Gian Franco Zola
H Husni Tamrin, SH
PELALAWAN - Mulutmu Harimau mu, yang akan menerkam mu. Ungkapan tersebut mengandung makna agar jangan salah ucap dalam berkomunikasi, karena salah ucap bisa menimbulkan masalah dan konflik sosial ditengah masyarakat. Apa lagi perkataan tersebut di ungkapkan oleh seorang pejabat publik dihadapan orang banyak dan Bupati Pelalawan.
Hal inilah yang dirasakan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan, H Syafruddin, MM, saat dirinya mendapat kesempatan menjadi inspektur upacara pada Senin lalu (21/11/2016). Kadisdik menyampaikan sambutan dalam apel pagi di lingkungan pemerintahan kabupaten Pelalawan, yang berujung menimbulkan polemik ditengah masyarakat Pelalawan.
Kesalahan fatal dalam pidatonnya di hadapan semua pegawai di lingkungan pemerintah daerah, yang berisi "bahwa 80 persen pembangunan sekolah di Kabupaten Pelalawan dari Kabupaten Kampar". Sepenggal kalimat inilah yang menjadi pemicunya, hingga membuat puluhan massa Aliansi Masyarakat Pembela Kabupaten Pelalawan (AMPKP) pada Kamis lalu (24/11/2016), bereaksi keras dan tidak terima atas pernyataan Kadisdik.
Sehingga sekelompok masyarakat tersebut menggelar aksi demo di Kantor Bupati Pelalawan. Dalam orasinya, massa meminta Bupati HM Harris mencopot jabatan Kepala Dinas Pendidikan yang dinilai telah melecehkan marwah dan para pendiri Kabupaten Pelalawan.
Aksi massa tidak berlanjut ketika dilakukan mediasi dan Kadisdik melakukan permintaan maaf kepada masyarakat kabupaten Pelalawan. Namun permintaan maaf yang sudah dilakukan oleh Kadisdik ternyata tidak membuat luluh hati masyarakat, walaupun kesalahan Kadisdik telah di maafkan.
Tokoh Masyarakat Pelalawan, H Husni Tamrin, SH, Senin (28/11/2016) mengaku sangat kecewa dan perih terasa dihati atas pernyataan Kadisdik yang mengklaim bahwa 80 persen pembangunan sekolah di Pelalawan peninggalan dari Kabupaten Kampar. Dinilai mental pejabat sekelas Kepala Dinas Pendidikan Syafruddin ini, sudah sangat rusak.
Tamrin mengaku sangat kecewa dan sakit hati atas klaim tersebut karena dirinya juga salah satu orang yang terlibat ikut merasakan serta mengawal pembangunan Pelalawan sejak di mekarkan tahun 1999, agar bisa sejajar dengan Kabupaten lain dari sisi upaya percepatan pembangunan sekaligus pemerataannya diseluruh kecamatan. Meski terkadang terseok-seok oleh keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Pemkab. Tapi, tetap diupayakan 20 persen dari total APBD untuk di poskan ke Disdik.
"Sesungguhnya saya sangat kecewa atas ucapan seorang Kepala Dinas Pendidikan Pelalawan tersebut. Tau apa dia tentang Pelalawan ini, apa sumbangsihnya, apa yag telah ia perbuat. Dia datang ke Pelalawan ini hanya tinggal menikmatinya saja, tanpa turut bertungkus-lumus mendirikan Kabupaten ini. Ini kesalahan sangat fatal yang mengusik kedamaian dan ketentraman di negeri ini. Soal maaf memaafkan, sudah barang tentu kita telah maafkan. Namun, akibat perkataannya itu, perihnya tetap terasa hingga kapan pun," ungkap Husni Tamrin, anggota DPRD Provinsi Riau ini.
Politisi Gerindra ini menambahkan, kedepannya dengan kejadian ini, bisa menjadi pelajaran bagi semua pejabat dan tentunya juga menjadi perhatian serius oleh Bupati Pelalawan, agar rekrutmen pejabat strategis dilingkungan Pemdakab di emban oleh orang-orang yang memiliki komitmen tinggi untuk membangun daerah ini.
"Maaf kita terima dan sudah kita maafkan. Tapi, persoalannya tidak habis oleh kata maaf saja, harus ada konsekwensinya," tegas Tamrin.
Untuk itu, mantan anggota DPRD Pelalawan ini meminta kepada Bupati HM Harris supaya tidak lagi memberi kesempatan kembali menjabat di lingkungan pemkab Pelalawan dan lebih baik lagi menurut Tamrin agar pejabat tersebut di pecat sesegera mungkin dari jabatannya sekarang, sebelum menimbulkan polemik lainnya.
Sementara itu, Kadisdik Syafruddin, dikonfirmasi via sambungan telpon selulernya tidak ada jawaban. Pesan singkat dikirim berisi konfirmasi pemberitaan, hanya dijawab "hehehe" oleh Syafruddin. (gfz)
Peristiwa