Rabu, 29 Jul 2026
Ekbis
'Bukan Cari Kaya, Cuma Ingin Bertahan Hidup', Keluh PKL Stadion Utama Riau
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 28 Jul 2026 16:45
PEKANBARU - Enam hari pascapenertiban puluhan lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Stadion Utama Riau, Jalan Naga Sakti oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru, bangunan permanen di lokasi tersebut memang telah tiada. Namun, perjuangan para pedagang kecil untuk menyambung hidup di tengah aturan penataan yang baru justru semakin berat.
Pemkot Pekanbaru saat ini mewajibkan pedagang berjualan dengan sistem lapak bongkar pasang tanpa meninggalkan barang apa pun usai beroperasi. Meski sebagian mematuhi, pantauan GoRiau.com pada Selasa (28/7/2026) mendapati sejumlah oknum pedagang yang terpaksa meninggalkan meja, etalase, dan perlengkapan di lokasi, sekadar ditutupi terpal agar terhindar dari panas dan hujan.
Bagi Nia, seorang pedagang yang meneruskan usaha orang tuanya, aturan tersebut menghadirkan beban logistik harian. Setiap hari, ia harus mengangkut perlengkapan dagangan bolak-balik dari rumah ke stadion.
"Baru kali ini sampai sedrastis ini. Selama saya jualan di sini, baru sekarang benar-benar tidak boleh menggunakan tenda permanen," keluhnya.
Perempuan yang menggantungkan hidup dari berjualan di area stadion itu mengaku masih mengingat jelas saat alat berat merobohkan lapaknya pada Rabu (22/7/2026) lalu, bertepatan dengan momentum anaknya memasuki tahun ajaran baru sekolah.
"Cukup sedih sebenarnya. Banyak pikiran. Anak baru mulai sekolah, urusan di sini belum selesai. Benar-benar berpengaruh besar buat kami," tuturnya pilu.
Nia menegaskan bahwa dirinya tidak menolak kebijakan penataan kawasan yang telah disosialisasikan pemerintah. Persoalannya terletak pada minimnya sarana bagi pedagang kecil untuk menyesuaikan diri dengan sistem bongkar pasang harian.
"Yang susah itu tidak semua pedagang punya kendaraan untuk angkut barang. Kami ini bukan cari kaya, cuma cari kebutuhan harian," ungkapnya.
Keterbatasan fasilitas memaksanya mengangkut meja dan barang dagangan menggunakan sepeda motor dari rumahnya di Jalan Uka. Rutinitas bongkar muat ini sangat menguras waktu. Berangkat berjualan pukul 09.00 WIB, ia kerap baru tiba kembali di rumah menjelang pukul 03.00 dini hari usai membereskan semua barangnya sendirian.
"Pulang bisa jam tiga pagi baru sampai rumah. Jam enam sudah bangun lagi buat antar anak sekolah. Tidur paling dua sampai tiga jam," kisahnya.
Perubahan pola jualan ini langsung menghantam stabilitas pendapatannya. Kapasitas angkut sepeda motor yang terbatas membuatnya tak bisa membawa barang sebanyak dulu. Di saat yang sama, ia menduga masyarakat masih ragu berkunjung ke stadion pascapenertiban.
"Hampir 60 persen turun (omzetnya). Biasanya barang yang dibawa banyak. Sekarang ala kadarnya saja, semampunya kami angkut pakai motor," tambahnya.
Meskipun berat, Nia hanya menaruh satu harapan kepada pemerintah agar tidak sekadar menertibkan, tetapi juga segera merealisasikan solusi yang meringankan beban pedagang, termasuk kejelasan soal rencana penyediaan tenda seragam.
"Kalau memang ditata, kami ikut. Tapi tolong pikirkan juga kami yang tidak punya kendaraan untuk angkut barang setiap hari. Jangan hanya pembongkaran, tapi kasih juga solusinya. Sampai sekarang belum ada kabar (soal tenda). Kami belum tahu seperti apa solusinya," harapnya.
Menanggapi dinamika di lapangan, Kepala Satpol PP Kota Pekanbaru, Desheriyanto menegaskan bahwa pemerintah sama sekali tidak melarang masyarakat mencari nafkah, asalkan aturan tata ruang ditaati oleh semua pihak.
"Kami mengarahkan agar berjualan tidak dengan membuat tenda-tenda yang permanen seperti yang sudah dibongkar dan tidak ada meninggalkan barang apa pun di lokasi tersebut," tegasnya.
Ia memastikan patroli pengawasan akan terus diintensifkan. Apabila petugas masih menemukan meja, etalase, atau perlengkapan dagang yang ditinggalkan, tindakan tegas siap kembali diberlakukan.
"Sebaiknya tidak ditinggalkan. Karena bila kami patroli ke sana akan tetap kami tertibkan lagi,"(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/bukan-cari-kaya-cuma-ingin-bertahan-hidup-keluh-pkl-stadion-utama-riau.html
komentar Pembaca