Minggu, 31 Mei 2026
  • Home
  • Pendidikan
  • Siswa SMA N 3 Rambah Mogok Belajar, Kepala Sekolah Bantah Ancam Guru

Siswa SMA N 3 Rambah Mogok Belajar, Kepala Sekolah Bantah Ancam Guru

admin
Rabu, 22 Jan 2020 09:25
tribunnews.com

PASIRPANGARAIAN - Kepala Sekolah SMA N 3 Rambah Rohul Riau Kanedi menilai keributan yang menyebabkan siswa mogok pada Selasa (21/1/2020) adalah karena ketidakmengertian para guru terhadap perannya sebagai kepala sekolah.


Ia bahkan mengelak ketika disebut lalai dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.

Terkait mogok belajar dan tuntutan para siswa, Kanedi memilih untuk tidak berkomentar.



"Secara pribadi saya kecewa. Tapi, saya tak mau mengomentari itu," ujar Kanedi.

Saat disebut-sebut jika dirinya sudah mengancam para guru, Kanedi juga membantah hal tersebut.


Menurutnya, apa yang dia sampaikan terkait nasib para honorer tersebut adalah hanya mengingatkan, bukan mengancam.

"Ya, itu terserah mereka saja. Mau memaknainya sebagai ancaman. Saya kan hanya menasehati saja, bukan mengancam," paparnya.


"Saya hanya mengingatkan, kalau para guru tak menjalankan tugas seperti menjadi wali kelas, piket dan lain-lain, mereka bisa tidak diperpanjang dan karirnya akan terancam. Dimana-mana sekolah nanti tidak mau menerima mereka kalau melawan dengan kepala sekolah," jelasnya lagi.


Tak berhenti sampai disitu, Kanedi juga lagi-lagi mengelak ketika disebut-sebut lebih mementingkan urusannya mengurus SMK N 2 Ujung Batu ketimbang mengurus SMA N 3 Rambah.


Kanedi mengakui, dia mengurusi pembangunan SMK N 2 Ujung Batu karena merasa ditunjuk oleh masyarakat setempat untuk mengurusi pembentukan sekolah yang belum lagi beroperasi tersebut.



"Memang sekolahnya (SMK N 2 Ujung Batu, red) belum lagi beroperasi. Tapi, berkat kesukesan saya mengurus pembangunan SMA N 3 Rambah, masyarakat disana akhirnya memilih saya untuk dipercayakan mengurus pembangunan SMK N 2 Ujung Batu. Ini kan prestasi yang para guru juga tidak tahu," sebut Kanedi.


Kanedi bahkan dengan meyakinkan mengatakan, pilihannya terlibat dalam pembangunan SMK N 2 Ujung Batu sudah mendapat restu dari Disdik Provinsi Riau dan Kepala UPTD SMA di Rokan Hulu Hamdani.


"Apa yang saya kerjakan di Ujung Batu itu sudah saya koordinasikan dengan Kadisdik Provinsi Riau dan Kepala UPTD SMA di Rokan Hulu Pak Hamdani," tegasnya. 


Diketahui, ratusan siswa SMA Negeri 3 Rambah Rokan Hulu menggelar aksi mogok belajar pada Selasa (21/1/2020).

Siswa yang duduk di halaman sekolah sejak pagi hari tersebut menggelar mogok belajar sebagai bentuk protes kelalaian Kepala Sekolah dalam berbagai kegiatan.


Sejumlah siswa lain bahkan meneriakkan yel-yel tuntutan mereka yang mendesak agar kepala sekolah segera mengundurkan diri.


Ester Veronica Simatupang, siswi kelas XII SMA Negeri 3 Rambah mengatakan, kepala sekolah Kanedi yang menjabat hampir dua tahun belakangan dinilai alpa dan lalai terhadap kegiatan sekolah.


"Kami menilai, Pak Kanedi sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Rambah lalai dalam menjalankan tugas. Sejak beliau memimpin, tak ada perhatian yang diberikan sedikitpun terhadap sekolah kami," katanya.


Ester dan kawan-kawannya menilai, jika kepala sekolah hampir tak pernah hadir dalam berbagai kegiatan sekolah baik kegiatan siswa maupun kegiatan guru.


Dalam sebulan, Kanedi sebagai kepala sekolah disebut-sebut hampir tidak pernah hadir di sekolah.


Merujuk pada rekap absen fingerprint di sekolah tersebut, sepanjang November 2019 Kanedi tercatat tidak pernah hadir sekalipun di sekolah yang dia pimpin tersebut.


Ancaman terhadap guru


Seorang guru SMA N 3 Rambah Rustam mengatakan, siswa mogok belajar merupakan wujud dari protes atas rasa tidak adil atas kebijakan kepala sekolah.


Rustam mengatakan, Kanedi tidak adil dalam pengambilan kebijakan dan manajerial sekolah tersebut.

"Pak Kepala Sekolah kebanyakan tidak hadir dan sering absen dalam kegiatan sekolah," ungkap Rustam kepada Tribunpekanbaru.com pada Selasa (21/1/2020).


Rustam dan rekan-rekannya sudah bermusyawarah dengan Kanedi.

Namun, justeru tidak mendapatkan tanggapan yang baik.


Alhasil, para guru sepakat mengajukan surat pernyataan bersama yang menuntut agar Kanedi mau lebih rajin hadir di sekolah untuk mengurus pekerjaannya sebagai kepala sekolah.


Kanedi juga disebut-sebut mengancam sejumlah guru honorer di SMA N 3 Rambah karena ikut menandatangani pernyataan bersama tersebut.


Seorang guru honorer bernama Abdul Hamid mengaku, sempat diancam akan dikeluarkan dari sekolah.


"Bahkan, saya sempat diancam setelah dikeluarkan, Pak Kepala Sekolah akan berkoordinasi dengan semua kepala sekolah se Rohul sehingga saya tak bisa mengajar dimana pun," papar Abdul Hamid yang saat ini menjabat sebagai Guru Honorer Bidang Olahraga di SMA N 3 Rambah.


Tak berhenti sampai disitu, para guru honorer diancam tidak akan dikeluarkan SK nya jika masih protes.

"Sebagai guru honorer, tentu kami takut karena status kami sangat bergantung kepada sekolah," ungkap dia.





Sumber: tribunnews.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.