Berita satu.com
Maraknya beras oplosan di pasaran membuat banyak konsumen waswas. Praktik curang ini mencampurkan beras premium dengan beras kualitas rendah, beras lama, atau bahkan beras subsidi, demi mengejar keuntungan besar.
Sayangnya, konsumen menjadi korban karena berisiko mendapatkan produk yang tidak layak konsumsi dan menimbulkan gangguan kesehatan. Lantas, bagaimana cara mengenali beras oplosan?
Mengapa Beras Oplosan Merugikan?
Kementerian Pertanian (Kementan) menemukan setidaknya 212 merek beras tidak memenuhi standar mutu. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa praktik pengoplosan ini merugikan petani, pedagang, dan terutama konsumen.
“Kami akan menindak tegas praktik seperti ini. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap petani, konsumen, dan juga semangat swasembada pangan,” kata Mentan Amran.
Ia menyebut bahwa beras yang dioplos tidak hanya menurunkan kualitas pangan, tapi juga merusak tata niaga nasional yang seharusnya adil dan transparan.
Selain itu, Mentan menekankan pentingnya registrasi produk beras, sebagaimana diatur dalam Permentan Nomor 53 Tahun 2018 tentang Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).
Tanpa registrasi resmi, pelaku usaha dapat dikenai sanksi administratif hingga pidana, karena dianggap tidak menjamin keamanan dan mutu produknya.
Ciri-ciri Beras Oplosan yang Mudah Dikenali
Dilansir dari laman IPB University, Pakar Teknologi Industri Pertanian IPB University Prof Tajuddin Bantacut memberikan bocoran ciri-ciri beras oplosan agar tidak tertipu.
Konsumen perlu mengenali beberapa tanda beras oplosan yang bisa dilihat dan dirasakan langsung. Berikut penjelasan lengkap berdasarkan temuan pakar dan data lapangan:
1. Warna tidak seragam
Dalam satu kemasan, tampak butiran beras berwarna putih cerah bercampur kusam atau kekuningan. Ini menandakan adanya pencampuran dari berbagai jenis atau kualitas beras.
Prof Tajuddin Bantacut menyebut bahwa warna tak seragam ini biasanya muncul dari percampuran antara beras baru dan beras lama, atau antara varietas berbeda yang kualitasnya tidak seimbang.
2. Ukuran butiran tidak sama
Beras asli biasanya memiliki butiran seragam karena berasal dari satu jenis varietas. Sebaliknya, beras oplosan menunjukkan variasi ukuran, dari kecil ke besar, atau panjang dan pendek.
Ini menjadi indikasi kuat bahwa beras tersebut berasal dari sisa stok atau beras kualitas rendah yang dicampur tanpa standar.
3. Aroma mencurigakan
Beras oplosan sering mengeluarkan bau apek, menyengat, atau seperti bahan kimia. Ini menandakan bahwa beras sudah lama disimpan, rusak, atau dicampur zat tambahan.
Aroma kimiawi bisa menjadi tanda penggunaan zat pemutih atau pengawet yang tidak diperbolehkan untuk konsumsi manusia.
4. Nasi lembek setelah dimasak
Setelah dimasak, nasi dari beras oplosan biasanya tidak pulen atau tanak seperti nasi dari beras berkualitas.
Teksturnya cenderung lembek, cepat basi, atau terlalu lengket. Hal ini terjadi karena kadar pati di dalam beras tidak stabil, akibat campuran dari berbagai jenis beras.
5. Terdapat benda asing saat dicuci
Saat mencuci beras, amati apakah ada partikel asing seperti serpihan plastik, serbuk putih, atau kotoran lain yang mengambang di permukaan air.
Ini bisa menunjukkan bahwa beras telah terkontaminasi atau telah dicampur dengan bahan tambahan yang tidak wajar.
6. Bau kimiawi
Kadang beras oplosan diberi pemutih atau pengawet agar tampak menarik. Bau yang menyengat atau tidak alami menjadi peringatan penting.
Bau tersebut bisa menunjukkan adanya bahan kimia sintetis yang berbahaya jika dikonsumsi secara terus-menerus.
Jenis-jenis Beras Oplosan
Prof Tajuddin mengelompokkan beberapa jenis beras oplosan berdasarkan praktik di lapangan. Konsumen perlu mewaspadai jenis-jenis ini karena bisa menurunkan mutu pangan dan membahayakan kesehatan:
1. Campuran dengan bahan lain
Praktik ini umum terjadi untuk menekan biaya produksi. Beras dicampur dengan jagung pipil atau bahan lain seperti dedak.
Meski kadang sesuai kebiasaan lokal, jika dilakukan tanpa informasi pada label, maka ini termasuk penipuan terhadap konsumen.
2. Beras blended
Jenis ini mencampurkan dua atau lebih varietas beras, misalnya beras premium dicampur dengan beras murah agar tampilannya menarik.
Jika tidak ada keterangan komposisi yang jelas pada kemasan, ini juga termasuk pelanggaran etik dan hukum.
3. Beras rusak yang dikilapkan
Jenis oplosan paling berbahaya. Beras yang sudah rusak karena jamur, lama disimpan, atau kelembapan tinggi diproses ulang agar tampak seperti baru. Biasanya ditambahkan bahan pemutih atau pengawet yang tidak aman untuk konsumsi.
Bahaya Konsumsi Beras Oplosan
Mengonsumsi beras oplosan secara rutin dapat berdampak buruk bagi kesehatan:
Mengandung zat kimia berbahaya, seperti pemutih, pengawet, atau pewangi sintetis yang tidak cocok untuk konsumsi manusia.
Menurunkan daya tahan tubuh, serta mengganggu sistem pencernaan karena adanya jamur atau mikroorganisme yang berkembang dalam beras rusak.
Berpotensi menyebabkan kerusakan hati dan ginjal jika dikonsumsi jangka panjang, terutama karena akumulasi zat toksik dari bahan tambahan berbahaya.
Kehadiran beras oplosan di pasaran menuntut konsumen untuk lebih teliti dalam memilih. Mengenali ciri-cirinya, memahami bahayanya, serta menerapkan langkah pencegahan bisa menjadi cara sederhana namun efektif untuk melindungi diri dan keluarga.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Ekbis