Kamis, 25 Jun 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Krisis Energi dan Ekonomi Bayang-Bayangi Israel dalam Dua Dekade Mendatang

Ekonomi,

Krisis Energi dan Ekonomi Bayang-Bayangi Israel dalam Dua Dekade Mendatang

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Kamis, 25 Jun 2026 16:48
Pengawas Negara Israel, Matanyahu Englman, memperingatkan bahwa Israel berisiko kehilangan kemandirian energi dalam dua dekade ke depan.

Jika tingkat konsumsi saat ini terus berlanjut, negara itu kemungkinan akan terpaksa mengimpor gas alam dalam sekitar 22 tahun mendatang akibat menipisnya cadangan yang tersedia.

Menurut laporan lembaga pengawas tersebut yang dirilis pada Rabu (25/6/2026) dan dikutip oleh Otoritas Penyiaran Israel, dilansir Aljazeera, cadangan gas yang telah ditemukan saat ini mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik di masa depan.

Kondisi ini terjadi di tengah berlanjutnya ekspor sebagian besar produksi gas Israel ke luar negeri. Laporan itu menyebutkan bahwa sekitar 49 persen produksi gas alam Israel pada tahun 2024 diekspor ke Mesir dan Yordania.

Pengawas Negara mengkritik pemerintah karena tidak meningkatkan alokasi gas untuk pasar domestik, meskipun cadangan yang ditemukan terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.

Gas alam saat ini menyumbang sekitar 70 persen produksi listrik Israel. Namun, Kementerian Energi Israel dinilai belum memiliki kebijakan jangka panjang untuk menjamin kebutuhan pasar lokal.

Selain itu, belum tersedia rencana komprehensif bagi sektor energi maupun fasilitas penyimpanan gas yang memadai.

Laporan tersebut mendesak pemerintah Israel untuk segera menyelesaikan strategi keamanan energi nasional guna memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi di masa mendatang serta mempersiapkan diri menghadapi penurunan cadangan gas yang ada saat ini.

Pengawas Negara juga memperingatkan bahwa Israel belum siap menghadapi penutupan kilang minyak di Teluk Haifa yang diperkirakan terjadi pada tahun 2030.

Penutupan tersebut berpotensi meningkatkan ketergantungan negara terhadap impor gas minyak cair (LPG) atau gas untuk kebutuhan memasak.

Saat ini, sekitar 63 persen kebutuhan gas memasak diproduksi di dalam negeri. Namun, setelah penutupan kilang, angka tersebut diperkirakan akan turun drastis sehingga porsi impor dapat mencapai sekitar 82 persen dari total kebutuhan nasional.

Laporan itu juga menyoroti keterlambatan pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk impor dan penyimpanan energi.

Saat ini, Israel hanya memiliki satu terminal lepas pantai untuk mengimpor gas memasak, sementara cadangan yang tersedia hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama tiga hari pada musim dingin.

Kerugian ekonomi yang besar

Selain itu, laporan Pengawas Negara mengungkap adanya keterlambatan signifikan dalam pengoperasian unit 70 dan 80 di Pembangkit Listrik Orot Rabin yang terletak di wilayah Hadera, Israel bagian barat.

Kedua unit tersebut mengalami keterlambatan sekitar tiga tahun dibandingkan jadwal yang telah direncanakan.

Kerugian ekonomi akibat keterlambatan tersebut diperkirakan mencapai sedikitnya 4,6 miliar shekel (sekitar 1,35 miliar dolar AS).

Kerugian itu mencakup meningkatnya biaya produksi listrik, dampak lingkungan, serta membengkaknya biaya proyek.

Biaya total proyek juga melonjak hingga sekitar 4 miliar shekel (sekitar 1,17 miliar dolar AS), dengan tambahan biaya pendanaan sebesar 278 juta shekel (sekitar 81,5 juta dolar AS) di atas perencanaan awal.

Laporan ini memicu kritik dari berbagai organisasi lingkungan hidup. Mereka menilai bahwa kebijakan ekspor gas yang terus dilakukan sebelum kebutuhan pasar domestik ditetapkan secara jelas dapat mengancam keamanan energi Israel di masa depan, terutama dengan proyeksi meningkatnya permintaan energi akibat ekspansi pusat data (data center) dan dampak perubahan iklim.(cakaplah)
Sumber: https://www.cakaplah.com/berita/baca/137416/2026/06/25/krisis-energi-dan-ekonomi-bayangbayangi-israel-dalam-dua-dekade-mendatang/#sthash.Y2iMI0cx.dpbs

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.