Selasa, 23 Jun 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Petani Rambahan Logas Tanah Darat Kuansing Sukses Sulap Hutan Kemasyarakatan Jadi Sumber ‘Cuan’ Lewat Agroforestri

Petani Rambahan Logas Tanah Darat Kuansing Sukses Sulap Hutan Kemasyarakatan Jadi Sumber ‘Cuan’ Lewat Agroforestri

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 23 Jun 2026 15:30
PEKANBARU - Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Desa Rambahan, Logas Tanah Darat, Kuantan Singingi, Riau terbukti sukses memaksimalkan program Hutan Kemasyarakatan untuk mendongkrak ekonomi warga setempat. Program perhutanan ini berhasil “mengawinkan” konsep pemberdayaan kesejahteraan warga dengan tetap berkomitmen teguh menjaga kelestarian lingkungan dan satwa liar.

Inisiatif pengelolaan kawasan hutan tersebut secara langsung dikomandoi oleh kelompok warga lokal yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan desa. Mereka memilih untuk memberdayakan ketersediaan lahan agar memberikan dampak ekonomi yang nyata, tanpa harus merusak ekosistem alam.


Ketua Hutan Kemasyarakatan Rambahan, Rizal mulai memimpin program ini sejak tahun 2022 silam mengatakan, upaya ini membuahkan hasil positif berkat sinergi dan kekompakan yang terbangun erat antaranggota kelompok tani.

"Kami terus berupaya agar hutan ini tidak hanya lestari secara ekologi, tetapi juga bisa memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat," ujar Ketua Hutan Kemasyarakatan, Rizal, Selasa (23/6/2026)..


Langkah Rizal dalam mengelola kawasan turut didukung penuh oleh pemuda setempat. Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial, Wendry yang merupakan lulusan kehutanan dari Universitas Lancang Kuning memilih menetap untuk membangun potensi ekonomi tanah kelahirannya.

Keberhasilan program perhutanan sosial di Rambahan tidak lepas dari intervensi positif pihak swasta dan lembaga pendamping. APRIL bersama PT Nusa Prima Manunggal hadir memberikan dukungan pendanaan yang menjadi bahan bakar utama jalannya program.


Selain sokongan dana segar, kelompok masyarakat juga menerima pendampingan lapangan serta pelatihan intensif dari lembaga eksternal bernama recognisi etisi. Bantuan pelatihan dari pihak luar ini terbukti ampuh meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola lahan secara modern dan terukur.

Secara keseluruhan, luasan lahan Hutan Kemasyarakatan di desa tersebut menyentuh angka 350 hektare. Dari total bentangan luasan itu, masyarakat mendedikasikan lahan seluas 5,7 hektare khusus untuk digarap sebagai area agroforestri terpadu.


Program berskala desa ini mencakup 175 kepala keluarga sebagai penerima manfaat utama secara keseluruhan. Khusus untuk kelompok pengelola lahan agroforestri, terdapat 17 anggota aktif yang terjun langsung merawat kebun setiap harinya.

Seluruh anggota kelompok pengelola murni merupakan warga asli Desa Rambahan yang rata-rata berprofesi sebagai petani karet dan kelapa sawit. Transisi menuju sistem agroforestri memberikan secercah harapan baru bagi peningkatan pendapatan harian rumah tangga mereka.

Hasil panen dari lahan agroforestri saat ini tidak langsung dibagi secara sembarangan kepada para anggota kelompok. Keuntungan hasil bumi dikelola secara rapi dengan disimpan ke dalam rekening bersama dan menggunakan sistem bagi hasil yang adil.


Program penanaman pola terpadu ini sejatinya sudah berjalan hampir tiga tahun sejak pertama kali dirintis sekitar tahun 2023. Kelompok tani menerapkan strategi cerdas dengan membagi jenis tanaman berdasarkan rentang masa panen yang berbeda.

Untuk proyeksi tabungan jangka panjang, lahan ditanami aneka ragam bibit unggul buah-buahan dari Trubus, seperti durian, mangga, jengkol, rambutan, petai, dan nangka. Saat ini, tanaman pohon nangka sudah mulai berbuah dan masuk masa panen perdana.

"Kami sengaja memadukan tanaman buah berumur panjang dengan tanaman semusim agar ada kepastian pendapatan harian sambil menunggu pohon utama panen," terang pria lulusan Universitas Lancang Kuning tersebut.

Strategi merawat tanaman jangka menengah dan pendek difokuskan pada sektor hortikultura. Pengelola menyiasati lahan kosong dengan menanam kacang tanah, jagung, serta cabai.


Sebagai catatan panen kelompok menunjukkan angka yang sangat memuaskan, di mana komoditas kacang tanah pernah menembus angka panen hingga sekitar 200 kilogram. Uji coba cabai pada delapan bedengan sepanjang lima meter bahkan sukses meraup untung Rp2.000.000 tepat di puncak musim kemarau.

Serapan pasar lokal di tingkat kecamatan ternyata merespons sangat tinggi terhadap hasil panen jagung dan kacang mentah dari kelompok ini. Seluruh hasil bumi segar tersebut selalu laris manis dan habis terjual.

Melihat tingginya antusiasme pasar lokal, pengelola merencanakan kegiatan studi banding ke Sumatera Barat dalam waktu dekat. Perjalanan ini bertujuan mempelajari teknik pengolahan produk turunan bernilai jual tinggi, seperti rendang kacang dan keripik nangka.


Perjalanan mengelola agroforestri berkonsep lestari ini tentu tidak melulu berjalan mulus tanpa hambatan di lapangan. Konflik dengan satwa liar, khususnya kawanan beruk dan babi hutan, menjadi tantangan terbesar karena kerap memakan hasil panen warga, terutama kacang tanah.

"Kami memegang teguh prinsip pelestarian dari awal, sehingga satwa liar yang memakan hasil panen pantang untuk disakiti apalagi dibunuh," urainya.

Menjadi petani agroforestri memang menuntut kehadiran dan pekerjaan harian yang jauh lebih intensif dibandingkan rutinitas merawat kebun kelapa sawit. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat warga untuk terus membesarkan program ini.

Berdasarkan analisis usaha, saat seluruh tanaman jangka panjang berbuah secara maksimal, penghasilan kelompok diyakini akan melesat tinggi. Potensi pendapatan dari agroforestri diyakini bakal melampaui pendapatan konvensional dari kebun sawit maupun karet, sehingga masyarakat terus termotivasi untuk bertahan mengelola perhutanan sosial. (goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/petani-rambahan-logas-tanah-darat-kuansing-sukses-sulap-hutan-kemasyarakatan-jadi-sumber-cuan-lewat-agroforestri.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.