- Home
- Internasional
- Maduro Kembali Jadi Presiden Venezuela, Negara Tetangga Putus Hubungan Diplomatik
Internasional
Maduro Kembali Jadi Presiden Venezuela, Negara Tetangga Putus Hubungan Diplomatik
Jumat, 11 Jan 2019 08:38
VENEZUELA - Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilantik untuk menjalani masa jabatannya yang kedua di tengah seruan berbagai negara agar dia mengundurkan diri.
Maduro dilantik di Mahkamah Agung, bukan di hadapan para anggota parlemen, yang kewenangannya dilucuti sejak partai pimpinannnya kalah pada 2016.
Dalam pidatonya, Maduro mengatakan masa jabatannya selama enam tahun ke depan merupakan langkah perdamaian bagi Venezuela.
Dia juga menegaskan bahwa dirinya terpilih secara demokratis seraya menuding Amerika Serikat telah melancarkan perang ekonomi terhadap Venezuela.
"Venezuela berada di pusat perang dunia pimpinan imperialisme Amerika Serikat dan negara-negara satelitnya," sebut pria berusia 56 tahun itu.
"Ada masalah-masalah di Venezuela, seperti halnya di negara lain. Namun kami, rakyat Venezuela, harus mengatasinya tanpa intervensi asing," imbuhnya.
AS, Uni Eropa, dan sejumlah negara lain yang tergabung dalam Organisasi Negara-Negara Benua Amerika (OAS) menolak masa jabatan kedua Maduro dengan alasan pemilihan Mei 2018 lalu tidak berlangsung jujur dan adil.
"AS tidak akan mengakui pelantikan kediktatoran Maduro yang tidak sah," cuit penasihat keamanan nasional, John Bolton.
"Kami akan terus meningkatkan tekanan terhadap rezim korup, mendukung Majelis Nasional yang demokratis, dan menyerukan demokrasi dan kebebasan di Venezuela," tulis Bolton.
Kecaman juga dilayangkan Kelompok Lima yang terdiri dari 14 negara yang mayoritas berada di Amerika Selatan. Kecuali Meksiko, negara-negara tersebut mendesak Maduro mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan ke parlemen.
Bahkan, sesaat setelah Maduro dilantik, Paraguay mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Venezuela dan memanggil pulang para diplomatnya.
Namun tidak semua menolak Maduro. Sejumlah pemimpin berhaluan kiri hadir dalam acara pelantikan tersebut.
Di antaranya Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel; Presiden Bolivia, Evo Morales; Presiden El Salvador, Salvador Sanchez Ceren; dan Presiden Nikaragua, Daniel Ortega. Ada pula utusan Rusia, Cina, dan Turki.
Mengapa terpilihnya Maduro kontroversial?
Maduro pertama kali mejabat presiden Venezuela pada 2013, menggantikan Hugo Chavez yang meninggal dunia akibat kanker setelah berkuasa selama 14 tahun.
Dia terpilih kembali pada Mei 2018, dalam pemilihan umum yang semula dirancang berlangsung pada Desember. Namun, pemilu tersebut diwarnai pemboikotan oleh oposisi serta tuduhan kecurangan.
Menurut Dewan Pemilihan Nasional (CNE), pemilih yang turut berpartisipasi mencapai 46%, namun kelompok oposisi menuding persentasenya lebih rendah.
Koalisi oposisi utama Venezuela mengatakan tanggal pemilu sengaja diubah guna memanfaatkan kebingungan kelompok-kelompok oposisi.
Oposisi juga menuduh bahwa kandidat-kandidat mereka yang menjanjikan telah dilarang ikut pemilu, dipenjara, dan banyak pula yang kabur dari Venezuela.
Mengapa pemerintah Venezuela dikritik?
Sejak menjabat sebagai presiden, Maduro dikecam di dalam negeri dan mancanegara terkait tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan aksinya dalam menangani ekonomi yang membuat negara hampir kolaps.
Venezuela merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan menduduki kursi kepemimpinan OPEC hingga 2025.
Namun, ketergantungan pada minyak (95% pendapatan ekspor), membuat Venezuela rapuh ketika harga minyak merosot pada 2014.
Akibatnya, harga barang impor, seperti pangan dan obat-obatan, naik drastis dan inflasi mata uang meroket.
Dalam kondisi seperti ini pemerintah justru mencetak uang lebih banyak sehingga mata uang semaknin terdevaluasi.
Berdasarkan kajian Majelis Nasional yang dikuasai oposisi, taraf inflasi tahunan Venezuela mencapai 1.300.000% selama 12 bulan pada November 2018.
AS juga menerapkan rangkaian sanksi, yang diklaim Maduro menyebabkan Venezuela kehilangan US$20 miliar tahun lalu.
PBB mengatakan sebanyak 2,3 juta orang Venezuela telah meninggalkan negara itu sejak 2015 akibat kesulitan ekonomi.
Huru-hara antipemerintah pada 2014 menewaskan 43 orang dan pada 2017 jumlah korban meninggal dunia dalam kericuhan mencapai 125 orang.
Maduro menuduh AS berusaha membunuhnya dan melengserkan
pemerintahannya, namun dia tidak mengungkap bukti-bukti atas tuduhan
tersebut.
(okezone.com)
Internasional
Kodim 1714/Puncak Jaya Bersinergi dengan Polri dan Pemda Musnahkan Miras Ilegal
Puncak Jaya-Kodim 1714/Puncak Jaya Bersinergi dengan Polri dan Pemda melaksanakan pemusnahan barang bukti Minuman Keras (Miras) ilegal hasil sitaan, bertempat di Lapangan Alun-Alun Roh Kudus, Distrik
Wakil Panglima TNI Tinjau Pembangunan Yonif TP 936/Satria Joyokusumo dan Situs Bersejarah di Jawa Tengah
Magelang-Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R bersama Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa melaksanakan peninjauan rehabilitasi dan pembangunan sejumla
Krisis Energi dan Ekonomi Bayang-Bayangi Israel dalam Dua Dekade Mendatang
Pengawas Negara Israel, Matanyahu Englman, memperingatkan bahwa Israel berisiko kehilangan kemandirian energi dalam dua dekade ke depan.Jika tingkat konsumsi saat ini terus berlanjut, negara itu kemun
Soal Pengangkatan Tenaga Ahli oleh Kepala Daerah, Ini Kata Prof Djohermansyah
PEKANBARU-Pakar Otonomi Daerah Prof Djohermansyah Djohan menilai pengangkatan tenaga ahli oleh kepala daerah merupakan hal yang lumrah. Hal itu juga menjadi kewenangan kepala daerah dalam menjalankan
Prabowo Respons Kritik Makan Bergizi Gratis Minta Penolak Turun Langsung Jumpai Masyarakat
JAKARTA - Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026) diwarnai aksi antusias peserta yang membentangkan spanduk