Travel
Lihat Tari Cakalele Tabaru yang Gunakan Kostum Tradisional Serba Alami
Selasa, 01 Mei 2018 09:09
INDONESIA terkenal dengan budayanya yang beragam. Kesenian hingga tari-tarian hampir dimiliki oleh setiap suku yang bermukim di Tanah Air.
Suku Tabaru salah satunya. Suku yang berada di Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara tersebut, menjadi suku asli Kepulauan Maluku yang masih mempertahankan budaya dan warisan para leluhur. Bagaimana tidak, meskipun zaman telah beralih, tapi para orangtua tetap berhasil mengajarkan anak-anak mereka kebudayaan dan kesenian suku, salah satunya Tari Cakalele Tabaru.
Setiap anak di tiap keluarga telah dikenalkan dan diajarkan Tari
Cakalele, sebagai bentuk pelestarian budaya dan warisan leluhur.
"Tari Cakalele Tabaru sekarang digunakan untuk penyambutan tamu. Tapi, pada zaman dulu tarian ini untuk berperang. Di Festival Teluk Jailolo 2018 Tari Cakalele Tabaru ditampilkan untuk memeriahkan festival dan mengenalkan pada wisatawan yang datang," ujar Andarias Kurai selaku Kepala Desa Tabaru, ketika diwawancarai Okezone, Senin, 30 April 2018, di Festival Teluk Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.
Lebih lanjut Andarias memaparkan, dengan mengenakan celana yang
terbuat dari serat kayu enau, penari Cakalele Tabaru bisa berasal dari
anak-anak atau orang dewasa. Meskipun pada zaman dulu tari Cakalele
Tabaru hanya untuk berperang dan dilakukan orang dewasa, tapi, sekarang
jika ada warga yang hajatan pun bisa ditampilkan.
Sama seperti tarian pada umumnya, Tari Cakalele Tabaru pun memerlukan musik sebagai pengiring gerakan para penari. Musik tersebut terdiri dari beberapa alat musik yang juga tradisional dan asli dari Suku Tabaru.
"Musik yang jadi pengiring Tari Cakalele Tabaru terdiri dari
lianga atau gong, tifa atau gamunu, baboka, cara mainnya yang dipukul
atau ceng-ceng, juga ada gong besar yang disebut lianga amoko," jelas
Arianto, Camat Tabaru.
Sabeba atau celana para penari terbuat dari kulit kayu enau dan tali ganemo. Sedangkan aksesori kepala para penarinya menggunakan ngara-ngara.
"Ngara-ngara ini cuma dipakai orang Tabaru ke tempat sesembahan. Untuk menghormati leluhur mereka mengenakan ngara-ngara yang berasal dari bunga-bunga, sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun," sambung Arianto.
Satu hal yang unik lagi, para penari pun mengenakan sandal yang terbuat dari pohon enau, talinya ganemo. Meskipun dipakai untuk berburu dan di medan berduri, mengenakan sandal yang terbuat dari pelepah kayu, kulit telapak kaki tetap terjaga, duri tidak akan tembus menancap, dan tidak licin.
(okezone.com)
Traveler
Menjaga Warisan Leluhur, Dirjend Perhutanan Sosial Kunjungi Hutan Adat Imbo Putui Kenegerian Petapahan
PETAPAHAN-Pada Minggu, 21 Juni 2026, Hutan Adat Imbo Putui Kenegerian Petapahan menerima kunjungan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Ibu Catur Endah Prasetiani, S.Si., M.T., b
Kapolres Rohil Pimpin Apel Siaga, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla
BALAIJAYA-Kapolres Rokan Hilir AKBP Isa Imam Syahroni, S.I.K., M.H., memimpin Apel Siaga Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bersama PT Salim Ivomas Pratama Tbk dan Pemerintah Kabupaten
PWP Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Tebar Kepedulian bagi Anak-anak Kurang Mampu dan Lansia Dhuafa
PEKANBARU - Persatuan Wanita Patra (PWP) Tingkat Wilayah PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Pertamina Dumai) memaknai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 dengan menghadirkan inisiatif dan k
Petani Rambahan Logas Tanah Darat Kuansing Sukses Sulap Hutan Kemasyarakatan Jadi Sumber ‘Cuan’ Lewat Agroforestri
PEKANBARU - Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Desa Rambahan, Logas Tanah Darat, Kuantan Singingi, Riau terbukti sukses memaksimalkan program Hutan Kemasyarakatan untuk mendongkrak ekonomi warga sete
Pelarian Panjang DPO Sabu 15 Kg Bengkalis Berakhir di Tangan Polisi
BENGKALIS - Pelarian panjang seorang buronan kasus narkotika kelas kakap di Provinsi Riau akhirnya terhenti. Pria berinisial A (48) yang telah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) selama hampir tiga t