, Kronologi Penangkapan Kurir Narkoba Jenis Sabu Seberat 1 Kg di Jeneponto

    Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Jeneponto menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 1 kilogram (Kg) di Jembatan Belokallong, Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto

  • Sabtu, 13 Jun 2026 15:10

    Satpol PP Sumedang Setop Lima Perusahaan Tambang Ilegal, Tegaskan Kepatuhan Izin

    Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, secara resmi menghentikan sementara operasional lima perusahaan pertambangan. Tindakan ini diambil karena perusahaan-perusahaan t

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.